Berita Ogan Ilir

Tak Satu pun Truk Batubara Melintas, Warga Ogan Ilir Sambut Baik Penghentian Operasional Batubara

Satu hari pasca dicabutnya Peraturan Gubernur (Pergub) nomor 23 tahun 2012 tentang tata cara pengangkutan batubara di jalan umum

Tak Satu pun Truk Batubara Melintas, Warga Ogan Ilir Sambut Baik Penghentian Operasional Batubara
SRIPOKU.COM/BERI SUPRIYADI
Kondisi arus lalulintas di Jalinsum Indralaya-Prabumulih tepatnya di kilometer 32 Timbangan Indralaya tampak lengang tanpa terlihat satu truk batubara yang melintas. 

Laporan wartawan Sripoku.com, Beri Supriyadi

SRIPOKU.COM, INDRALAYA-- Satu hari pasca dicabutnya Peraturan Gubernur (Pergub) nomor 23 tahun 2012 tentang tata cara pengangkutan batubara di jalan umum oleh Gubernur Sumsel H Herman Deru, terpantau Jumat pagi (9/11) pukul 08.00 tak terlihat satu pun truk-truk angkutan batubara melintasi jalan umum, tepatnya di Jalinsum km 32 Timbangan Indralaya Kabupaten Ogan Ilir (OI).

Bila dibandingkan pada hari-hari biasa, setiap pagi dan sore menjelang malam hari hampir selalu terlihat truk batubara melintas dengan cara konvoi.

Kebijakan Gubernur Sumsel tentu saja membuat masyarakat setempat khususnya para pengguna jalan raya baik kendaraan roda empat maupun roda dua menyambut baik. Karena sudah sekian lama warga mengeluh terhadap operasional truk batubara.

Selain menimbulkan kemacetan arus lalulintas di jalan umum, keberadaan truk-truk angkutan batubara pun sering membahayakan para pengguna jalan raya.

"Kalau lagi muatan kosong, sopir truk-truk batubara pun sering ugal-ugalan di jalan raya, apalagi sopir yang masih usia muda. Mereka terkadang tidak menghiraukan kendaraan-kendaraan lain yang melintas bersamaan," ujar Man (45) salah satu pengguna jalan raya yang biasa pulang pergi Palembang-Indralaya.

Ia menyatakan, dengan telah dicabutnya Pergub No 23 tahun 2012 oleh Gubernur Sumsel, tentu warga sangat menyambut baik. "Otomatis, jalan umum tidak lagi ramai terlihat truk angkutan batubara yang sewaktu-waktu dapat mengancam nyawa keselamatan pengendara," ujar Man yang kesehariannya berprofesi sebagai sopir truk ekspedisi.

Senada diungkapkan Yadi (40), pengendara sepeda motor juga mengaku senang dengan tidak lagi melintas truk-truk angkutan batubara di jalan umum.

Karena selama ini ia merasa gerah dengan ulah sopir truk batubara yang ugal-ugalan. "Saya pernah nyaris ditabrak truk batubara dari arah belakang. Untuk saja, saya cepat-cepat menghindar dengan cara banting setir keikiri trotoar jalan raya," seingat Yadi waktu itu.

Sementara diketahui, terhitung mulai 8 November 2018 jalan umum di Sumsel dipastikan steril dari angkutan truk batubara. Kepastian itu diungkapkan Gubernur Sumsel Herman Deru (HD) melalui Sekda Sumsel Nasrun Umar, saat jumpa pers di Ruang Rapat Bina Praja Selasa (6/11/2018) siang.

"Dengan segala pertimbangan matang, Pergub 23 tahun 2012 tentang tata cara pengangkutan batubara di jalan umum dicabut terhitung 8 November 2018 mulai pukul 00.00 wib. Jadi mulai 8 November tidak ada lagi truk batubara di jalan umum," tegas Nasrun.

Nasrun mengatakan, kebijakan itu diambil terkait banyaknya masukan dan aspirasi masyarakat yang berada di sekitar jalan yang dilalui truk batubara.

Dengan dicabutnya Pergub tersebut artinya tata cara pengangkutan batubara kembali ke Perda Nomor 5 tahun 2011 yakni pengangkutan batubara dilakukan melalui jalur khusus batubara.

"Sebagaimana diucapkan pak gubernur ini sesuai visi misi nya membawa Sumsel maju untuk semua. Makanya semua akan diwujudkan dalam bentuk nyata sejak 1 hari dilantik," ujarnya.

====

Baca: Jadi Duda Kaya, Beredar Video Sule Makan Sendiri Saat Pulang Kerja, Lauk di Meja Makan jadi Sorotan

Baca: Dua Bulan Melahirkan Bella Shofie Blak-blakan Ungkap Kisah Hidup Setahun Lalu, Sempat Hamil Anak Ini

Penulis: Beri Supriyadi
Editor: pairat
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved