Berita Daerah

Seismograf Dempo Sering Rusak , Wako Dinas Terkait Anggarkan Alat Baru

bahwa kabar ada salah satu alat pemancar yang terletak di puncak merapi mengalami kerusakan dan di duga kerusakan dilakukan oleh pendaki

Seismograf Dempo Sering Rusak , Wako Dinas Terkait Anggarkan Alat Baru
SRIPO/WAWAN SEPTIAWAN
Walikota Pagaralam, Alpian Maskoni memdatangi kantor Pos Pemantau GAD untuk melihat kondisi alat Siesmograf yang merupakan alat pemantau aktivitas GAD, Senin (5/11/2018).

Laporan wartawan Sripoku.com, Wawan  Septiawan

SRIPOKU.COM, PAGARALAM - Mendapat kabar bahwa alat pemantau aktivitas Gunung Api Dempo (GAD) yaitu Siesmograf yang ada di kantor Pos Pemantau GAD sering mengalami kerusakan. Walikota Pagaralam, Alpian Maskoni langsung mendatangi kantor Pos Pemantau GAD tersebut.

Wako mendatangi pusat informasi status GAD tersebut untuk memastikan jika saat ini alat Siesmograf masih rusak atau sudah kembali berfungsi. Pasalnya jika alat tersebut rusak maka semua aktivitas GAD tidak bisa terpantau. Ditambah saat ini status GAD masih berada dilevel II yaitu Waspada.

Walikota Pagaralam, Alpian Maskoni mengatakan, dirinya sengaja melihat kondisi alat-alat yang ada dan berdasarkan keterangan petugas pemantau memang alat tersebut sudah tua atau uzur sehingga memang layak untuk diganti.

"Saya hanya ingin memastikan, bahwa kabar ada salah satu alat pemancar yang terletak di puncak merapi mengalami kerusakan dan di duga kerusakan dilakukan oleh pendaki," ujarnya.

Namun alat tersebut sudah dapat diperbaiki oleh petugas Pos Pemantau. Kedepanya Pemkot Pagaralam akan mencoba menganggarkan pengadaan alat tersebut agar bisa digunakan untuk memantau GAD.

"Kedepan Pemkot melalui dinas terkait dapat menganggarkan alat tersebut. Pasalnya alat ini sangat penting, karena semua aktivitas GAD hanya bisa dipantau oleh alat ini termasuk jika ada gejala awal akan ada aktivitas letusan. Jadi alatnya harus dalam kondisi baik terus," katanya.

Terkait kerusakan alat pemancar yang diduga dirusak oleh pendaki, Wako berharap agar hal ini terus di sosialisasikan oleh pihak terkait. Bahkan jika perlu pakai bahasa yang mudah dimengerti oleh pendaki agar mereka tidak merusak alat tersebut.

"Saya minta kepada dinas terkait, baik itu Dinas Pariwisata dan BPBD untuk lebih kreatif di pintu pendakian. Setiap pendaki sebelum mendaki dikasih formulir atau mengisi data diri sehingga pendaki yang melakukan pendakian terdata dengan baik. Bahkan jika ada kejadian apapun diatas akan lebih mudah mengetahui sumbernya," harapnya.(one)

====

Penulis: Wawan Septiawan
Editor: Budi Darmawan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved