Berita Palembang

Berita Palembang: Pengamat Politik Joko Siswanto Sebut Kampanye Blusukan Dianggap Lebih Efektif

Memasuki tahun Politik pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) yang akan dilakukan serentak April 2019

Berita Palembang: Pengamat Politik Joko Siswanto Sebut Kampanye Blusukan Dianggap Lebih Efektif
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Joko Siswanto 

Laporan wartawan Sripoku.com, Rangga Erfizal

SRIPOKU.COM, PALEMBANG-- Memasuki tahun Politik pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) yang akan dilakukan serentak April 2019 mendatang membuat para kontestan bersiap melakukan berbagai gaya kampanye.

Mulai dari blusukan ke pasar, terminal, hingga tempat-tempat yang tidak terjangkau rela dilakukan.Berbagai gaya kompanye tersebut merupakan hal yang biasa, sebagai salah satu cara mendulang suara.

Menurut Pengamat Politik yang juga Rektor Universitas Taman Siswa Palembang, Drs H Joko Siswanto MSi, gaya berpolitik blusukan hingga saat ini masih menjadi tren di kalangan politisi. Selain dianggap sebagai cara untuk mengerti langsung mengenai problematika yang ada.

"Setiap Paslon yang akan maju menggunakan model kampanye langsung turun ke lapangan face to face (bertatap muka) memiliki harapan lebih besar ketimbang mengadakan kampanye Akbar, pasang baliho atau stiker. Sebab ketika Paslon turun langsung ke lapangan akan menonjolkan kesan perhatian kepada publik yang ditemui," ujarnya kepada Sripoku.com, Kamis (1/11/2018).

Baca: Pelatih Persib Mario Gomez: Ingin Kota Bandung Jadi Lautan Biru Saat Liga 1 2018 Berakhir

Baca: Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi CPNS Wilayah Kabupaten Pali, Download Disini

Meskipun, kampanye blusukan belum tentu dapat memastikan hasil akhir. Menurut Joko Siswanto, cara blusukan memiliki keefektifan dalam kampanye berbeda dengan gaya kampanye lainnya.

"Umumnya yang didatangi oleh paslon itu kondisi suatu tempat yang belum baik. Tempat-tempat yang belum tersentuh pembangunan, pasar-pasar, kampung nelayan, perkampungan kumuh, stasiun dan terminal. Karena di sanalah terdapat masalah problematik yang artinya, ada masalah yang harus diselesaikan."

"Dengan kampanye turun langsung atau blusukan, di sana terlihat bagaimana seorang Paslon dapat bertemu langsung mendengarkan keluh kesah dari masyarakat banyak, disitu bisa digali problematika, dengan mengerti problematika, serta menjadi inspirasi memperjuangkan pembangunan," ujarnya.

Lanjutnya, dengan menyerap aspirasi masyarakat secara langsung kampanye tatap muka ini memberikan banyak keuntungan seperti, memberikan ikatan kesan dan ikatan batik dengan pemilih.

"Ada ikatan batin yang di dapat. Orang tidak mau memilih orang yang tidak dikenalnya. Orang memiliki kecenderungan untuk memilih orang yang ia kenal. Makanya penting membangun ikatan batin dengan pemilih. Dari sisi biaya akan lebih murah, jika mengumpulkan orang paling tidak biaya yang dikeluarkan yakni konsumsi, transportasi, ongkos politiknya lebih mahal."

"Dan yang pasti publikasi menjadi lebih luas. Dengan adanya media, orang akan lebih mudah membangun citranya. Blusukan memang menjadi mode yang efektif. Perkara hasil kita tidak tau, orang memilih faktornya banyak. Namun yang pasti jauh lebih efektif," tutupnya.

====

Baca: Paling Dicari Saat Pesawat Kecelakaan, Ini 7 Fakta Black Box, Kotak Hitam yang tak Bisa Dihancurkan

Baca: Kerap Dibandingkan, Ternyata Begini Beda Wajah Via Vallen & Nella Kharisma Sebelum Tenar, Menor?

Penulis: Rangga Erfizal
Editor: pairat
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved