Garudafood Resmi Menjadi Perusahaan Publik dengan Melepas 10,34% Saham   

PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. (kode saham: GOOD), salah satu perusahaan makanan dan minuman terdepan di Indonesia

Garudafood Resmi Menjadi Perusahaan Publik dengan Melepas 10,34% Saham   
IST
Komisaris Utama PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk (GOOD) Sudhamek Agoeng Soenjoto (tengah), bersama Direktur Utama Hardianto Atmadja (kedua kanan), Direktur Independen Rudy Brigianto (kanan), Direktur Fransiskus Johny (kedua kiri), didampingi Direktur PT Bursa Efek Indonesia Laksono Widio Widodo (kanan) melihat pergerakan layar grafik saham GOOD di papan perdagangan usai melakukan pencatatan saham perdana PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (10/10). 

SRIPOKU.COM, JAKARTA -- PT Garudafood Putra Putri Jaya Tbk. (kode saham: GOOD), salah satu perusahaan makanan dan minuman terdepan di Indonesia, pada hari ini berhasil mencatatkan perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) di Bursa Efek Indonesia dan memperoleh dana untuk meningkatkan modal saham sebesar Rp 979,48 miliar. Harga perdana saham GOOD ditetapkan sebesar Rp1.284 per saham.

Direktur Utama Garudafood Hardianto Atmadja mengatakan, IPO ini adalah bagian dari rencana Garudafood untuk memperkuat modal kerja guna menjalankan ekspansi bisnis sebagai strategi bisnis perusahaan dalam jangka panjang.

“Kami berterima kasih atas dukungan dan kerja sama baik dari pemerintah, regulator, penjamin pelaksana emisi dan profesi serta lembaga penunjang pasar modal Indonesia, mitra bisnis, dan para investor yang telah mewujudkan mimpi Garudafood menjadi perusahaan publik. Kami menjadi emiten ke-44 yang IPO pada tahun 2018 di Bursa Efek Indonesia,” kata Hardianto, pada saat pencatatan saham perdana di gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Garudafood menerbitkan saham baru sebanyak 762,84 juta termasuk saham yang diterbitkan kepada Pelican Company Ltd.sebanyak 727,84 juta saham dalam rangka pelaksanaan konversi Mandatory Convertible Bond (MCB). Bersamaan dalam IPO ini juga, Garudafood mengadakan Program Alokasi Saham Karyawan (Employee Stock Allocationatau “ESA”) sebanyak-banyaknya 2,8 juta saham. 

Hardianto mengatakan IPO ini akan menjadi momentum positif bagi Garudafood untuk terus tumbuh secara berkelanjutan dengan mengoptimalkan peluang pasar yang begitu besar, baik di Indonesia maupun ASEAN. IPO juga akan membawa standar baru dalam tata kelola perusahaan yang baik yang menjadi kebutuhan perusahaan modern.

Direktur dan Corporate Secretary Garudafood, Paulus Tedjosutikno mengatakan sebagai produsen produk makanan dan minuman, Garudafood mencatatkan kinerja yang sangat solid. Selama periode 4 bulan hingga April 2018, penjualan tercatat naik 16% menjadi Rp2,9 triliun dari Rp2,5 triliun untuk periode yang sama pada 2017. Laba bersih perusahaan juga tumbuh 136% menjadi Rp222,5 miliar selama periode 4 bulan hingga April 2018 dibandingkan periode yang sama di tahun 2017 sebesar Rp94,5 miliar. Total aset Garudafood per 30 April 2018 tercatat Rp4,3triliun atau tumbuh 22,8% dibandingkan posisi per 31 Desember 2017 sebesar Rp3,5 triliun.

Kinerja keuangan yang baik dari Garudafood didukung dengan produk–produk yang digemari oleh masyarakat. Garudafood saat ini memproduksi dan menjual produk makanan dan minuman di bawah lima merek unggulannya yaitu Gery, Garuda, Chocolatos, Leo dan Clevo. Produk-produk tersebut meliputi biskuit, kacang, pilus, keripik,confectionery, minuman susu dan serbuk coklat dengan total sekitar 100 SKU per 30 April 2018. Garudafood saat ini telah melakukan penjualan ekspor ke lebih dari 20 negara dengan fokus pada negara-negara ASEAN, China dan India.

Director Head of Investment Banking PT Indo Premier Sekuritas Rayendra L. Tobing,mengatakan saham Garudafood diharapkan akan menjadi salah satu saham konsumer pilihan yang menarik untuk berinvestasi.

“Selama periode penawaran umum yang dilaksanakan dari tanggal 2-4 Oktober 2018, pemesanan saham Garudafood mengalami kelebihan permintaan hingga enam kali dari total saham yang ditawarkan. Hal ini mengindikasikan kepercayaan publik yang besar terhadap kinerja Garudafood dan prospek usaha ke depannya,” kata Rayendra.

Secara industri, prospek bisnis makanan dan minuman di Indonesia sangat potensial seiring pertumbuhan populasi dan daya beli penduduk kelas menengah di Indonesia. Nielsen, perusahaan riset global, mencatat pada kuartal I 2018, kuantitas pasar makanan ringan (snack) di Indonesia tumbuh 8%, sedangkan khusus untuk pasar biskuit tumbuh sebesar 5%.

Industri makanan dan minuman diproyeksi masih menjadi salah satu sektor andalan penopang pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional kedepannya. Kementerian Perindustrian mencatat sumbangan industri makanan dan minuman kepada PDB industri non-migas mencapai 34,95% pada triwulan III tahun 2017. Hasil kinerja ini menjadikan sektor tersebut kontributor PDB industri terbesar dibanding subsektor lainnya.

"Kami berharap, kinerja positif Garudafood ini akan memberikan nilai tambah bagi investor dan stakeholders kami. Garudafood akan terus berupaya menjaga pertumbuhan bisnis yang sehat dan tetap mengacu pada prinsip tata kelola perusahaan yang baik agar dapat memberikan manfaat optimal bagi seluruhstakeholders," ujar Paulus.

Editor: Siti Olisa
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved