Beragama Tak Sekedar 'Copy Paste'

Al Qur'an memakai dua istilah dalam hal ini, yakni "Jangan mengatakan sesuatu jika tak mengetahuinya"

Beragama Tak Sekedar 'Copy Paste'
ist
H. John Supriyanto, MA 

Beragama "Copy Paste"

Oleh : H. John Supriyanto, MA

Dosen Tetap Ilmu Al Qur'an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Raden Fatah Palembang dan Sekolah Tinggi Ilmu Al Qur'an Palembang Al-Lathifiyyah.

"Jangan jadi pak turut".

Demikian kesan yang dapat diambil dari beberapa petunjuk Al Qur'an.

Paling tidak, Al Qur'an memakai dua istilah dalam hal ini, yakni "Jangan mengatakan sesuatu jika anda tidak mengetahuinya" dan "Jangan mengikuti sesuatu jika anda tidak mengetahuinya".

Memahami agama  tidak hanya  dengan copy paste tapi belajar serius/ilustrasi
Memahami agama tidak hanya dengan copy paste tapi belajar serius/ilustrasi ()

Ini artinya, Islam ingin semua penganutnya cerdas dalam beragama, -bahkan dalam semua aspek kehidupan- tidak sekedar jadi "pak turut" alias copy paste --copas. Karenanya, sedari awal para pengiman Islam diperintah untuk membaca (iqra'). Dalam literatur agama, sifat copas diilustrasikan seperti keledai
(himar), hewan tunggangan yang diidentikkan dengan sifat bodoh.

Karena itulah orang Arab sangat marah kalau dipanggil "himar". Konon, dalam sebuah perjalanan kafilah yang melintasi sungai, keledai pertama bermuatan garam menyeberangi sungai terlebih dahulu.

Ketika sampai di seberang, ia merasakan beban di tubuhnya menjadi lebih ringan.

Lalu ia berujar kepada keledai yang lain : "Kini bebanku lebih ringan setelah aku menyeberangi sungai".

Serta merta keledai-keledai yang lain menyeburkan tubuhnya ke dalam sungai tanpa mempertimbangkan muatan yang dibawanya.

Apa yang terjadi?.

Keledai-keledai itu merasakan bebannya bertambah berat hingga sempoyongan. Ternyata masalahnya ada pada muatannya.

Keledai pertama bermuatan garam, sedangkan keledai yang lain bermuatan kapas, kendi dan kain.

Sifat copas tanpa syarat ini melahirkan sebutan miring untuk keledai, al-ghabiy al-ahmaq yang berarti goblok, blo'on, tolol dan dungu.

Perspektif hukum Islam membagi kualitas keagamaan seseorang dalam tiga tingkatan, yakni mujtahid, muttabi' dan muqallid.

Mujtahid adalah orang yang memiliki kualitas keilmuan sangat matang dengan pemahaman keagamaan komprohensif sehingga ia mampu memproduk istimbath hukum.

Adapun mutttabi' merupakan orang yang memiliki pemahaman keagamaan yang baik, namun tidak mampu mengistimbath hukum sendiri, sehingga harus mengikuti istimbath orang lain.

Sedangkan muqallid adalah orang yang hanya "nurut" dan "manut" tanpa mengetahui asal-usul kebenarannya dan inilah tingkat kualitas beragama yang paling rendah, copas.

Parahnya, sikap paling menonjol orang yang beragama copy paste biasanya lebih mudah menyalahkan, sulit menerima perbedaan dan gampang terprovokasi.

Orang yang pemahaman keagamaannya baik, (standar muqallid) akan tampak lebih cool, dewasa dan toleran.

Terlebih lagi, mereka yang telah mencapai predikat mujtahid, secara dominan lebih arif, santun, rendah hati dan terbuka.

Gambaran kearifan itu misalnya dicontohkan oleh para imam mazhab yang tidak pernah "mewajibkan" pengikutnya untuk secara permanen menganut teguh pendapat mereka. Sebut saja misalnya Abu Hanifah yang mengatakan : "Kami hanyalah manusia, hari ini berpendapat begitu, tapi bisa jadi besok kami mencabutnya" dan "Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al Qur'an dan Sunnah Rasul SAW maka tinggalkanlah".

Pernyataan senada yang menyejukkan ini juga banyak dilontarkan oleh para imam lainnya.

Misalnya Imam Malik menyatakan : "Saya cuma manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku, jika sesuai dengan Al Qur'an dan sunnah, maka ambillah; bila tidak maka tinggalkanlah".

Begitu pula Imam Syafi'i mengatakan : "Setiap orang harus bermazhab kepada Rasul SAW dan mengikutinya. Apapun pendapat yang kukatakan dan atau kulakukan, bila ternyata bertentangan dengan yang disabdakan oleh Rasul SAW, maka yang disabdakan itulah yang menjadi pendapatku".

Di lain tempat beliau mengatakan : "Bila kalian menemukan dalam kitab-ku sesuatu yang berlainan dengan hadits Rasul SAW maka peganglah hadits itu dan tinggalkanlah pendapatku". Imam Hambali juga pernah berujar : "Janganlah engkau bertaqlid kepadaku atau  kepada Malik, Syafi'i, Auza'i, dan Tasuri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambilnya, jangan bertaqlid kepada siapapun dari mereka dalam urusan agamamu".
Tiga hal dapat disimpulkan dari pernyataan para mujtahid di atas.

Pertama, meraka open minded, arif, toleran dan sangat menghargai perbedaan.

Kedua, mereka tidak menyukai sikap copy paste dari para pengikutnya, menganuti suatu pendapat tanpa mengetahui alur dan sumbernya.

Ketiga, kebenaran suatu pendapat diukur sejauh mana kesesuaiannya dengan Al Qur'an dan hadits-hadits shahih.

Hakikat beragama adalah mengikuti petunjuk Allah SWT dan Rasul-Nya dan semuanya telah tertuang dalam Al Qur'an dan kitab-kitab Sunnah.

Tanpa menafikan keberadaan para imam mazhab, pandangan mereka bukanlah harga mati yang tidak bisa ditawar.

Tidak ada satu dalil-pun yang mewajibkan bersikukuh menganuti suatu paham, apalagi mensetarakannya dengan kemutlakan Al Qur'an dan hadits Nabi SAW.

Untuk itu, seorang muslim harus cerdas, kritis dan memaksimalkan potensi pikir.

Telusuri dan pahami terlebih dahulu darimana sumbernya diambil, lalu teliti setiap alur bagaimana pemahaman itu dihasilkan.

Jika tidak mampu melakukannya sendiri, maka bertanyalah kepada yang diyakini lebih mengerti. Sikap kritis dalam beragama berarti melihat dan mengetahui dari mana dan siapa informasi itu bersumber.

Salah-satu tradisi ajaran dan keilmuan Islam yang membedakannya dari agama yang lain adalah tradisi sanad (sandaran).

Dengan sanad sebuah ajaran atau pemahaman dapat dilacak dan diketahui sumbernya sampai kepada Nabi SAW. Saking pentingnya tradisi sanad, Ibnu Mubarak  mengungkapkan : "Al-Isnad min ad-din, lau la al-isnad la qala man sya'a ma sya'a".

Maksudnya, sanad adalah bagian penting dalam beragama.

Jika tanpa sanad, maka setiap orang bisa berkata sesukanya tentang agama.

Di sinilah urgensi bertabayyun dalam beragama menjadi urgen.

Mengingat ajaran agama yang dijalankan haruslah berasal dari sumber utamanya, Al Qur'an dan sunnah kenabian.

Lebih dari itu, bahwa pemahaman beragama tidak hanya bersumber Al-Quran dan sunnah, tapi juga ijtihad dengan segala metodenya.

Di luar itu juga masih ada sumber-sumber hukum yang mukhtalaf, yang hanya berlaku pada kalangan terbatas, seperti istihsan bagi Madzhab Hanafi atau mashlahah mursalah buat Madzhab Maliki.

Pola seperti ini memungkinkan para pengikut madzhab memberi hukum haram pada "tuak", misalnya, oleh sebab alasan memabukkan.

Alasan tersebut dikenal sebagai 'illat dan pola berhukum yang demikian disebut dengan qiyas.
Dalam kerangka bermadzhab, dan atau madzhab empat, segala persoalan yang tak ditemukan presedennya di zaman Nabi pun tidak serta merta hanya dihukumi dengan hadits "kullu bid'atin dhalalah" atau "setiap yang baru itu adalah sesat".

Copy paste dan menerima begitu saja informasi yang datang tidak selamanya bijak. Terlebih dalam konteks zaman now.

Ketika mendapat atau membaca postingan di medsos, jangan langsung diterima
tanpa reserve.

Teliti, pahami dan telusuri dulu sumbernya atau dalam bahasa Al Qur'an bertabayyun.

Bisa jadi itu sebuah kebohongan bahkan mungkin penyesatan, karena kini medsos telah bergeser sebagian fungsinya dari media informasi dan komunikasi menjadi alat provokasi.

Dengan demikian, berarti Anda telah meningkatkan kualitas dari posisi muqallid yang copas ke maqam muttabi' yang kritis, tingkatan minimal yang harus dicapai seorang muslim.

Meski demikian, ada satu kondisi seorang beragama harus copy paste, lalu menjadi muqallid sejati.
Kondisi tersebut adalah berkaitan dengan keimanan yang terkadang nalar tidak bisa masuk di dalamnya.

Sebut saja misalnya kasus Abu Bakar ra yang langsung berkata "iya" dan : percaya" begitu saja ketika Nabi SAW menceritakan perjalanan Isra' Mi'raj.

Bayangkan, bagaimana beliau tanpa ragu sedikitpun meyakini terjadinya proses perjalanan dari Makkah ke Palestina dan terus menuju Sidrat al-Muntaha yang hanya dilakukan dalam waktu kurang dari satu malam.

Orang yang hanya mengandalkan nalar logis tentu akan kesulitan mempercayai informasi musykil semacam itu.

Dimas Kanjeng yang mengaku mampu menggandakan duit dalam sekejap itu saja dianggap "gila".

Apalagi ini traveling berjuta-juta kilometer hanya dalam semalam.

Tak ayal, kaum kuffar Quraisy pun menertawakan Nabi SAW dan hanya segelintir orang saja yang percaya.

Begitu pula terhadap berbagai hal yang berhubungan dengan ketentuan syari'at yang sudah mapan dan qath'i, seperti ketentuan jumlah raka'at shalat, kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan, berbagai rangkaian pelaksanaan ibadah haji, dan lain sebagainya.

Demikian juga dengan berbagai informasi wahyu tentang alam kematian dan kehidupan akhirat seperti surga, neraka, mahsyar, hisab, shirat dan lain-lain.

Terhadap hal-hal tersebut tentu iman dan copy paste harus dikedepankan, karena nalar dan akal manusia akan lumpuh sebelum mampu menjangkaunya.

Intinya, fungsikan sikap copy paste beragama pada posisi yang benar.

Kapan dan di mana harus memposisikan diri sebagai muqallid atau muttabi' dan tidak berlebihan bila dalam kondisi tertentu menjadi "mujtahid" dalam arti terbatas. Wallahu a'lam.

Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved