Beragama Tak Sekedar 'Copy Paste'

Al Qur'an memakai dua istilah dalam hal ini, yakni "Jangan mengatakan sesuatu jika tak mengetahuinya"

Beragama Tak Sekedar 'Copy Paste'
ist
H. John Supriyanto, MA 

Orang yang pemahaman keagamaannya baik, (standar muqallid) akan tampak lebih cool, dewasa dan toleran.

Terlebih lagi, mereka yang telah mencapai predikat mujtahid, secara dominan lebih arif, santun, rendah hati dan terbuka.

Gambaran kearifan itu misalnya dicontohkan oleh para imam mazhab yang tidak pernah "mewajibkan" pengikutnya untuk secara permanen menganut teguh pendapat mereka. Sebut saja misalnya Abu Hanifah yang mengatakan : "Kami hanyalah manusia, hari ini berpendapat begitu, tapi bisa jadi besok kami mencabutnya" dan "Kalau saya mengemukakan suatu pendapat yang bertentangan dengan Al Qur'an dan Sunnah Rasul SAW maka tinggalkanlah".

Pernyataan senada yang menyejukkan ini juga banyak dilontarkan oleh para imam lainnya.

Misalnya Imam Malik menyatakan : "Saya cuma manusia, terkadang salah, terkadang benar. Oleh karena itu, telitilah pendapatku, jika sesuai dengan Al Qur'an dan sunnah, maka ambillah; bila tidak maka tinggalkanlah".

Begitu pula Imam Syafi'i mengatakan : "Setiap orang harus bermazhab kepada Rasul SAW dan mengikutinya. Apapun pendapat yang kukatakan dan atau kulakukan, bila ternyata bertentangan dengan yang disabdakan oleh Rasul SAW, maka yang disabdakan itulah yang menjadi pendapatku".

Di lain tempat beliau mengatakan : "Bila kalian menemukan dalam kitab-ku sesuatu yang berlainan dengan hadits Rasul SAW maka peganglah hadits itu dan tinggalkanlah pendapatku". Imam Hambali juga pernah berujar : "Janganlah engkau bertaqlid kepadaku atau  kepada Malik, Syafi'i, Auza'i, dan Tasuri, tetapi ambillah dari sumber mereka mengambilnya, jangan bertaqlid kepada siapapun dari mereka dalam urusan agamamu".
Tiga hal dapat disimpulkan dari pernyataan para mujtahid di atas.

Pertama, meraka open minded, arif, toleran dan sangat menghargai perbedaan.

Kedua, mereka tidak menyukai sikap copy paste dari para pengikutnya, menganuti suatu pendapat tanpa mengetahui alur dan sumbernya.

Ketiga, kebenaran suatu pendapat diukur sejauh mana kesesuaiannya dengan Al Qur'an dan hadits-hadits shahih.

Halaman
1234
Editor: Salman Rasyidin
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved