Berita Palembang

Abrar Diserang Rubella Sejak dalam Kandungan, Begini Kondisinya Sekarang

Sejak dinyatakan menderita Rubella saat masih di kandungan, kini Abrar harus mengalami gangguan pada mata, telinga, dan motoriknya.

Abrar Diserang Rubella Sejak dalam Kandungan, Begini Kondisinya Sekarang
SRIPOKU.COM/YULIANI
Osa dan putranya saat bersama Kadinkes Palembang Letizia di acara sharing session bersama komunitas perangi Rubella, workshop jurnalis dan media kompetisi di Meeting Room Hotel Amaris Palembang, Selasa (28/8). Abrar sendiri menderita Rubella sejak dalam kandungan. 

"Yang pasti saya sedih dengan kondisi anak seperti ini. Baru usia lima hari setelah dilahirkan diketehaui terkena Rubella," jelasnya.

Baca: Dua Pengendara Motor Terkapar di Jalan Raya Kabupaten OKU Selatan, Satu Tewas

Lensi mengaku, pada saat masa kehamilan dirinya tidak ada merasa gejala apapun dan hanya saja mengalami demam dan keluar campek seperti uap. Bahkan saat dicek kandungan pada saat itu semuanya baik-baik saja.

"Sekarang tinggal tabah dan menguatkan diri. Apalagi saya merasa tidak sendirian. Dengan adanya komunitas Rumah Ramah Rubella, saya bisa sharing dengan para ibu lainnya yang kondisinya sama dengan saya," ungkapnya.

Sementara itu, Polemik pemberian vaksin Rubella ini kian mereda pasca Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah menganjurkan kembali pemberian vaksin.

Kendati mengandung unsur yang dilarang dalam Islam, namun saat ini Rubella sudah memasuki kondisi darurat sehingga bisa dilakukan.

Ketua MUI Sumsel, Prof Dr Aflatun Muchtar, MA juga dengan tegas sudah mendukung program pemerintah ini untuk imunisasi massal walaupun ada unsur haram.

"Islam sudah memberikan aturan, asal tidak berlebihan dan melampauin batas. Kondisi dalam keadaan terpaksa, bisa saja dilakukan," ujarnya.

Termsuk dalam kasus Rubella ini. Sepanjang belum ada penggantinya maka vaksin bisa diberikan. Ia menambahkan, rekomendasi dari MUI sendiri diantaranya pemerintah wajib menjamin kesehatan masyarakat.

"Hukumnya diperbolehkan dalam hal ini mubah karena ada kondisi darurat. Sementara bisa dipakai karena belum ditemukan vaksin MR yang halal dan suci. Maka itu dibolehkan dan sesuai dengan pedoman Hadist dan kitab suci," tegasnya. 

Penulis: Yuliani
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved