Bagaimana Nyinyir & Nyindir dalam Islam, Ustaz Felix Siauw Angkat Bicara, Begini Hukumnya
Alih-alih menyuarakan pemikirannya, namun tatanan kata yang pilih bisa membuat pihak yang dikritisi sakit hati.
Penulis: Rizka Pratiwi Utami | Editor: Rizka Pratiwi Utami
SRIPOKU.COM -- Di era milenial seperti ini, warganet tak takut lagi untuk memberikan komentar kepada kalangan artis, publik figur bahkan politikus sekalipun dengan jari-jari tangan mereka di sosial media.
Tak pelah, terkadang kalangan artispun murka hingga melaporkan para warganet yang dianggap terlalu berlebihan dalam berkomentar, bahkan bisa dibilang 'kasar'.
Nyinyir, julid, nyindir seakan menjadi hobi tersendiri para warganet.
Alih-alih menyuarakan pemikirannya, namun tatanan kata yang pilih bisa membuat pihak yang dikritisi sakit hati.
Baca: Cantik Pakai Gaun Ketat dan Rambut Terurai, Pose Ayu Ting Ting Ini Malah Dibilang Mirip Lucinta Luna
Ustaz Felix Siauw pun turut memberikan pandangannya mengenai hal tersebut.
Pantauan Sripoku.com melalui akun Instagramnya pada Jumat (24/8/18), ia pun membahas secara rinci mengenai arti 'Nyinyir, nyindir dan mikir'.
Begini tulisannya:
Nyinyir, Nyindir, Mikir
" Menurut KBBI, nyinyir/nyi·nyir/ [a] mengulang-ulang perintah atau permintaan; nyenyeh; cerewet
Nyinyir beda dengan menyindir, walaupun di masa sekarang, pemakaian kata nyinyir dan nyindir sudah hampir sama maknanya.
menyindir/me·nyin·dir/ v mengkritik (mencela, mengejek, dan sebagainya) seseorang secara tidak langsung atau tidak terus terang
Dalam Islam, mencela, melaknat, mengejek, mengolok-olok, berkata kotor, sudah haram dilakukan, terlebih lagi oleh seorang Muslim, sebab hadits Rasulullah.
Mukmin bukanlah yang suka mencela dan bukan yang suka melaknat serta bukan yang suka bicara jorok dan kotor - HR Bukhari
Saya rasanya tak perlu menjelaskan apa arti mengejek, mengolok-olok, mencela, atau melaknat.
Karena pastilah siapapun tak nyaman membaca atau mendengarnya.
Sedangkan memberi nasihat dengan langsung atau tidak langsung (ungkapan, sindiran, tamsil, perumpamaan), adalah sesuatu yang justru diperintahkan agama.
Dan nasihat kebenaran takkan bisa membuat semua menerima, sebab yang melakukan keburukan pasti merasa tersinggung dan bisa jadi sakit hati
Saya menulis "Pacaran itu mainan, nikah itu seriusan, mau dimainin atau mau diseriusin?", banyak yang tersinggung, tapi apakah lantas kebenaran jadi tak disuarakan?