Berita Palembang

Cegah Campak dan Rubella, Perhatikan Hal Berikut Sebelum Imunisasi MR

Kementrian Kesehatan melalui Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pusat terus mensosialisasikan orangtua untuk mempersiapkan

Cegah Campak dan Rubella, Perhatikan Hal Berikut Sebelum Imunisasi MR
SRIPOKU.COM/YULIANI
Dokter Spesialis anak RSMH Palembang, dr. Rismarini, SpA (K) dan tim UNICEF saat memberikan keterangan terkait Imunisasi MR di hotel Amaris, Kamis (2/8/2018). 

Laporan wartawan Sripoku.com, Yuliani

SRIPOKU.COM, PALEMBANG --Menepis adanya dugaan kasus Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) kembali terulang, Kementrian Kesehatan melalui Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) pusat terus mensosialisasikan orangtua untuk mempersiapkan anaknya agar diimunisasi.

Apalagi di bulan Agustus ini kampanye imunisasi Measles dan Rubella (MR) gencar dilakukan.

Dokter Spesialis anak RSMH Palembang, dr. Rismarini, SpA (K) mengatakan, sebenarnya orangtua tak perlu takut untuk membawa anaknya imunisasi terutama MR ini.

Sebab jika sudah terserang Virus Rubella maka susah disembuhkan karena belum ditemukan obat yang spesifik.

"Saat ini hanya vaksin yang mampu mencegah merebaknya wabah virus ini. Dan memang yang paling rentan itu usia 9 bulan-15 tahun," ujarnya dalam Kampanye Imunisasi Campak Rubella oleh UNICEF di hotel Amaris, Kamis (2/8/2018).

Menurutnya, kekhawatiran orangtua sendiri untuk mengimunisasi anaknya selain disebabkan mitos dan keyakinan, juga adanya indikasi KIPI yang bisa saja terjadi.

"Makanya saat akan diimunisasi pastikan anak dalam kondisi sehat. Meskipun sakit ringan seperti batuk dan pilek bukan kontra indikasi dan biasanya boleh diberikan. Pasca diimunisasi suruh anak istirahat selama 30 menit di tempat. Karena mengantisipasi jika ada kejadian anak yang pingsan," jelasnya.

Memang biasanya usai imunisasi lazimnya anak akan panas terutama suntik DPT.

Tapi untuk vaksin MR panasnya lebih bereaksi lebih kecil.

"Hanya 10 persen munculnya indikasi tersebut, termsuk apabila bengkak di tempat suntikan. MR trgolong vaksin yang aman karena sudah melalui rangkaian uji klinis," tegasnya.

Ia mengimbau, kalau ada kejadian KIPI masyarakat harus cepat melaporkan ke Puskesmas terdekat dan nanti diteruskan ke Dinkes.

Disana ada Lokja KIPI yang menangani kasusnya dan melacak penyebabnya apa.

"Nanti baru dilapor ke provinsi. Memang prosesnya agak panjang, dan penyebabnya macam-macam. BPOM juga akan periksa apakah vaksin itu rusak atau tidak," ungkapnya.

Baca: Diteriaki Copet & Ditusuk, Pria di Palembang Ini Langsung Lapor Polisi, Begini Kejadian Sebenarnya

Baca: Berani Bakar Hutan di Pagaralam, Kapolres Ingatkan Ancaman Hukuman Bagi Pelaku Karhutla

Baca: Waketum Inasgoc: Sebelum Pelaksanaan Asian Games Semuanya harus Disimulasi

Baca: Waketum INASGOC Sebut Tidak Puas Dengan Fasilitas Pendukung & Venue di JSC Sebelum Lakukan Ini

Baca: Takut Suaminya tidak Mati, Wanita Ini Datang ke Rumah Sakit dan Menusuknya hingga Tewas

Baca: Sisa Jual Tanah Warisan Rp 65 Juta Tak Kunjung Dibayar, Pria di Palembang Ini Bawa ke Jalur Hukum

Penulis: Yuliani
Editor: Siti Olisa
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved