Berita Lahat

Jam Kerja Tak Sesuai Aturan, 48 Karyawan di Lahat Protes, Ini Daftar Tuntutannya

Kehadiran karyawan ke kantor PT. Eka Jaya ini, tak lain ingin menyampaikan protes atas kelebihan jam kerja serta pemotongan premi.

Jam Kerja Tak Sesuai Aturan, 48 Karyawan di Lahat Protes, Ini Daftar Tuntutannya
SRIPOKU.COM/EHDI AMIN
48 orang karyawan gabungan dari PT. Eka Jaya dan PT. Adi Tarwan yang merupakan cabang PT. Bukit Barisan Indah Prima (BBIP), Rabu (18/7) mendatangi Kantor perwakilan PT. Eka Jaya di Blok E, RT. 21 RW. 01 Kelurahan Bandar Jaya Lahat. 

Laporan wartwan Sripoku. Com Ehdi Amin

SRIPOKU. COM, LAHAT -- Sebanyak 48 orang karyawan gabungan dari PT. Eka Jaya dan PT. Adi Tarwan yang merupakan cabang PT. Bukit Barisan Indah Prima (BBIP), Rabu (18/7) mendatangi Kantor perwakilan PT. Eka Jaya di Blok E, RT. 21 RW. 01 Kelurahan Bandar Jaya Lahat.

Kehadiran karyawan ke kantor PT. Eka Jaya ini, tak lain ingin menyampaikan protes atas kelebihan jam kerja serta pemotongan premi.

Terlebih lagi, ke 48 karyawan ini merupakan karyawan tetap yang sudah 8 tahun mengabdi di perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan sawit di wilayah Kikim Area, Kabupaten Lahat ini.

Ketua Gabungan Buruh Sawit Indonesia (GBSI) yang juga pengurus Serikat Buruh Perkebunan Kelapa Sawit (SBPKS) cabang dari Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) Kabupaten Lahat, Fauzi Azwar didampingi Sekjennya Sobrianto menyampaikan bahwa protes yang disampaikannya ke management PT. Eka Jaya ini merupakan wujud kekesalan para karyawan yang selama ini merasa dizolimi oleh pihak perusahaan.

"Yang jelas kami menuntut hak-hak karyawan, yang selama ini tidak diberikan oleh pihak perusahaan", jelas Fauzi, dibincangi di lokasi, Rabu (18/7/18).

Disebutkannya, yang dikeluhkan mulai dari kelebihan jam kerja yang dari jam 6 ke jam 6, hingga ke minimnya jumlah premi yang hanya diberikan 600 ribu perbulan sebagai upah kelebihan jam kerja tersebut.

"Kalau premi itu hanya 600 ribu perbulan, berarti cuma 20.000 perharinya. Sedangkan jam kerja hingga 12 jam perhari. Ini tidak sesuai dengan aturan dan amanat undang-undang, yang seyogyanya sehari itu hanya dituntut 8 jam kerja setiap hari. Lalu, di mana letak keadilan pihak perusahaan terhadap karyawan yang sudah dipekerjakan selama 12 jam sehari itu," protes Fauzi.

Kemudian, sambung dia, jika karyawan sehari tidak masuk kerja tanpa keterangan, maka akan langsung dipotong 2 hari masa kerjanya dalam satu bulan. Belum lagi jika tidak masuk kerja dengan izin, itu akan dipotong jika mengambil masa cuti.

"Kami selaku karyawan yang sudah lama mengabdi ini, sakit dengan dipotong premi, bekerja lebih waktu. Apalagi ketika kami diminta piket saat hari-hari besar (Lebaran), itu honornya dibayar belakangan. Tapi sampai sekarang, pun honor piket lebaran itu belum dibayarkan pada karyawan. Padahal kita tahu, bahwa hari lebaran adalah hari libur nasional dan memang di luar jam kerja. Nah ini semua yang akan kita minta, agar pihak perusahaan mau memperhitungkan selama 8 tahun kami bekerja di perusahaan ini", tegas Fauzi.

Halaman
123
Penulis: Ehdi Amin
Editor: Siti Olisa
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved