Akhlak Mulia adalah 'Mahkota' Ibadah

Ibadah bukan sekadar seberapa sering puasa berapa macam shalat yang didirikan, berapa banyak zakat dan sedekah dikeluarkan, dan ibadah haji.

Akhlak Mulia adalah 'Mahkota' Ibadah
ist
Otoman, SS. MHum

Tiada lain dan tiada bukan adalah untuk membentuk pribadi yang baik dan ber-mahkota-kan akhlak yang mulia.

Kesemua itu kembali pada individu kita masing-masing.

Pjs Walikota Palembang, Ahmad Najib bersama Gubernur Sumsel, Alex Noerdin dan Ketua DPRD Kota Palembang, Darmawan saat melaksanakan ibadah Salat Ied di Masjid Agung Palembang.
Saat melaksanakan ibadah Salat Ied di Masjid Agung Palembang. (ist)

Ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW tentang alasan dirinya diutus bagi umat manusia: "Sesungguhnya, aku diutus tiada lain untuk menyempurnakan budi pekerti. Nah, sebagian umat manusia memang sudah mencapai derajat peradaban tinggi dan akhlak yang mulia ketika Nabi SAW diutus. Namun demikian, beliau tetap diutus agar sempurna budi pekerti manusia. Agar lebih mulia dan lebih paripurna. Karena itu, orang yang sudah maksimal sekalipun ibadahnya, namun tetap berperangai buruk; mencaci-maki kesana-sini, mengumpat si Anu atau si Ani, hobi membuat huru-hara dan angkara murka, maka kelak dia akan menghadap Allah dalam kerugian yang nyata. "
Dalam surat Thaha ayat 74-76 Allah menegaskan: "Sesungguhnya, barangsiapa yang menghadap Tuhannya sebagai terpidana (berlumuran dosa), maka dia akan dicampakkan ke dalam neraka jahanam.

Tidak mati tidak pula hidup di dalamnya.
Namun barangsiapa yang mendatangi Tuhannya dalam keadaan mukmin, dan banyak pula mengerjakan kebaikan, baginya derajat yang utama, yaitu surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

Kekal mereka di sana, dan itulah imbalan bagi mereka yang mensucikan diri (tazakka) dengan akhlak yang mulia.

Bagi mereka derajat yang tinggi (tempat yang mulia)”. Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan akhlak dalam kita beragama.

Sekalipun kita telah mengerjakan amal ibadah bertumpuk-tumpuk, bila kita masih menyimpan perangai buruk dan perilaku menyimpang, maka masih ada kemungkinan kondisi itu akan membuat kita bangkrut dan tetap terpuruk. Banyak sekali hadist yang menekankan pentingnya akhlak mulia ini.

Misalnya hadist dari Abu Hurairah, tatkala Rasulullah bersabda: "Demi Allah, tiada beriman! Demi Allah, tiada beriman! Demi Allah tiada beriman!" kata Rasulullah.

"Siapa gerangan yang dikau maksud, wahai Rasulullah?" tanya sahabat. "Orang yang membuat tetangganya tidak aman dari kelakuannya". Dalam hadist yang lain, Nabi SAW bersabda: "Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat, seyogyanya berkata baik atau lebih baik diam (falyaqul khairan aw liyashmut).

Orang yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhirat hendaknya memuliakan tamunya (falyukrim dhaifahu).

Halaman
1234
Editor: Salman Rasyidin
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved