Ini Niat, Keutamaan Hingga Tata Cara dan Aturan Puasa Syawal Agar Dapat Pahala Puasa Setahun Penuh

Hari ini, Sabtu (16/6/2018) adalah hari kedua di bulan Syawal. Artinya, saatnya kita bisa melaksanakan puasa sunah Syawal.

Ini Niat, Keutamaan Hingga Tata Cara dan Aturan Puasa Syawal Agar Dapat Pahala Puasa Setahun Penuh
Puasa syawal 

SRIPOKU.COM - Hari ini, Sabtu (16/6/2018) adalah hari kedua di bulan Syawal.

Artinya, saatnya kita bisa melaksanakan puasa sunah Syawal.

Puasa Syawal mulai bisa dikerjakan dari tanggal 2 Syawal hingga akhir Syawal.

Karena ini puasa sunah, niatnya tak hanya wajib saat malam hari saja.

Untuk puasa sunah, niat boleh dilakukan di siang hari sejauh yang bersangkutan belum makan, minum, dan hal-hal lain yang membatalkan puasa sejak subuh.

Ia juga dianjurkan untuk melafalkan niat puasa Syawal di siang hari.

Berikut ini lafalnya:

 

ﻧَﻮَﻳْﺖُ ﺻَﻮْﻡَ ﻫَﺬَﺍ ﺍﻟﻴَﻮْﻡِ ﻋَﻦْ ﺃَﺩَﺍﺀِ ﺳُﻨَّﺔِ ﺍﻟﺸَّﻮَّﺍﻝِ ﻟِﻠﻪِ ﺗَﻌَﺎﻟَﻰ
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ.

Artinya, “Aku berniat puasa sunah Syawwal hari ini karena Allah SWT.”

Keutamaan Puasa Syawal

Ada dua hadis terkenal yang menyebutkan puasa sunah ini.

Pertama: "Barang siapa berpuasa enam hari setelah Hari Raya Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. [Barang siapa berbuat satu kebaikan, maka baginya sepuluh kebaikan semisal].”

Sementara kedua: "Barang siapa berpuasa Ramadan kemudian melanjutkannya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka dia seperti berpuasa satu tahun." (HR. Imam Muslim).

Dilansir dari TribunStyle menurut nu.or.id, dari hadis di atas dapat dipahami bahwa orang yang berpuasa Ramadan dan kemudian melanjutkan dengan berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka ia mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang berpuasa setahun.

Artinya pahala itu merupakan balasan dari 'paket' puasa Ramadan yang dilanjutkan dengan enam hari puasa di bulan Syawal.

Jika ada orang yang tidak puasa Ramadan tetapi puasa enam hari di bulan Syawal maka secara teoritis ia tidak mendapatkan pahala tersebut.

Selain itu, puasa sunah selama 6 hari di bulan Syawal berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan ibadah di bulan Ramadan sebelumnya.

Puasa sunah ini memiliki banyak keutamaan, sebagaimana yang diterangkan dalam hadits Qudsi, Allah SWT berfirman:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: (قال الله عز وجل: كل عمل ابن آدم له إلا الصيام؛ فإنه لي وأنا أجزي به، والصيام جنّة، وإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث، ولا يصخب، فإن سابّه أحد أو قاتله فليقل: إني امرؤ صائم، والذي نفس محمد بيده لخلوف فم الصائم أطيب عند الله من ريح المسك، للصائم فرحتان يفرحهما: إذا أفطر فرح، وإذا لقي ربه فرح بصومه) رواه ومسلم

"Setiap amal manusia adalah untuk dirinya kecuali puasa, ia (puasa) adalah untuk-Ku dan Aku memberi ganjaran dengan (amalan puasa itu)."

Kemudian, Rasulullah melanjutkan, "Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah dibandingkan wangi minyak kasturi."

Sebagian orang meragukan hadis berpuasa enam hari di bulan Syawal, akan tetapi keraguan itu terbantahkan oleh bukti-bukti periwayatan hadis.

Perhatikan ungkapan Syeikh Abdullah bin Abdulal- Bassam berikut.

“Hadis berpuasa enam hari di bulan Syawal merupakan hadis yang sahih, hadis ini memiliki periwayatan lain di luar hadis Muslim. Selain hadis Muslim yang meriwayatkan hadis berpuasa enam hari di bulan Syawal antara lain; Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi.”

Oleh karena itulah hadis berpuasa enam hari di bulan Syawal ini tergolong hadismutawatir.

Lalu, bagaimana tata cara puasanya?

Mengenai tata cara enam hari puasa, apakah harus berturut-turut ataukah boleh dipisah-pisah para ualama membebaskan memilih antara keduanya.

Artinya, boleh berturut-turut enam hari langsung semenjak tanggal dua Syawal ataupun dipisah-pisah, keduanya dianggap sahih.

Mengenai syarat dan rukunya sama seperti puasa Ramadan.

Harus ada niat dan juga menghindari semua hal yang membatalkan puasa.

Aturan Puasa Syawal

Jika ingin melaksanakan puasa Syawal, alangkah baiknya menunaikan qodho’  (pengganti) puasa terlebih dahulu agar mendapatkan ganjaran puasa Syawal, yaitu puasa setahun penuh.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah berkata,

“Siapa yang mempunyai kewajiban qodho’puasa Ramadan, hendaklah ia memulai puasa qodho’-nya di bulan Syawal. Hal itu lebih akan membuat kewajiban seorang muslim menjadi gugur. Bahkan puasaqodho’ itu lebih utama dari puasa enam hari Syawal.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 391).

Begitu pula beliau mengatakan, “Siapa yang memulai qodho’ puasa Ramadan terlebih dahulu dari puasa Syawal, lalu ia menginginkan puasa enam hari di bulan Syawal setelah qodho’-nya sempurna, maka itu lebih baik.

Inilah yang dimaksud dalam hadis yaitu bagi yang menjalani ibadah puasa Ramadan lalu mengikuti puasa enam hari di bulan Syawal.

Namun pahala puasa Syawal itu tidak bisa digapai jika menunaikan qodho’ puasanya di bulan Syawal. Karena puasa enam hari di bulan Syawal tetap harus dilakukan setelah qodho’ itu dilakukan.” (Lathoiful Ma’arif, hal. 392), dikutip dari TribunWow.

Bolehkah melakukan puasa di hari Jumat dan Sabtu?

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,

“Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa dimakruhkan berpuasa pada hari Jumat secara bersendirian. Namun jika diikuti puasa sebelum atau sesudahnya atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa nazar karena sembuh dari sakit dan bertepatan dengan hari Jumat, maka tidaklah makruh.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab, 6: 309).

Hal ini menunjukkan masih bolehnya berpuasa Syawal pada hari Jumat karena bertepatan dengan kebiasaan.

Adapun berpuasa Syawal pada hari Sabtu juga masih dibolehkan sebagaimana puasa lainnya yang memiliki sebab masih dibolehkan dilakukan pada hari Sabtu, misalnya jika melakukan puasa Arafah pada hari Sabtu.

 

(TribunJatim.com)

Editor: Tresia Silviana
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved