Berita Palembang

Masjid Kiai Marogan Bukti Perkembangan Islam di Ulu Sungai Musi, Ini Ciri Khas Bangunannya!

Perkembangan Islam di Nusantara melalui jalan yang panjang terutama saat menyebar di Kota Palembang.

Masjid Kiai Marogan Bukti Perkembangan Islam di Ulu Sungai Musi, Ini Ciri Khas Bangunannya!
KOLASE SRIPOKU.COM/RANGGA ERFIZAL
Kegiatan Ramadan di masjid Kiai Marogan, Rabu (23/5/2018). 

Laporan wartawan Sripoku.com Rangga Erfizal

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Perkembangan Islam di Nusantara melalui jalan yang panjang terutama saat menyebar di Kota Palembang. Berbagai ulama, Habaib, dan Aulia menyebarkan Islam hingga pelosok Palembang, dari Ulu hingga Ilir.

Salah satu ulama besar yang berperan menyebarkan ajaran Islam tersebut yakni, Kyai Marogan yang terlahir dengan nama Masagus H. Abdul Hamid bin Masagus H. Mahmud. Namun bagi masyarakat Palembang, julukan “Kiai Marogan” lebih terkenal dibanding nama lengkapnya.

Julukan Kiai Marogan dikarenakan lokasi masjid dan makamnya terletak di Muara sungai Ogan, anak sungai Musi, Kertapati Palembang.

Menurut Masagus Fauzan Yayan atau dikenal Ustadz Yayan yang merupakan keturunan kelima dari Kiai Marogan, masjid Kiai Marogan pertama kali dibuat pada tahun 1871 dan merupakan masjid pertama di wilayah Ulu sungai Musi serta menjadi salah satu masjid tertua di Kota Palembang.

Kegiatan Ramadan di masjid Kiai Marogan, Rabu (23/5/2018).
Kegiatan Ramadan di masjid Kiai Marogan, Rabu (23/5/2018). (SRIPOKU.COM/RANGGA ERFIZAL)

Baca:

Lagunya Dikenal Unik, Saat Azan Vokalis Ini Buat Netizen Merinding Sampai Arie Untung Berkomentar

Dulu Ditinggal Raffi Ahmad, Artis Cantik Ini Akan Segera Menikah, Pacarnya Chef yang Baru Mualaf!

Masjid tersebut menjadi jalan syiar Kiai Marogan bersama para muridnya yang menyebarkan Islam di wilayah Ulu Sungai Musi. Masjid berasitektur Jawa dan Cina tersebut masih ada hingga saat ini, dengan berbagai renovasi yang masih menjaga keaslian masjid.

"Masjid ini menjadi satu cara Kiai Marogan dalam menyebarkan Islam. Bangunan masjid tetap dipertahankan keaslian. Seperti tiang penyangga yang terbuat dari kayu unglen sebanyak 12 tiang. Semuanya tidak diganti, hanya ada beberapa yang di renovasi pada tahun 90-an. Begitupun dengan mimbar, yang asli sejak jaman Kiai Marogan," ujar Ustadz Yayan.

Masjid yang berusia ratusan tahun tersebut, menjadi saksi syiar Islam oleh Kiai Marogan. Bahkan hingga saat ini masjid Marogan kerap kali menjadi destinasi wisata religi bagi umat Islam dari penjuru Indonesia bahkan Mancanegara.

"Saat ini keberadaan masjid menjadi tempat kaum muslimin dari berbagai penjuru. Terutama sekaki dari Jawa, pelosok, semua datang berkunjung. Selain ada makamnya, untuk berziarah, para pendatang kerap kali beritikaf, ada kegiatan tadarusan setiap harinya," ucapnya saat ditemui Sripoku.com, Rabu (23/5).

Lanjutnya, di bulan Ramadan seperti saat ini, banyak masyarakat yang berbondong melakukan ibadah di Masjid Kiai Marogan. Tidak tanggung, mereka yang datang kerap kali menginap hingga berhari-hari guna beribadah.

"Biasanya yang datang dan menginap adalah musafir yang jauh datang untuk beribadah di masjid Kiai Marogan. Kita penginapan bagi para musafir, di bulan Ramadan mereka ramai melakukan itikaf," ujarnya.

Masjid Kiai Marogan yang saat ini dikelola oleh anak keturunannya, kerap kali mengadakan berbagai macam kegiatan untuk mengisi Ramadan. Mulai kegiatan-kegiatan pengajian, ceramah sehabis Ashar, Zuhur dan waktu sholat lainnya.

"Di sini ada rumah Tahfiz, ada majelis zikir Ratib Al Hadad yang diisi oleh para Habaib dan Ulama. Setiap hari selama Ramadan masjid selalu penuh," Pungkasnya. (*)

Penulis: Rangga Erfizal
Editor: pairat
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved