UIN Raden Fatah

Menghidupkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam

Bangunan tradisi keilmuan merupakan tonggak penopang dalam membangun sebuah peradaban. Sebagai manusia pertama, Adam As.

Menghidupkan Kembali Tradisi Keilmuan Islam
Jalaluddin

Perintah yang termuat dalam wahyu pertama diturunkan kepada Rasul Allah SAW. Menurut Prof. M. Quraish Shihab, makna yang terkandung dalam perintah (iqra') lebih dari hanya sekedar kemampuan atau keterampilan "Mengeja Huruf".

Konsep iqra' mencakup pengertian perintah untuk membaca, meneliti, mendalami, mengetahui ciri-ciri sesuatu.

Perintah tersebut mengacu kepada aktivitas membaca alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, baik yang tertulis maupun tidak.

Dengan demikian perintah iqra' objeknya mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkau (M. Quraish Shihab, 1998).

Selanjutnya dikemukakan, perintah iqra' mengacu kepada usaha yang didukung oleh potensi yang dimiliki manusia itu sendiri, antara lain akal ("aql).

Dalam Al-Qur'an, 'aql selalu dalam bentuk kata "kerja", bukan kata benda. Hal ini menunjukkan hubungan antara akal itu sendiri dengan aktivitas manusia. Semua kata-kata yang menggunakan akar kata 'aql mengacu kepada makna: 1) daya untuk memahami dan menggambarkan sesuatu; 2) dorongan moral; dan 3) daya untuk mengambil pelajaran, kesimpulan dan hikmah (M. Quraish Shihab, 1996).

Menurut Prof. Izutsu, kebijakan seperti ini sangat dihargai oleh orang-orang Arab zaman Jahiliyah, dalam arti, kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam psikologi modern disebut kecakapan memecahkan masalah (problem solving).

Orang berakal, adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan setiap masalah yang dihadapinya, dan dapat melepaskan diri dari bahaya. (Harun Nasution, 1983).

Selain itu, dalam tradisi keilmuannya, Islam menempatkan hubungan antara wahyu, akal, dan ilmu pengetahuan.

Hal ini menunjukkan, bahwa Islam dan ilmu pengetahuan tidak terpisahkan. Hubungan ini terlihat nyata dari pesan-pesan wahyu pertama tersebut.

"Membaca segenap ciptaan Tuhan" mengawali perintah dari agama ini (Islam).

Membaca yang dalam istilah Seyyed Hossein Nasr memperhatikan ayat-ayat Tuhan dalam alam.
Al-Qur'an itu sendiri selalu menggandengkan kata-kata ayat dengan bentuk varian kata aqala, yakni nazara, tadabbara, tafakkara, faqiha, tazakkara, fahima.

Kata nazara dalam makna melihat secara abstrak atau berpikir dan merenungkan.

Sejalan dengan tadabbara. Tafakkara berarti berpikir (menggunakan akal pikiran), dan faqiha berarti mengerti.

Kata tafakkara mengandung arti mengingat, memperoleh peringatan, mendapat pelajaran, memperhatikan dan mempe-
lajari.

Lalu kata fahima yang maknanya memahami, termaktub dalam 40 ayat.

Sementara kata-kata yang terbentuk dari 'aqala sendiri dijumpai dalam lebih dari 45 ayat (Harun Nasution, 1983).

Rangkaian iqra'-'aql- ayat, menunjukkan kesatuan yang padu pada bangunan tradisi keilmuan Islam.

Ketiganya sama sekali tak dapat dipisahkan dalam setiap bentuk aktivitas keilmuan.

Iqra (baca : teliti, dalami) terhadap ayat (tanda-tanda, gejala, fenomena) hanya mungkin tercerahkan secara baik dan benar jika 'aql difungsikan secara optimal.

Dengan demikian, langkah awal dari kajian keilmuan adalah dengan iqra. Ilmu ('ilm ) baik dalam bentuk proses, yaitu aktivitas pencapaian pengetahuan, maupun produk pengetahuan berupa kejelasan (M. Quraish Shihab, 1996 ), semuanya terangkai dalam "komposisi" membaca secara teliti untuk memahami ayat-ayat ciptaan Tuhan, dengan menggunakan aktivitas akal secara maksimal.

Mengacu ke paradigma Al-Qur'an (bersumber dari nilai-nilai ajaran Al-Qur'an) ini pula para ilmuan Muslim membangun tradisi keilmuan dan peradaban Islam.

Para ilmuwan Muslim ini termotivasi oleh nilai-nilai ajaran Al-Qur’an.

Setidaknya disadari, bahwa suatu sistem ajaran, tidak akan berfaedah dan tidak akan membawa perbaikan hidup yang dijanjikan, jika tidak dilaksanakan (Nurcholish Madjid, 1992).

Sepanjang ajaran Al-Qur'an, jaminan keunggulan dan superioritas, termasuk kemenangan dan kesuksesan, akan dikaruniakan Allah kepada mereka yang beriman dan berilmu pengetahuan (QS. 58 : 11).

Sehubungan dengan kasus ini, dalam bukunya Tauhid and Science Prof. Osman Bakar menulis :” Semangat ilmiah para ilmuwan sarjana Muslim pada kenyataannya mengalir dari kesadaran mereka akan tauhid.

Tidak diragukan, bahwa religius dan historis, asal usul perkembangan semangat ilmiah dalam Islam berbeda dengan asal usul dan perkembangan yang sama di Barat ( Qsman Bakar, 2008 ).

Peran UIN dalam Tradisi Keilmuan Islam

Untuk mengetahui seberapa penting eksistensi Universitas Islam Negeri (UIN), serta peranannya dalam upaya menghidupkan tradisi Keilmuan Islam, dapat dirunut secara kronologis.

Pertama, dicermati dari latar belakang penyebaran Islam di Kepulauan Nusantara.

Kedua, program akademik yang terakomudasi dalam Tridharma Perguruan Tinggi UIN itu sendiri.

Ketiga, dukungan dan aktivitas dari para alumni yang dihasilkan setiap tahun Tuntutan yang paling penting adalah bagaimana UIN sebagai institusi pendidikan tinggi memiliki komitmen khusus terhadap pembangun tradisi keilmuan Islam itu sendiri

Dijumpai berbagai teori yang mengungkapkan proses penyebaran Islam di Nusantara. Pertama, teori perdagangan, mengungkapkan, bahwa Islam disebarkan oleh pedagang- pedagang Islam yang datang berniaga di Nusantara.

Kedua, teori mubaligh, menyatakan bahwa agama Islam disebarkan oleh para mubaligh dari India.

Ketiga, teori tasawuf, menjelaskan, bahwa Islam disebarkan oleh kaum tasawuf atau sufi.

Keempat, teori politik, yang berpendapat bahwa raja-raja memeluk agama Islam akan mendapat sokongan dari kaum pedagang Islam. Rakyatnya kemudian turut masuk Islam.

Kelima, teori anti Nasrani, mengungkapkan, bahwa penyebaran agama Islam adalah akibat dari kedatangan orang-orang Portugis di Nusantara.

Keenam, teori keunggulan agama Islam, yakni Islam mengajarkan kesamarataan (egality) dan persaudaraan antara sesama penganutnya. Keunggulan ini dinilai menarik bila dibandingkan dengan agama Hindu yang membeda-bedakan kasta (LiawYock Fang, 2011).
Fakta historis yang melatarbelakangi masuknya agama Islam ini, sedikit banyaknya ikut berpengaruh dalam perkembangan Islam di Nusantara.

Paling tidak yang terlihat dari keenam teori tersebut, latar belakang penyebaran Islam di Nusantara lebih cenderung berorientasi kepada nilai- nilai ajaran tasawuf dan fiqh.

Ajaran tasawuf itu selanjutnya melahirkan berbagai aliran tarikat (thaqiqah).

Sementara fiqh melahirkan ajaran-ajaran yang berhubungan dengan hukum-hukum Islam.

Kecenderungan selanjutnya melahirkan para tokoh-tokoh, serta karya-karya mereka.

Sebut saja misalnya penganut tasawuf terkenal yakni Hamzah Fansuri, Syamsuddin Sumatrani Nuruddin ar-Raniry, Abdurrauf Singkel, Abdul Samad al-Palimbani, Nawawi al-Bantani, maupun Arsyad al--Banjari.

Selain itu juga dikenal tokoh- tokoh Walisongo. Tokoh-tokoh yang terus muncul secara generatif.

Dari sekian banyak karya tulis yang dihasilkan para ulama Nusantara tersebut, boleh dikatakan belum ada yang ke luar dari "pakem" tasawuf dan fiqh.

Karya-karya ini membawa pada kesimpulan, bahwa perkembangan nilai-nilai ajaran Islam di Nusantara baru terpusat pada aspek ibadah.

Khususnya ibadah mahdhah yang identik dengan "rukun Islam."

Terentang dari syahadatain, shalat, puasa, zakat dan haji. Bila semuanya sudah ditunaikan secara baik dan benar, maka seorang Muslim sudah dianggap sebagai sosok pribadi Muslim yang "kaffah" (utuh).

Sementara aspek lainnya yang menyangkut tradisi keilmuan bagaikan "terabaikan."

Dalam kaitan ini pula diharapkan UIN mampu memainkan perannya.

Oleh sebab itu, kehadiran UIN paling tidak, mampu "menggugah pemahaman" , masyarakat bahwa Iqra' tidak hanya sekedar kemampuan atau keterampilan mengeja "huruf" yang terkemas dalam 6 (enam) jilid.

Dan secara khusus diperuntukkan bagi bacaan bocah-bocah di Taman Bacaan Al-Qur'an. Konsep iqra' mesti dikembalikan ke nilai-nilai esensinya, yakni membaca, meneliti, mendalami, serta memahami a-yat-ayat Allah, yakni 1) ayat yang bersifat verbal, yaitu Al-Qur'an; dan 2) ayat yang non-verbal, yaitu alam semesta.

Kampus UIN RADEN FATAH Palembang.
Kampus UIN RADEN FATAH Palembang. (https://www.google.co.id)

Keduanya bersumber Dzat Yang Maha Esa, tidak mungkin bertentangan (Thosihiko Izutsu, 1992).

Dengan memperhatikan gejala dan peristiwa alam ini, manusia sampai pada kesimpulan, bahwa semuanya itu tidak timbul begitu saja.

Semuanya diciptakan, dan digerakkan oleh Dzat yang berada di baliknya, yang disebut Maha Pencipta dan Penggerak alam semesta (Harun Nasution, 1983).

Dari ide-ide normatif, perumusan ilmu-ilmu dibentuk sampai kepada tingkat yang empiris, dan sering dipakai sebagai basis untuk kebijakan-kebijakan aktual. (Kuntowijoyo, 1991).

Barangkali dalam pandangan yang senada, Guru Besar Fisika ITB, Mikrajuddin Abdullah menganjurkan Al- Qur'an mulai jadi rujukan sains.

Al-Qur’an itu sumber dari semua pengetahuan. Tugas kita meneliti bagaimana ayat- ayat Al- Qur'an diaplikasika bagaimana maknanya.

Editor: Salman Rasyidin
Sumber:
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved