Heboh SPG Tabrak Driver Online, Ternyata Ini 7 Sisi Lain SPG yang Dicap Nakal hingga Bayarannya
Tapi sayangnya, ada banyak sisi lain dari seorang SPG yang sering kali membuat kaum pria berdesir ketika berdekatan dengannya.
Penulis: Candra Okta Della | Editor: Candra Okta Della
SRIPOKU.COM - Cap nakal kepada seorang Sales Promotion Girl (SPG) sudah lumrah terjadi.
Wanita cantik dengan pakaian seksi merupakan image umum yang diperlihatkan seorang SPG.
Yah, wajar saja mereka dituntut berpenampilan semenarik mungkin untuk memasarkan dan menjual produknya.
Tapi sayangnya, ada banyak sisi lain dari seorang SPG yang sering kali membuat kaum pria berdesir ketika berdekatan dengannya.
Baru-baru ini, wanita cantik Tiara Ayu yang berprofesi sebagai SPG sontak membuat heboh.
Ia menabrak seorang driver ojek online sampai mengalami patah kaki.
Mengendarai sedan BMW 320i, Tiara diketahui sedang dalam kondisi mabuk saat memacu mobil tergolong mewah itu.
Tapi Tiara disebutkan Polisi bertanggung jawab, ia menjamin semua pengobatan korban dan selalu kooperatif ketika dimintai keterangan oleh Polisi.
Namun tahukah, dibalik balutan pakaian yang seksi dan sering kali dianggap menggoda.
Tenyata setidaknya ada 7 sisi lain SPG, mulai dari pengakuan diajak ngamar hingga sistem kerjanya.
1. Penghasilan SPG Jauh Lebih Besar dari Sarjana
Tiara Ayu menjadi contoh nyata seorang SPG bisa jauh lebih tajir dari wanita sarjana.
Apalagi diketahui, Tiara juga memiliki pekerjaan lain mulai dari model hingga pemandu karoke.
Tapi, meski pun tidak memiliki pekerjaan sampingan seorang SPG sudah memiliki pendapatan cukup besar.
Fee SPG produk rokok dan mobil bisa mencapai 3x lipat gaji lulusan S1
SPG dibayar berdasarkan “grade”.
Ada grade C, B, sampai yang tertinggi adalah A.
Penilaian apakah si SPG berhak mendapat nilai A, B, atau C sangat bergantung pada penampilan fisik dan selera perekrut.
Setiap grade memiliki fee yang berbeda-beda.
Misalkan di industri rokok, SPG grade B digaji Rp 350.000 per-shift (6 s.d 9 jam).
Apalagi SPG grade A, bisa digaji Rp 500.000 per-shift!
Sekarang coba aja misalnya Rp 500.000 dikali 20 hari kerja dalam sebulan, maka total penghasilan SPG grade A adalah Rp 10.000.000.
Ini masih fee dari hari kerja, belum lagi ibaratkan kalo si SPG ambil kerja di Sabtu dan Minggu (biasanya di event-event) maka penghasilannya Rp 15.000.000,-
2. Semakin Sopan Pakaian, Produk Semakin Mahal

Ternyata, semakin tertutup pakaian SPG, brand yang diwakilinya semakin mahal. Sedangkan SPG berpakaian terbuka justru cenderung mewakili brand menengah kebawah.
Hal itu bisa dilihat ketika ada pameran mobil.
Mobil mahal kelas atas biasanya menampilkan SPG dengan pakaian yang sopan dan elegan menurut kultur Indonesia. Kenapa? Karena segmen pembeli mobil mahal adalah pria berusia 40 tahun yang biasanya sudah sangat mapan dan memiliki istri.
Bayangkan apa yang terjadi kalo SPG/Usher yang mejeng di mobil mewah tersebut berpakaian terlalu seksi, pasti bininya langsung minta si suami beli mobil ke tempat laim.
Selain itu, brand menengah keatas tentu tidak mau produknya “diwakili” oleh perempuan berpakaian terlalu seksi karena suka gak suka, di Indonesia cewek berpakaian terbuka masih dianggap negatif.
Brand kelas ekslusif nggak akan mau merknya diwakili oleh SPG berkonotasi negatif karena akan menjatuhkan merknya sendiri.
Justru, SPG yang berpakaian lebih terbuka biasanya ditempatkan pada brand dengan segmen menengah kebawah. Kenapa? Karena segmen sasaran brand tersebut adalah pria lajang yang belum menikah dan belum mapan.
Contoh lainnya juga dapat ditemukan pada brand rokok.
Rokok yang belum banyak dikenal masyarakat dan berharga murah biasanya menggunakan SPG berpakaian seksi supaya lebih mudah menarik perhatian calon konsumen.
Beda halnya dengan brand rokok terkenal apalagi yang mahal, konsumennya sudah banyak sehingga gak perlu rekrut SPG dengan pakaian terlalu seksi.
3. Ditipu Agency Sejak Pertama Bekerja

Tahukah, ternyata sejak awal bekerja seorang SPG sudah ditipu.
Seperti diketahui, nyaris setiap pekerjaan sales tentunya memiliki target penjualan yang harus dicapai.
Namun di hari pertama, biasanya si SPG tidak dikasih tahu jika ada target. Hal ini biasanya terjadi pada SPG rokok, kenapa?
Pertama, agency ingin melihat kelakuan si SPG yang sebenarnya.
Apakah akan bekerja profesional meski tidak ada target, lalu si SPG jadi pasif dan males-malesan kerjanya? Atau dia tetep berusaha menjual sebanyak-banyaknya?
Dikhawatirkan, kalo si SPG tau berapa target yang ditetapkan perusahaan, mereka akan melakukan cara curang yaitu “membuang rokok”.
Simpelnya, seakan-akan rokok yang dia jual ludes semua padahal mah dia sendiri yang beli, atau bisa jadi dia jual dengan harga lebih murah ke distributor.
Hal tersebut sangat mungkin terjadi. Makanya supaya SPG di hari pertamanya tidak terdorong untuk curang, target penjualan biasanya tidak dikasih tahu.
Tapi, jika dihari pertama sudah malas biasanya akan langsung distop saat itu juga.
4. Dicap Nakal hingga Diajak Ngamar
Bukan satu dua seorang SPG juga cuma berlindung di balik profesinya.
Ada beberapa yang juga memiliki pekerjaan sampingan yang bisa dipakai alias diajak ngamar.
Bahkan ada yang mengaku SPG hanyalah batu loncatan untuk menjadi seorang model.
Seperti dikutip Sripoku.com dari Tribunnews mengungkap pengakuan SPG yang blak-blaka bisa diajak ngamar.
Dengan balutan dress putih ketat di atas lutut dan tanpa lengan, lekuk tubuh SPG bernama Nia itu begitu jelas terlihat.
Mahasiswa perguruan tinggi swasta di Jakarta ini mengaku menjadi SPG hanya sebagai batu loncatan saja.
"Kalau beruntung jadi model atau artis kalau tidak ya gitu deh," kata Nia.
Ia mengatakan dalam pameran otomotif terbesar di Indonesia ini banyak agency model yang berburu wanita cantik dengan mengamati para SPG untuk menjadi model mereka.
Selain itu, banyak pula pria berduit yang memanfaatkannya untuk mengajak para SPG berkencan.
“Gue gak munafik, kalau orangnya keren dan gue suka serta bayarannya gede, kenapa enggak, gue ambil, dan gue kasih pin BB gue" katanya.
Selama 11 hari pameran IIMS itu, Nia mengaku dibayar Rp 10 juta atau Rp 1 Juta per shift (6 jam) dalam sehari.
Bayarannya itu diluar uang makan dan transportasi yang ditanggung produsen mobil yang mengontrak Nia, juga rekan-rekannya.
“Sebelas hari berdiri di pameran dibayar Rp 10 Juta, sementara nemenin cukong seharian dan 'begituan', dibayar Rp 10 juta. Enakan mana coba? Makanya gue bilang gue gak munafik, apalagi kalau orangnya keren, hehehe,” kata Nia tertawa kecil.
Nia mengaku tak sembarangan pria yang dapat mengajaknya tidur atau berkencan.
“Gue milih-milih juga. Kalau bayaran standar dan orangnya gue gak suka, gue tolak," ujarnya.
Menurut Nia, beberapa rekannya melakoni hal yang sama dengannya.
“Tapi gue gak mau dibilang PSK. Gue milih orang dan liat orang, sama bayarannya juga tentunya,” kata dia.
Ia mengatakan biasanya transaksi seks akan dilakoninya usai IIMS berakhir.
“Kenalnya memang di IIMS, tapi jalannya setelah IIMS kelar dong,” katanya. Alasan dia, selama kontrak menjadi SPG di IIMS, mereka tak boleh absen selama 11 hari itu. “Kalau bolong sehari, potongannya lumayan gede, sampai Rp 2 juta,” kata dia.
Nia sudah menjadi SPG di IIMS untuk yang kedua kalinya.
“Tahun lalu juga jadi SPG di sini. Beberapa temen direkrut jadi model, tapi gue belum. Teman lain ada yang jadi simpanan pejabat juga,” ungkapnya. (Tribunnews/TEDP.)
5. Mengapa Harus SPG Harus Cantik

Rupanya ada alasan sendiri mengapa sebuah produk mewajibkan SPG harus cantik.
Bukan cuma terlihat lebih menarik, ada alasan ekonomi yang dilihat sebuah produk dari seorang SPG Cantik.
* Memperkuat Brand
* Lebih mudah membedakan SPG dan pengunjung
* Media lebih suka dengan SPG cantik karena dapat lebih menjual saat difoto
* Lebih terlihat segar
* Khususnya SPG kendaraan fakta mengungkapkan SPG cantik jauh lebih banyak menjual produk.
(Sripoku.com/Candra)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/spg_20170723_142225.jpg)