Dampak Pembangunan Jembatan Musi VI Sebabkan Rumah Warga Miring dan Retak
"Banyak rumah retak-retak dan miring akibat pembangunan. Kami warga 2 Ulu inginnya pihak NK melakukan perbaikan," ujarnya.
Penulis: Rangga Erfizal | Editor: Tarso
Laporan wartawan sriwijaya post, Rangga Erfizal
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Warga Kelurahan 2 Ulu Palembang yang merasakan dampak pembangunan jembatan Musi VI berjanji akan melakukan aksi protes jika tuntutan ganti rugi tidak dikabulkan oleh pihak Nindia Karya selaku pemegang proyek jembatan penghubung wilayah Ilir dan Ulu Kota Palembang.
Menurut Ujang (37) salah satu warga disekitar jembatan yang terkena dampak mengaku, permasalahan lahan sebenarnya sudah selesai.
Hanya saja tuntutan warga kali ini untuk meminta kepastian akibat pembangunan.
"Banyak rumah retak-retak dan miring akibat pembangunan. Kami warga 2 Ulu yang terdampak inginnya pihak NK melakukan perbaikan dan ganti rugi," ujarnya.
Lanjutnya, protes yang dilakukan oleh warga bukan tanpa alasan. Hal ini berdasar apa yang mereka rasakan.
Menurut Ujang, rumah orangtuanya yang langsung menghadap sungai sempat roboh dan tidak ada tanggapan dari pemerintah dan pemilik proyek.
"Seakan-akan kami dianak tirikan. Tidak ada upaya ganti rugi, tidak ada keinginan mereka melihat warga yang terdampak pembangunan jembatan," ujarnya.
Sementara Dessy, ketua RT 11 Kelurahan 2 Ulu, membenarkan apa yang diungkapkan oleh warga.
Menurutnya untuk persoalan tanah di wilayah Ulu sudah 95 persen selesai. Namun yang menjadi persoalan saat ini ialah pembuatan ganti rugi dampak pembangunan yang merugikan 26 Kepala Keluarga di 3 RT di daerah 2 Ulu.
"Banyak warga mengeluh akibat dampak pembangunan seperti rumah yang retak, miring dan sebagainya. Hanya saja dari 26 KK tersebut semuanya belum mendapat kepastian. Belum ada omongan lebih lanjut dari pihak NK dan Pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan ganti rugi bangunan," ujarnya.
Lanjut Dessy, pengerjaan Musi VI sudah berhenti dikerjakan selama seminggu terakhir. Dirinya tidak mengetahui alasan pasti mengenai mangkraknya pengerjaan jembatan.
"Bisa jadi karena protes warga ini atau karena cuaca," ungkap ketua RT 11 tersebut.
Dari pantauan Sripo di kawasan pemukiman warga terdampak pembangunan jembatan, salah satu rumah yang paling parah mengalami kemiringan sekitar 45 derajat.
Rumah bercat hijau dengan bentuk bangunan dua lantai tersebut merupakan salah satu rumah yang parah terdampak pembangunan.
Sementara saat dimintai keterangan Joko Saputra Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Musi VI tidak menampik keadaan yang menghambat pengerjaan jembatan.
Menurutnya pengerjaan fisik saat ini masih 61 persen, dengan kendala seperti sebelumnya yakni lahan yang belum 100 persen dibebaskan.
"Saat ini progres fisik masih sekitar 61 persen dan sampai sekarang masih terkendala lahan yang masih belum bebas baik di Wilayah Ulu dan Ilir," ujarnya.
Selain kendala pembebasan lahan dirinya juga mengaku kondisi cuaca yang tidak menentu mengakibatkan pengerjaan terhambat. Bahkan Joko mengaku menghentikan proses pengerjaan ketika hujan mengguyur.
"Memasuki musim hujan seperti saat ini juga membuat pengerjaan kita terganggu. Kalau hujan kita stop, tentu menimbang berbagai aspek," ungkap dirinya. (mg2)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/rumah-miring_20180326_191209.jpg)