Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam dari FITK UIN Raden Fatah Palembang Belajar Jurnalistik

Mata kuliah pilihan ini merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendalami jurnalistik, karena nanti pasti akan berguna bagi mereka

Mahasiswa Prodi Pendidikan Agama Islam dari FITK UIN Raden Fatah Palembang Belajar Jurnalistik
SRIPOKU.COM/YULIANI
Mahasiswa prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dari FITK UIN Raden Fatah Palembang mengikuti pelatihan dan orientasi jurnalistik di meeting room SKK Migas Jakabaring Palembang, Kamis (1/3/2018). 

Laporan wartawan Sripoku.com, Yuliani

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Pentingnya membuat karya tulis baik bersifat KTI maupun karya jurnalistik membuat guru harus memiliki bekal keterampilan berbahasa khusus di bidang jurnalistik.

Apalagi saat ini serapan informasi harus ditelaah dengan baik agar bisa membedakan mana berita yang hoaks dengan tidak.

Hal inilah yang melatarbelakangi mahasiswa prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dari FITK UIN Raden Fatah Palembang sengaja memilih konsentrasi ini untuk belajar satu semester.

"Mata kuliah pilihan ini merupakan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendalami jurnalistik, karena nanti pasti akan berguna bagi mereka," ujar Kaprodi PAI, H Alimrom, MAg usai pembukaan pelatihan dan orientasi jurnalistik di meeting room SKK Migas Jakabaring, Kamis (1/3/2018).

Baca:

Dosen UIN Raden Fatah Palembang Sukses Presentasikan Paper Penelitian di India

Undang 98 Sekolah, UIN Raden Fatah Palembang Sosialisasi PMB. Ini Prodi Favorit Calon Mahasiswa

Mahasiswa prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dari FITK UIN Raden Fatah Palembang mengikuti pelatihan dan orientasi jurnalistik di meeting room SKK Migas Jakabaring Palembang, Kamis (1/3/2018).
Mahasiswa prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) dari FITK UIN Raden Fatah Palembang mengikuti pelatihan dan orientasi jurnalistik di meeting room SKK Migas Jakabaring Palembang, Kamis (1/3/2018). (SRIPOKU.COM/YULIANI)

Maka itu pihaknya berharap, meskipun mahasiswa ini merupakan calon guru namun mereka setidaknya punya bekal saat menjadi guru nanti.

Minimal bisa menulis karya jurnalistik yang layak dikonsumsi publik.

"Yang jelas mereka harus bisa menjadi guru yang smart dengan menghasilkan karya tulis yang sudah mumpuni.

Tentu saja selalu berpegangan pada sifat amanah, fatonah, dan hal baik lainnya," jelasnya.

Penulis: Yuliani
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved