Irigasi OKUT Rusak Berbulan-bulan, Balai Besar tak Ada Tindakan

Ruas jalur irigasi sekunder yang mengairi lahan sawah warga Desa Riang Bandung dan Desa Suka Negara,

Tayang:
Penulis: Evan Hendra | Editor: Odi Aria Saputra
SRIPo/EVAN HENDRA
Kondisi salusan sekunder irigasi yang rusak dan tak kunjung diperbaiki. Warga Desa Riang Bandung dan Suka Negara gotong royong melakukan perbaikan. 

SRIPOKU.COM, MARTAPURA - Ruas jalur irigasi sekunder yang mengairi lahan sawah warga Desa Riang Bandung dan Desa Suka Negara, Kecamatan Madang Suku II, Kabupaten OKU Timur rusak sejak beberapa bulan lalu.

Belum ada tanda-tanda akan dilakukan perbaikan oleh pihak balai besar sehingga membuat warga resah karena tidak bisa mengairi lahan sawah mereka.

Warga dua desa tersebut yang kesal bercampur khawatir akhirnya mengambil inisiatif untuk melakukan perbaikan secara swadaya dan mengambil sumbangan dari warga terutama yang lahan sawahnya membutuhkan air dari aliran irigasi sekunder tersebut.

"Ini sudah memasuki musim tanam dan sebagian warga memang sudah ada yang mulai menggarap lahan dengan memanfaatkan air hujan.

Namun tidak lama lagi kemarau.

Dan air hujan yang ada tidak bisa memenuhi kebutuhan sawah sehingga warga terpaksa mengambil keputusan untuk melakukan perbaikan secara swadaya sehingga irigasi tersebut bisa berfungsi," ungkap Nata (45) Warga Desa Riang Bandung ketika diwawancarai Selasa (23/1/2018).

Menurut Nata, kerusakan saluran irigasi sekunder yang menjadi harapan petani untuk mengairi sawah sudah terjadi sejak tujuh bulan lalu.

Laporan sudah disampaikan kepada sejumlah pihak mulai dari kepala desa, camat hingga balai besar.

Namun hingga saat ini perbaikan belum dilakukan sehingga membuat masyarakat khawatir.

"Masyarakat kemudian mengambil keputusan untuk melakukan perbaikan secara swadaya agar bisa bermanfaat bagi masyarakat," ungkapnya.

Sementara Kepala Desa (Kades) Riang Bandung Kecamatan Madang Suku II, Sopuan Natar Mashur mengatakan, kerusakan saluran sekunder irigasi tersebut sudah disampaikan kepada pihak terkait.

Namun hingga saat ini belum ada tindakan sehingga warga mengambil tindakan untuk melakukan swadaya.

"Tanaman padi petani sudah berusia satu bulan saat ini.

Air hujan sudah tidak mencukupi lagi sehingga menyebabkan tanah lahan sawah pecah-pecah.

Jika dibiarkan maka dipastikan akan banyak petani yang mengalami gagal panen terlebih saat ini sudah mulai jarang hujan," jelasnya.

Warga yang khawatir dan was-was kata dia, akhirnya memutuskan untuk melakukan diskusi dan melakukan perbaikan secara swadaya dan sumbangan untuk membeli material yang dibutuhkan untuk perbaikan jalur irgasi sekunder tersebut.

Perbaikan saluran irigasi tersebut kata dia, dilakukan selama dua hari dengan melibatkan sejumlah warga terutama yang pengairan lahan sawahnya terganggu akibat kerusakan jaringan sekunder tersebut.

"Dengan adanya perbaikan ini diharapkan dapat mengatasi kekurangan air yang selama ini dikeluhkan oleh warga," katanya.

Natar juga menambahkan untuk di Desa Riang Bandung saluran sekunder irigasi ini mengaliri 200 hektare (Ha) lahan sawah.

Jika kondisi normal setiap satu hektarnya bisa menghasilkan tujuh ton padi.

Namun Karena mengalami kerusakan dan kerap mengalami kekurangan air, maka hasilnya mengalami kekurangan meskipun tidak terlalu signifikan.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved