Ada Motif Lain dari Kasus Penjualan Anak oleh Tersangka Yanti, Ini Faktanya

Ksus ini terkuak berawal dari laporan suaminya Junaidi ke Polresta Palembang, yang melaporkan Istri dan anaknya menghilang.

Ada Motif Lain dari Kasus Penjualan Anak oleh Tersangka Yanti, Ini Faktanya
SRIPOKU.COM/ANDI WIJAYA
Kapolresta Palembang, kombes Pol Wahyu Bintono Hari Bawono didampingi Kabag Ops Kompol Maruly Pardede dan Kasat Reskrim Kompol Yon Edi Winara, Kamis (18/1), saat mengelar perkara tersangka penjualan bayi, Yani Fatimah alias Yanti. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Dari hasil pendalaman unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polresta Palembang, terkuak alasan tersangka Fatimah alias Yanti (42), menjual anaknya yakni AAS berumur 2,5 bulan,
karena motif ekonomi.

Kepada petugas penyidik PPA, Yanti mengaku sebagian uang dari penjualan anaknya Rp 20 juta, digunakan untuk membeli sabu-sabu, yang dipakai bersama teman-temannya selama dirinya tak pulang 1 bulan, saat
menghilang dari rumah.

" benar Fatimah alias Yanti, sudah ditetapkan Sebegai tersangka, atas kasus penjualan anak," ungkap Kapolresta Palembang, kombes Pol Wahyu Bintono Hari Bawono, Kamis (18/1), saat mengelar perkara.

Lanjut Wahyu, kasus ini terkuak berawal dari laporan suaminya Junaidi ke Polresta Palembang, yang melaporkan Istri (Fatimah-red) dan anaknya (AAS-red), menghilang dari rumah sudah 1 bulan.

"Dari sana kemudian anggota PPA Polresta Palembang, langsung menindaklanjutinya. Alhasil keberadaan Fatimah pun ditemukan di kawasan 3 Ilir Palembang, namun anaknya ASS belum diketahui," kata bapak
berpangkat Melati tiga itu.

Terus dilakukan pendalaman, dari hasil penyelidikan petugas PPA, kemudian dari nyanyian Fatimah muncullah nama, A Masja Sunadi, warga Cikande Serang.

" Nah kemudian petugas PPA kembali melakukan pengembangan dan berangkat ke Serang. Alhasil setelah dilakukan penyelidikan disana selama 2 hari, Masja pun berhasil diamankan, beserta AAS, " katanya.

Namun dari hasil pemeriksaan, sambung Wahyu, dari pengakuannya, ia nekat membeli AAS dari Fatimah, lantaran ditawari yang bersangkutan.

"karena tak mempunyai anak, Masja pun lalu membelinya seharga Rp 20 juta. Dan hingga kini AAS pun sudah dikembalikan kepada bapaknya (Junaidi)," bebernya.

Atas ulahnya, Fatimah diancam pasal 76F junto pasal 83 UU RI, No 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak.

" Saya khilaf pak melakukan ini, karena kebutuhan ekonomi kami susah," katanya. Namun ketika ditanya uang habis untuk pesta sabu, Fatimah pun tak mengakuinya. 

Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved