Tembak Istrinya 6 Kali Beruntun hingga Terkapar. Terbongkar Dokter Helmi Dapatkan Senjata Dari Sini

Dokter Helmi begitu mudah menarik pelatuk pistol hingga menembak istrinya 6 kali hingga terkapar. Kini setelah sang istri telah tiada

Tembak Istrinya 6 Kali Beruntun hingga Terkapar. Terbongkar Dokter Helmi Dapatkan Senjata Dari Sini
kolase
Dokter Helmi senjata dan dokter Lety 

Tapi, permintaan itu ditolak sehingga pelaku naik pitam.

Dokter Helmi menembaki istrinya dengan dua pistol rakitan berjenis Revolver dan FN yang dibawanya saat datang ke klinik itu.

Dapatkan Senjata dari Sini

Seperti diketahui, setelah menembaki istrinya, dokter Helmi menyerahkan diri ke polisi. 

Ia menyerahkan dua pucuk senjata api kepada polisi. 

Dari mana ia mendapatkannya, sampai saat ini polisi masih menggali informasi dari dokter Helmi yang terus meracau dan terlihat begitu tertekan. 

Namun demikan, menurut Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Argo Yuwono, ada dua cara untuk mendapatkan senjata api

Senjata rakitan, tentu tidak disertai dengan sertifikasi resmi dan tidak ada izin dari pihak berwenang.

“Namanya rakitan ada suratnya atau tidak kira-kira? Ya pasti ilegal,” katanya

Dua senjata yang diserahkan dokter Helmi
Dua senjata yang diserahkan dokter Helmi (istimewa)

Menurut Argo, dua senjata yang dibawa oleh Helmi sedang dalam pemeriksaan laboratorium forensik.

Argo bertutur bahwa sepanjang kasus-kasus terdahulu, senjata rakitan memang bisa dibeli, biasanya berada dari luar Jawa.

Namun, tidak sedikit juga ada industri dan bengkel secara ilegal merakit senjata api.

Secara resmi, senjata api di Indonesia hanya bisa diperoleh dari PT Pindad dan atas izin dari kepolisian.

Nomor senjata tersebut tentu tercatat dalam bank data polisi.

Ia juga menandaskan bahwa Perbakin, yang diberi izin untuk memegang senjata, pun harus melalui proses perizinan dari pihak kepolisian.

Setiap hari, penggunaan mereka terbatas pada tempat-tempat tertentu, biasanya di Lapangan Tembak Senayan.

Senjata berburu itu pun tidak sembarangan penggunaannya, menurut Argo, dan bukan senjata rakitan seperti milik Helmi.

“Beda case. Kalau Perbakin ada aturan sendiri. Senjata olahraga atau berburu jangan disamakan dengan rakitan,” tandasnya lagi.

Dokter Helmi senjata dan dokter Lety
Dokter Helmi senjata dan dokter Lety (kolase)

Sepanjang pengetahuan Argo, pengawasan senjata di lingkungan DKI Jakarta sudah terpantau dengan baik.

Tidak ada pemilik senjata resmi atas izin kepolisian yang melakukan pelanggaran dan terus dipantau secara berkala.

Kendati demikian, Argo tidak menyebutkan detail waktu pemantauan tersebut dilakukan.

“Kita kan ada datanya siapa yang punya senjata api, ada yang punya, ada yang masa berlakunya terbatas. Biasa kita lakukan rutin itu (pengecekannya),” ucapnya. (*)

Penulis: Candra Okta Della
Editor: Candra Okta Della
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved