Belman: Banyak Pemuda yang Gagah-gagahan, Pintar Galo. Tapi Dua Hal Ini Harus Dibenahi

Plt Kadinsos Sumsel mengingatkan agar, khususnya para pemuda, untuk tidak menyepelekan seremoni upacara peringatan Hari Pahlawan.

Belman: Banyak Pemuda yang Gagah-gagahan, Pintar Galo. Tapi Dua Hal Ini Harus Dibenahi
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Plt Kepala Dinas Sosial Sumsel Belman Karmuda SH MSi menabur bunga di makam pahlawan Mayjen TNI DR AK Gani pada Upacara Ziarah Nasional dalam rangka memperingati ke-72 tahun Hari Pahlawan di TMP Ksatria Ksetra Siguntang, Jumat (10/11/2017). 

Laporan wartawan Sriwijaya Post, Abdul Hafiz

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Plt Kepala Dinas Sosial Sumsel Belman Karmuda SH MSi mengingatkan agar, khususnya para pemuda, untuk tidak menyepelekan seremoni upacara peringatan Hari Pahlawan.

"Hari ini kita upacara ziarah nasional momen peringatan Hari Pahlawan. Jumat 12 November serentak di Kantor Gubernur. Himbauan pusat boleh di tanggal kapan pun di bulan November.

Kemensos minta 10 menit mengheningkan cipta seluruh warga. termasuk di jalan mengenang arwah pejuang Indonesia.

Momen ini mengingatkan kepada generasi muda nilai kepahlawanan di kehidupan anak muda," ungkap Belman usai menjadi inspektur upacara Ziarah Nasional dalam rangka memperingati ke-72 tahun Hari Pahlawan di TMP Ksatria Ksetra Siguntang, Jumat (10/11/2017).

Belman mengatakan saat ini nilai rela berkorban tanpa pamrih mulai berkurang sejak globalisasi.

Momen inilah untuk mengingatkan kembali, selain 17 Agustus.

"Indonesia kemerdekaan, kebebasannya melalui perjuangan. Setelah agresi kedua itu benar benar kemerdekaan 1949 gugurnya Jenderal Malabay.

Memang 1945 kita proklamasi. Menumbuhkan rasa memiliki, sifat kepedulian itu ada menghasilkan yang lebih baik. Ke depan tumbuh kepedulian sosial, rasa kesetian sosial," kata Belman.

Belman mengaku sudah banyak kegiatan yang dilakukan sebelum 10 November 2017.

Di antaranya menggelar gotong royong seluruh PSKS seperti melibatkan Tagana itu ikut membersihkan TMP Ksatria Ksetra Sigintang.

"Kenapa di sini. Agar mereka bisa melihat sudah banyak yang bersemayam. Masih banyak tempat.

Tidak bisa dilepaskan seremonial. Tujuannya untuk mengiatkan kemerdekaan tidak didapat dari hadiah.

Kalau dulu itu kegotongroyongan seperti Jenderal Sudirman, ibu ibu bikin makanan. Gadis gadis membantu P3K. Kalau diajak pembersihan di TMP saja sudah tidak mau, gimana. Banyak yang sudah gagah-gagahan, pintar galo, main ke mal. Tapi moral dan etika yang harus dibenahi," ujarnya.

Penulis: Abdul Hafiz
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved