Anda Bisa Mendaki Gunung Agung saat Ini, Tapi Ini Pantangan yang tak Boleh Diabaikan

"Salah satu pantangannya, jika ada keluarga dekat atau sepupu yang meninggal tidak diperbolehkan mendaki gunung.

Editor: Hendra Kusuma
Kompas Regional
Gunung Agung. 

SRIPOKU.COM-Selain menjadi destinasi wisata kebangaan dan simbol bagi Bali. Gunung Agung adalah gunung tertinggi sekaligus yang paling disakralkan umat Hindu di Bali.

Tak heran, banyak kisah mistis dan peraturan adat yang wajib ditaati pengunjung.

Terlebih lagi, Gunung Agung terbuka untuk pendaki dari manapun.

Selain mendaftarkan diri di pos pendakian, pendaki juga wajib menaati peraturan adat serta menghindari pantangan-pantangan tertentu.

"Salah satu pantangannya, jika ada keluarga dekat atau sepupu yang meninggal tidak diperbolehkan mendaki gunung. Karena mereka dalam keadaan bersedih," tutur Koordinator Pemandu Pendakian Gunung Agung, Komang Kayun kepada KompasTravel.

Pantangan lainnya, lanjut Komang, adalah saat haid atau datang bulan bagi wanita. 

"Pendaki juga tidak boleh membawa bahan makanan dari daging sapi, juga membawa perhiasan dari emas," tambahnya.

Lalu bagaimana jika keluarga dekat meninggal dan pendaki tetap ingin menaiki Gunung Agung?

Komang Kayun menyebutkan bahwa ada jangka waktu tertentu, terutama bagi pendaki yang anaknya baru meninggal

gunung agung
gunung agung ()

"Bagi yang anaknya baru meninggal, itu (bisa mendaki setelah) dihitung dari dikubur sampai 42 hari. Kalau mati biasa, itu 21 hari. Mati bunuh diri itu termasuk yang 42 hari," paparnya.

Lalu bagaimana jika orang tua yang meninggal?

Komang Kayun menyebutkan bahwa masa berkabung adalah 11 hari.

Dalam 11 hari itu, seseorang dilarang naik Gunung Agung.

Lalu apa dampaknya jika pendaki mengindahkan peraturan adat tersebut?

Komang Kayun menjelaskan beberapa kasus mistis, yang terjadi di luar nalar jika pendaki tidak mematuhi aturan.

"Saya sering lihat sendiri (hal mistis) muncul. Misalnya (pendaki) membawa daging sapi. Itu angin menghalangi kita naik. Seperti sampai tak bisa jalan," kisahnya.

Tak ada salahnya mengikuti aturan adat masyarakat setempat.

Pengojek atau supir supir taksi menunggu wisatawan yang ingin menggunakan jasa ojek atau taksi di sekitar jalur pendakian Gunung Ijen, Jawa Timur (9/9/2017). Pengojek atau supir taksi itu akan mengantarkan wisatawan menggunakan gerobak. (KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO)
Pengojek atau supir supir taksi menunggu wisatawan yang ingin menggunakan jasa ojek atau taksi di sekitar jalur pendakian Gunung Ijen, Jawa Timur (9/9/2017). Pengojek atau supir taksi itu akan mengantarkan wisatawan menggunakan gerobak. (KOMPAS.com / WAHYU ADITYO PRODJO) (http://travel.kompas.com/)

Jika status Gunung Agung telah kembali normal, Anda bisa menikmati keindahan gunung tertinggi di Pulau Dewata ini ditemani pemandu lokal. (Kompas.com/Wahyu Adityo Prodjo)

Berita ini telah dimuat di Kompas.com dengan judul: Jika Mendaki Gunung Agung, Jangan Abaikan Pantangan Ini

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved