Menyandingkan Agung dan Fitri

ADA seorang lelaki yang berkunjung ke rumah Sayyidina Ali disaat sedang hari raya. Dilihatnya menantu Baginda Rasulullah Saw ini sedang makan roti tan

Editor: Bedjo

Oleh: Izzah Zen Syukri
(Dosen FKIP dan Manager Pondok Pesantren Muqimus Sunnah Palembang)

SRIPOKU.COM - ADA seorang lelaki yang berkunjung ke rumah Sayyidina Ali disaat sedang hari raya. Dilihatnya menantu Baginda Rasulullah Saw ini sedang makan roti tanpa lauk pauk. Orang itu pun penasaran. "Wahai amirul mukminin, katanya, "hari ini adalah hari raya. Kenapa Anda hanya makan roti?"

Berita Lainnya:
Apa Makna DiBalik Zakat Fitrah Yang Kita lakukan Sebelum Idul Fitri

Sayyidina Ali menjawab, "Bagi kami hari ini adalah hari raya, besok juga hari raya. Setiap hari yang kami lalui tanpa maksiat kepada Allah adalah hari raya".

Pepatah Arab menyatakan, laisa `iidu liman akalat thoyyibaati wa tamatta'a bisysyahwaati wal ladzdzaat, laakinil `iidu liman qubilat taubatuhu wa buddilat sayyiaatuhuhasanat `Hari raya bukanlah untuk orang yang makan makanan enak atau bersenang-senang dengan syahwat dan kelezatan, tetapi hari raya hanya bagi orang yang tobatnya diterima dan kejelekannya telah diganti dengan kebaikan'.

Ada empat malam yang sangat istimewa dan dimuliakan Allah, yaitu malam Nisfu Sya'ban, malam Lailatul Qodar, dan dua malam hari raya. Oleh karena itu, seyogianya pada malam itu kita isi dengan bertakbir, bertahmid, dan memuji nama Allah. Di malam hari Raya takbir menghias bibir dan hati kita sambil merasakan betapa besar nikmat yang dianugerahkan Allah untuk kita. Telah dituntun-Nya hati kita untuk berpuasa, bukan Cuma menahan lapar dan dahaga. Akan tetapi, Allah tuntun kita untuk menahan dari nafsu amarah, menahan jasmani dari perbuatan maksiat, dan mengajak hati untuk selalu bergantung kepada Allah.

Sepanjang Ramadhan kita seolah-olah sedang menenun kain dengan corak sabar dan tawakkal. Kain ini akan terus kita kenakan selepas bulan Ramadhan. Sabar menjalani kehidupan. Sabar dalam suka dan duka. Kita bertawakkal atas apa pun yang dianugerahkan Allah. Menikmati segala sajian dari Allah. Kita yakin, apa pun yang disuguhkan Allah adalah jalan bagi kita untuk taqorrub kepada Allah. Allah sudah dekat. Tinggal diri kita, maukah mendekat kepada Allah.

Selain itu, hablum minannas pun seyogianya kita pelihara. Sepanjang Ramadhan kita sempat bertemu muka dengan teman dan tetangga karena sholat berjamaah. Diharapkan selepas Ramadhan, semangat berjamaah tetap terpelihara. Semangat berbagi tetap terjaga. Ibarat satu tubuh, seorang muslim yang satu adalah saudara bagi muslim lainnya. Jika rasa ini ada dan terjaga, insya-Allah umat Islam akan jaya.

Pada hari raya, malaikat diperintahkan Allah membagikan jaizah `hadiah'. Hadiah ini dibagi-bagikan Allah kepada hamba-Nya yang berpuasa dan beramal saleh. Allah mengembalikan mereka seperti baru dilahirkan ibunya. Dihapus-Nya segala salah dan dosa. Oleh sebab itu, alangkah indahnya jika kita mengucapkan ii'dun mubaarokun taqobbal minnaa wa minkum minal `aaidina wal faaiziina `Semoga Allah mengaruniai keberkahan kepada kita semua. Semoga Allah berkenan menerima amal ibadah kita, kembali kepada fitrah, dihapuskan segala dosa. Amin'.

Di hari yang agung dan mulia ini, hati yang fitri, hati yang suci itulah yang kita harapkan dikaruniakan Allah untuk kita. (*)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved