Jaga Inflasi Selama Ramadan dan Lebaran, Ini yang Dilakukan Bank Indonesia
Jika dilihat dari tren tahun-tahun sebelumnya, angka inflasi di atas 1 persen dan diprediksi tak jauh berbeda.
Penulis: Rahmaliyah | Editor: Sudarwan
Laporan wartawan Sriwijaya Post, Rahmaliyah
SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Secara histori, laju inflasi biasanya akan mengalami peningkatan selama ramadan dan juga lebaran.
Hal ini dikarenakan pada momen tersebut permintaan kebutuhan pokok cenderung meningkat jika dibandingkan saat normal.
Berdasarkan catatan Bank Indonesia Kantor Perwakilan (KPw) Sumatera Selatan, sejak tiga tahun terakhir tingkat inflasi rata-rata mencapai 1,06 persen.
Untuk itulah, tahun ini BI berupaya untuk dapat menekan laju inflasi dengan melakukan sejumlah koordinasi, baik dengan pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, asosiasi para pelaku ekonomi, hingga petani, guna memastikan keseimbangan antara pasokan dan permintaan bahan kebutuhan pokok.
"Tahun ini kita lebih intensifkan koordinasi dengan semua pihak terkait. Karena jika dilihat dari tren tahun-tahun sebelumnya, angka inflasi di atas 1 persen dan kita prediksi tak jauh berbeda. Makanya, kita maksimalkan sinergi agar inflasi bisa terjaga," ujar Deputi Direktur Bank Indonesia Kantor Perwakilan Sumsel, Hari Widodo, Kamis (16/6/2017).
Selain itu, BI bersama tim yang tergabung dalam Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) juga telah memetakan kabupaten/kota yang perlu mendapatkan perhatian khusus, seperti Lubuklinggau dan Palembang karena biasanya mengalami inflasi lebih tinggi dibanding daerah lain.
"Itulah sangat penting dibangun suatu koordinasi agar pemerintahan setempat untuk mengawasi pasokan dan permintaan. Kami juga menghimbau masyarakat untuk bijak dalam belanja sehingga harga kebutuhan bisa terjaga," katanya.
Sementara itu, ditambahkan pula oleh Kepala Perum Bulog Sub Divre Sumsel Babel, Bakhtiar yang mengatakan, masyarakat juga dihimbau tak perlu khawatir terkait ketersediaan kebutuhan pokok.
Khususnya yang dimiliki Bulog. Seperti, bawang putih, merah, minyak goreng, tepung, telur dan beras.
"Kami juga sudah siapkan operasi pasar di 193 titik tersebar di Sumsel, baik di sejumlah pasar traditional maupun di pemukiman warga. Masyarakat bisa belanja kebutuhan dengan harga terjangkau. Contohnya saja, kami juga sediakan daging sapi beku yang harganya hanya Rp 80 ribu perkilo," ujarnya.
Diakui Bachtiar, sejak ramadhan permintaan akan daging sapi beku alami peningkatan.
Bulog sendiri telah mendatangkan sekitar 20 ton daging sapi dan kerbau.
Bahkan, hari ini, Kamis (15/6/2017) pihaknya kembali menambah pasokan sebanyak empat ton
"Jadi totalnya akan mencapai 24 ton. jumlah ini naik dua kali lipat jika dibandingkan tahun lalu yang hanya Rp 12 ton," jelasnya.
Dengan adanya peningkatan tersebut, secara tidak langsung telah mengindikasikan masyarakat telah mulai memahami seperti apa pengelolaan daging beku.
Dan pihaknya pun menjamin akan kualitas dari daging sapi yang disediakan Bulog.
"Kami juga pastikan kehalalannya," ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/bank-indonesia_20170508_075745.jpg)