Ramadan 2017
Awas Umat Muslim Jangan Kalah Dengan Samiri, Siapakah Samiri Ini Sosoknya
Siapakah Samiri? Musa bin Zhufar atau Musa Samiri adalah nama Samiri yang hidup di zaman Nabi Musa AS. Beliau seorang yang cerdas dan pandai bicara. B
Oleh: Ustadzah Izzah Zen Syukri
(Dosen FKIP Unsri, Manager Pondok Pesantren Muqimus Sunnah, Palembang)
SRIPOKU.COM - ALLAH menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS, "Janganlah kau membunuh Samiri karena dia adalah seorang dermawan".
Siapakah Samiri? Musa bin Zhufar atau Musa Samiri adalah nama Samiri yang hidup di zaman Nabi Musa AS.
Beliau seorang yang cerdas dan pandai bicara. Beliau termasuk salah seorang pengikut Nabi Musa AS.
Ketika Nabi Musa berkholwat ke gunung Sinai, Samiri berkhianat.
Dia membuat patung anak sapi yang terbuat dari emas. Konon patung itu dapat bicara. Ia mempengaruhi Bani Isroil untuk berpindah dari agama tauhid menjadi pemuja patung.
Sekembalinya Nabi Musa, Beliau marah meyaksikan kaumnya yang terperangkap bujuk rayu Samiri.
Nabi Musa AS pun bermakud melenyapkan Samiri karena perbuatannya itu.
Berita Lainnya:
Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT
Bagaimana mungkin Allah tidak melebihkan perhatian dan kasih sayangnya kepada hamba-Nya yang mukmin lagi rajin membagikan hartanya di jalan Allah.
Sehubungan dengan itu, Rasulullah saw menyatakan innallaha jawaadun yuhibbul juuda, kariimun yuhibbul karoma `Sesungguhnya Allah sangat banyak memberi dan menyukai banyak pemberian, Allah Maha Pemurah menyukai kemurahan'.
Di sekolah, kita belajar matematika. Bahkan, ada siswa yang piawai berhitung hingga persoalan hitungan yang rumit sekalipun.
Para siswa dan mantan-mantan siswa percaya bahwa jika mengeluarkan sesuatu berarti mengurangi milik kita. Itulah konsep matematika dunia.
Akan tetapi, jarang ada sekolah yang mengajarkan matematika ilahiyah.
Matematika yang bersumber dari Alquran yang menyatakan bahwa setiap kali mengeluarkan harta, Allah memberikan tujuh ratus kali ganjaran pahala (Albaqoroh 261-262).
Artinya, harta yang dikeluarkan bukan berkurang, malah terus bertambah dan memuncak.
Selagi masih ada nafas, tentu manusia masih dipenuhi dengan berbagai hajat. Ingin sehat, tenang, sukses, keluarga yang sakinah, mawaddah wa rohmah, anak yang soleh dan solehah, karir yang bagus, berterima di tengah masyarakat, dan berjuta hajat lainnya.
Pintu langit akan mudah terbuka dan hajat kita akan mudah terealisasi jika kita ketuk dengan banyak bersedekah.
Nabi Musa AS bertanya kepada Allah, "Apa yang membuat Engkau senang, Wahai Tuhanku?"
Allah menjawab, "Aku senang pada orang yang bersedekah, berinfaq, berzakat, dan berbuat baik. Jika kamu sibuk dengan ibadah ritual, itu berarti kamu mencintai dirimu sendiri. Akan tetapi, jika kamu berkorban dan berbuat baik untuk orang lain, berarti kamu mencintai Allah". (*)