Breaking News:

Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

"Karena tanpa sembahyang seseorang telah memutuskan hubungannya dengan Allah," demikian Jibril menyampaikan berita dari Allah.

Editor: Bedjo
ist
Ilustrasi. 

Oleh: Ustadzah Izzah Zen Syukri
(Dosen FKIP Unsri dan Manager Pondok Pesantren Muqimus Sunnah, Palembang)

SRIPOKU.COM - SUATU hari Nabi Musa AS didatangi seorang wanita sambil menangis. "Wahai Nabi Allah, aku telah melakukan kesalahan besar. Aku berzina. Setelah itu, anak yang kulahirkan dari perbuatan haram itu aku lenyapkan. Lama-kelamaan, Allah mengirimiku hidayah hingga aku sangat menyesal. Aku bertobat. Aku ingin kembali ke jalan yang diridhoi Allah. Apakah tobatku diterima Allah, wahai Nabi yang dimuliakan Allah".

Berita Lainnya:
Rohis MAN Muara Kelingi Mendekatkan Diri Kepada Allah SWT

Mendengar kisah itu, spontan Nabi Musa AS mengusir wanita tersebut. Tak lama kemudian Jibril datang. "Wahai Nabi Allah, mengapa engkau mengusir wanita itu. Bukankah ia sungguh-sungguh telah bertobat," demikian pertanyaan Jibril.

"Dia telah melakukan dosa besar," ujar Nabi Musa As.

"Tahukah kau ada dosa yang lebih besar daripada yang dilakukan wanita itu? Allah telah menyampaikan padamu bahwa dosa besar seorang hamba itu adalah meninggalkan sembahyang," lanjut jibril.

"Mengapa demikian, ya Jibril," Tanya Nabi Musa penasaran.

"Karena tanpa sembahyang seseorang telah memutuskan hubungannya dengan Allah," demikian Jibril menyampaikan berita dari Allah.

Saudaraku, Ramadan telah sanjo `datang' ke rumah-rumah kita. Dia membawa temannya, Tarawih. Sanjo-nya Ramadan seyogianya disambut dengan banyaknya jam bicara kita dengan Allah. Kedatangan Ramadan mestinya disambut dengan banyaknya sujud yang dilakukan seorang hamba sebagai wujud cinta dan rindu hamba kepada Khalik-Nya.

Jangan katakan kita cinta dan rindu kepada Allah, sementara kita tidak mau memperbanyak waktu sujud, bersimpuh ke hadirat Allah. Jangan katakan kita cinta kepada Baginda yang agung, Rasulullah saw, sementara kita malas meningkatkan kuantitas dan kualitas sujud kita ke hadapan Allah. Padahal, Baginda Rasul yang makshum (tak punya dosa), senantiasa mengisi malam-malamnya dengan bersujud ke hadirat Allah melalui sholat malam yang panjang dan lama, terutama di bulan Ramadan.

Makin banyak seorang bersujud, makin meningkat komunikasi dan ketergantungannya kepada Allah. Sebaliknya, seseorang yang tidak bersujud berarti sombong, tidak membutuhkan pertolongan dan kasih sayang Allah; tidak membutuhkan kemesraan hubungan dengan Allah. Jangan sampai kita hanya mengisi Ramadan hanya dengan ibadah puasa, tetapi tidak meningkatkan kuantitas dan kualitas sujud kita kepada Allah.

Rasulullah saw bersabda An Abi Huroiroh anna Rasulallah saw qoola aqrobu maa yakuunul abda min robbihi wahuwa saajidun fa aktsiruud du'aa' `Dari Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda, "Jarak paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya adalah ketika dia bersujud, maka perbanyaklah doa di dalamya". (*)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved