Ramadan 2017

Kikis Rakus dan Panjang Angan-angan

SECARA teoritis, selama Ramadhan jadwal makan seseorang hanya dua kali, yakni ketika berbuka dan makan sahur. Logikanya, nilai belanja menurun. Namun

Editor: Bedjo
Uting Unying - blogger
Ilustrasi. 

Oleh: H. Hendra Zainuddin. M.Pd.I
(Pimpinan/Pengasuh Pesantren Aulia Cendekia Talang Jambe Palembang)

SRIPOKU.COM - SECARA teoritis, selama Ramadhan jadwal makan seseorang hanya dua kali, yakni ketika berbuka dan makan sahur. Logikanya, nilai belanja menurun. Namun faktanya malah meningkat. Bahkan bila kita lihat ke restoran atau rumah makan di kota Palembang, sejak pukul 17.00 sore, sudah penuh sesak dan terkadang tidak akan mendapatkan kursi karena sudah dipesan semua.

Berita Lainnya:
Restoran Jepang di Sydney Tutup Karena Pelanggan "Rakus"

Perilaku konsumeristik yang berlebihan dapat dikatakan sebagai bentuk perilaku hedonisme yang cenderung cinta pada keduniawian--untuk tidak mengatakan munculnya sifat ratus terhadap duniawi. Karenanya, sifat ratus terhadap duniawi biasanya diikuti oleh sifat panjang angan-angan. Kedua sifat ini pada akhirnya akan melahirkan sifat malas untuk berbuat kebaikan dan menunda-nunda taubat karena lebih mengutamakan ambisinya mengejar dunia, lupa terhadap akhirat, dan hati yang keras. Karena hati yang lembut dan bersih terlahir dengan banyak mengingat kematian, kubur, pahala, siksa, dan kedahsyatan hari kiamat. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, “Hati orang tua menjadi muda karena dua hal, cinta dunia dan panjang angan-angan.

Di sinilah momentum bulan suci Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk mengikis sifat-sifat ratus terhadap keglamoran duniawi dan panjang angan-angan. Sebab di bulan suci ini kita harus dapat menahan hawa nafsu dan lebih mendekatkan diri pada Yang Maha Suci. Mumpung kita masih diberi kesempatan dan diberi kehidupan untuk selalu taat beribadah kepada-Nya. Seperti pernah dikatakan Ibnu Umar ra, berkata; "Jika engkau berada di sore hari janganlah tunggu sampai datang pagi. Jika engkau berada di pagi hari janganlah tunggu sampai datang sore. Pergunakanlah waktu sehatmu sebelum datang masa sakit. Pergunakanlah kesempatan hidupmu sebelum datang kematian."

Panjang angan-angan tentunya berbeda dengan seorang visioner. Orang yang visioner akan membawanya pada kebaikan dan panjang angan-angan membawa kepada keburukan. Panjang angan-angan lebih dikaitkan dengan keinginan kosong. Hanya sebuah lamunan dan anggapan keliru tentang masa depan. Orang yang percaya kepada seorang peramal dan bertindak sesuatu hasil ramalan bisa dikategorikan panjang angan-angan.

Dalam sebuah hadits, panjang angan-angan juga dikaitkan dengan kematian. Orang yang panjang angan-angan menganggap akan hidup lama. Yang dimaksud panjang angan-angan ialah meletakan harapan dan keinginan seolah akan terjadi masih jauh dan ia tidak memikirkan kapan kematian akan datang. Dalam riwayat Bukhari, Anas ra berkata, ”Nabi membuat garis seraya bersabda, ’Ini manusia, ini angan-angannya, sedangkan ini ajalnya. Ketika dia sedang berada dalam angan-angan, tiba-tiba datanglah kepadanya garisnya yang paling dekat.’ Maksud dari 'garisnya yang paling dekat' adalah ajal kematiannya.

Orang yang panjang angan-angan akan bersikap santai. Ia merasa tidak perlu bertindak segera. Ia menganggap kematiannya masih akan lama. Sementara, orang yang cerdas ialah mereka yang mengingat kematian. Ia akan bertindak segera untuk masa depannya. Ingat mati adalah suatu gambaran bahwa kita harus memperhatikan masa depan kita (hari esok). Inilah yang disebut dengan visi. Ibnu Omar r.a pernah berkata; "Pada suatu hari aku datang berjumpa Rasulullah Saw yang sedang berada di tengah kalangan sahabat yang terkemuka. Lalu berdirilah seorang sahabat daripada Ansar bertanya Rasulullah dengan berkata: "Ya Rasulullah! Siapakah yang paling pintar dan siapa pula yang paling cerdas akalnya?" Rasulullah menjawab: "Yang paling cerdas dan yang paling pintar ialah orang yang paling banyak mengingati mati dan yang paling banyak bekal menghadapi mati. Merekalah yang paling pintar dan yang paling cerdas kerana mereka mendapat kemuliaan di dunia dan kehormatan di akhirat."

Jadi orang yang visioner akan bertindak segera untuk mempersiapkan hari esok. Ia akan memperhatikan apa-apa yang ia lakukan untuk hari esok. Sungguh, sangat berbeda dengan apa yang disebut dengan panjang angan-angan. Memiliki cita-cita, harapan, tujuan, atau visi bukanlah termasuk panjang angan-angan. Mengapa Rasulullah Saw hijrah? Sebab ada harapan setelah hijrah. Rasulullah Saw memiliki visi Islam akan berkembang setelah hijrah. Meskipun berat, bahkan berkali-kali gagal, tetapi hijrah tetap dilakukan. Visi justru akan membuat kita bergerak. Sementara panjang angan-angan akan menjadikan kita santai.

Hidup panjang angan-angan yang dibarengi dengan ratus terhadap kehidupan duniawi tak lebih seperti rangkaian bias-bias sinar terik yang membentuk fatamorgana. Terlihat begitu indah. Segar menawan. Ia melambai-lambai, membuat ruhani yang haus kian terpedaya. Kesenjangan makin parah ketika tarikan-tarikan realitas dengan idealita tidak selalu sama. Adanya obsesi hidup serba lengkap di satu sisi, serta pergaulan yang begitu akrab dengan dunia serba mewah. Entah kenapa, ingatan begitu kuat menyimpan sederet merek mobil mewah, lokasi wisata kelas tinggi, trend baru seputar busana, handphone dan sebagainya. Ada selera hidup yang, boleh jadi, di luar kemestian. Padahal, kenyataan diri berkali-kali menegaskan bahwa semua tuntutan gaya hidup itu di luar kemampuan. Bahwa, membayang-bayangkan sesuatu di luar kesanggupan hanya menguras energi tanpa manfaat. Seolah diri ingin mengatakan, "Inilah kenyataan. Terimalah. Jangan mimpi. Jangan terbuai angan-angan!"

Namun, penegasan itu sulit diterima diri yang terus dipermainkan nafsu. Pada saat yang sama, kesadaran jiwa kian tenggelam dengan angan-angan. Terus tersiksa dengan segala ketidakmampuan. Cahaya iman meredup. Hati pun menjadi gelap. Mungkin ada baiknya di bulan Ramadhan ini kita renungkan kata-kata bijak Luqman al-Hakim pernah berkata kepada anaknya: "Wahai anakku, sesungguhnya dunia itu laut yang dalam. Telah banyak orang yang tenggelam di dalamnya. Maka hendaklah perahu duniamu itu senantiasa takwa kepada Allah ‘Azza Wajalla. Isinya iman kepada Allah Ta’ala. Dan layarnya berupa tawakkal penuh pada Allah swt. Anakku, berpuasalah dari dunia dan berbukalah pada akhirat". (*)

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved