Ramadan 2017
Ramadhan dan Pendidikan Karakter
HINGGA saat ini pendidikan karakter masih menjadi wacana serius di kalangan dunia pendidikan. Menurut Pencetus Pendidikan Holisti Berbasis Karakter, R
Oleh: H Hendra Zainuddin MPd.I
(Pimpinan/Pengasuh Pesantren Aulia Cendekia
Talang Jambe Palembang)
SRIPOKU.COM - HINGGA saat ini pendidikan karakter masih menjadi wacana serius di kalangan dunia pendidikan. Menurut Pencetus Pendidikan Holisti Berbasis Karakter, Ratna Megawangi, ada sembilan pilar pendidikan berbasis karakter, yaitu: (1) Cinta Tuhan dan kebenaran; (2) tanggung jawab, kedisiplinan, dan kemandirian; (3) amanah; (4) hormat dan santun; (5) kasih sayang, kepedulian, dan kerjasama; (6) percaya diri kreatif, dan pantang menyerah, (7) keadilan dan kepemimpinan, (8) baik dan rendah hati; dan (9) toleransi dan cinta damai. Ini artinya, pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena bukan sekadar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan tentang hal yang baik, sehingga peserta didik menjadi paham (ranah kognitif) tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan (ranah afektif) nilai yang baik, dan mau melakukannya (ranah psikomotor).
Berita Lainnya:
Membentuk Karakter Anak Jangan Hanya Mengandalkan Guru di Sekolah
Pendidikan karakter sangat erat kaitannya dengan puasa Ramadhan karena ketiga ranah kebiasaan ini ditanamkan secara holistik melalui ibadah puasa Ramadhan. Pada aspek kognitif, puasa Ramadhan mengajarkan kepada kita agar kita mampu meniti tangga-tangga tertinggi dari kompetensi tersebut. Ramadhan menunjukkan kepada kita agar kita mampu mencapai tingkat tertinggi dari ranah kognitif, yang kalau meminjam istilah Prof Dr Achmad Sanusi, dikenal "higher thinking skill" (keterampilan berpikir tingkat tinggi). Dalam teori Bloom, tingkatan kognitif paling tinggi adalah 'mampu mengevaluasi'. Dengan demikian, Ramadhan harus mampu mendorong pelaksananya untuk memapu memikirkan secara evaluatif dari kegiatan ramadhannya. Ramadhan dari aspek ini mengajarkan kepada kita agar mampu melakukan evaluasi dalam rangka perbaikan. Dalam Ramadhan peringkat muttaqun adalah puncak tertinggi dengan segenap karakteristik dan konsekuensinya. Seharusnya ramadhan mampu mendorong kita untuk mampu mengevaluasi diri "sudahkah kita menjadi orang yang bertakwa?". "Adakah ciri-ciri orang yang bertakwa itu pada diri kita?". "Sudahkah kita berbuat sebagaimana yang dilakukan orang-orang yang bertakwa?".Ramadhan bukan hanya dijadikan sebagai pemahaman dan ingatan semata, melainkan juga harus mampu dipahami dan disintesiskan sehingga ramadhan mampu menjadi 'ruh' perjalanan ibadah kita di dalam maupun di luar Ramadhan.
Pada dimensi afektif, ibadah Ramadhan, seharusnya mampu menciptakan proses transformasi diri dan sikap pelakunya agar mampu menerapkan kebaikan-kebaikan yang terdapat di dalamnya. Banyak sekali hikmah Ramadhan yang berkaitan dengan perbaikan sikap seorang muslim. Misalnya, yang diajarkan oleh Nabi tentang kecintaan dan kepedulian terhadap sesama. Rasa lapar puasa di siang hari Ramadhan, seharusnya mewujudkan rasa hormat dan kagum kita kepada mereka yang fakir-miskin. Rasa haus kita di bulan Ramadhan, seharusnya menumbuhkan sikap untuk menyayangi mereka, seperti halnya kita menyayangi diri kita sendiri. Di sisi lain kita harus mampu memaknai lapar Ramadhan sebagai sikap kita untuk menguji tingkat kesabaran kita. Bisakah kita bersabar dan mengendalikan nafsu kita di saat waktunya sarapan kita tinggalkan, makan siang kita tinggalkan, ke kafe di sore hari kita tinggalkan. Karena kita dan Allah sendiri yang mampu menilai sejauhmana nafsu kita mampu mengendalikannya.
Pada tataran aspek psikomotor ibadah Ramadhanmendorong umat Islam untuk memperbanyak variasi ibadah dengan berbagai bentuknya, mulai dari ibadah individual maupun ibadah sosial. Selain itu, Ramadhan juga mampu menghidupkan malam-malamnya dengan bacaan-bacaan al-Qur'an dan shalat-shalat sunnah. Suatu kondisi yang sangat indah di pandang mata. Aktivitas positif Ramadhan yang sering kita jumpai di berbagai tempat tersebut, seharusnya dapat pula berjalan hingga awal-awal bulan syawal saja, melainkan juga harus mampu hidup di setiap bulan.
Dari penjelasan di atas dapat ditegaskan bahwa setidaknya terdapat enam nilai pendidikan yang terkandung dalam puasa Ramadhan. Pertama, puasa mengembangkan kecerdasan emosi. Kedua, puasa mendidik kejujuran. Ketiga, puasa mendorong dan mendidik manusia agar selalu belajar dalam rangka memperoleh dan meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. Keempat, puasa mendidik kesetaraan. Kelima, puasa mendidik sikap disiplin. Keenam, puasa mendidik sabar, betapapun kita merasa haus mencekik tenggorokkan dan lapar melilit perut, ketika waktu Magrib belum tiba, kita tidak diperbolehkan bersentuhan dengan makan dan minuman meskipun itu halal melainkan kita harus bersabar menunggu hingga waktu berbuka tiba.
Di sinilah, bulan Ramadhan merupakan jalan untuk memulihkan perilaku-perilaku negatif dan membentuk insan yang memiliki akhlak mulia, seperti kejujuran, disiplin, kesabaran, amanah, silaturahmi dan kesungguhan dalam beraktivitas, berempati, pengendalian diri dan solidaritas sosial.Nilai-nilai tersebut akan menjadi hiasan bagi mereka yang berpuasa dengan benar dan tulus ikhlas. Buah pelaksanaan ibadah Ramadhan adalah munculnya karakter positif dan akhlak mulia. Madrasah Ramadhan memberikan pelatihan dan pendidikan selama sebulan penuh merupakan proses pembatinan (internalisasi) nilai-nilai positif yang ditransformasikan kepada mereka yang berpuasa untuk diwujudkan dalam sikap keseharian mereka, baik di rumah, kantor maupun masyarakat. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/pendidikan-karakter-islam_20170530_082049.jpg)