Jalani Masa Tua Bersama 24 Jenis Ikan Koi, Pria Ini Habiskan Ratusan Juta Rupiah

Biasanya habis sepulang kerja pukul 16.00 saya sempatkan waktu menikmati keelokan ikan Koi ini

Jalani Masa Tua Bersama 24 Jenis Ikan Koi, Pria Ini Habiskan Ratusan Juta Rupiah
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Ketua Komunitas Crystal Koi Farm, Alex Wijaya Bangun menikmati pemandangan kelincahan ikan Koi kesayangannya. 

Demi kecintaannya kepada ikan Koi, Alex Wijaya Bangun banyak menghabiskan waktunya untuk memanjakan hewan kesayangannya ini.

"Biasanya habis sepulang kerja pukul 16.00 saya sempatkan waktu menikmati keelokan ikan Koi ini sekalligus memperhatikan mana yang perlu diberikan. Nah terkecuali hari libur, saya bisa seharian tongkrongi kolam. Piara ikan ini harus menyatu. Seperti ada hubungan kita dengan ikan-ikan ini. Kalau dia dalam kondisi tidak beres kita merasakan. Kalau sudah terbentuk kita memahami ikan ini seperti apa. Tidak sebatas senang saja akan tidak tahu masalahnya. Sama seperti kita sakit tampilan tanda tidak sehat itu terbaca. Kalau kita sudah menyatu. Oh dia ini kurangnya ini," ungkap Alex.

Menurut pria 4 anak, buah pernikahannya dengan Ny Cerdik, keluarga mendukung hobinya ini.

Pasalnya anggota keluarganya juga turut menikmati keberadaan ikan hias ini.

"Karena mereka juga menikmati. Senang. Apalagi bunyi gemericik air mengalir di pancuran kolam, bikin tidak menjadi lengang suasana," ujar pria kelahiran Palembang, 3 November 1957 ini.

Setidaknya ada 24 jenis Koi bisa disebutkan dan ditunjukkan Alex satu per satu tengah berenang di dalam kolam yang berukuran panjang 6 meter, lebar 3,5 meter bentuk relief dan berkedalaman 2 meter.

Ada yang namanya Showa, Kuhaku, Sanke, Siroutsori, Ogon, Kikokuriu, aigoromo, kujaku, asagi, budogoromo, benigoi, akamatsuba, karasi, chagoi, kikushui, ochiba, bekko, tancho, hiutsuri, akahajiro, ghoshiki, kinakamatsuba, goromoshowa, benikikko.

"Untuk modal bikin kolam seperti ini menghabiskan uang sekitar Rp 200 juta. Sudah lengkap sarana filter kolam instalasi pipa, pompa, filter," kata pengusaha meubel furniture ini.

Selain memperhatikan kualitas air kolam, Alex mengingatkan dalam pemberian pakan harus punya protein yang tinggi supaya memacu pertumbuhan, memacu pigmen warna, dan skin (kulit).

"Pasalnya ikan Koi ini yang diperhatikan dan dinilai itu Grow, Colour, WhiteGerm. Untuk makanan ikan masa pertumbuhan sehari harus 3-4 persen dari berat badan. Sedangkan yang dewasa 2 persen dari berat badan. Dulu suka berburu ikan bagus kita beli," ujarnya.

Paling tidak untuk pakan, sedikitnya dibutuhkan sekilo seharga Rp 85 ribu setiap minggunya.

Menurutnya, ikan Koi sering diikutkan pada event kontes ke Jakarta dan Bandung.

Sebelum diterjunkan dikondisikan tampil cantik. Tidak asal comot dari kolam langsung tampil. Dikondisikan sendiri.

"Rasa kepuasan apa yang kita pelihara kita perlakuan punya nilai dihargai orang banyak. Nggak sia-sia. Menjadikan ikan tampilan baik banyak cara. Tidak sembarangan. Paling tidak 3-6 bulan dikondisikan. Malah lebih mengikuti keeping contest. Kalau atlet itu dimasukkan dalam pemusatan latihan (TC). Akhir TC dievaluasi siap atau tidak," jelasnya.

Pertama bodi cantik nggak mengacu torpedo. Kulitnya seperti apa. Polanya membentuk seperti apa, warnanya menyala nggak. Putih benar nggak, merah, hitam. Tergantung jenisnya juga. Mengkilat benar nggak.

"Kalau ada yang sakit, kita gunakan cara mengatasinya seperti manusia. Contoh untuk kulit penyakit akibat ditimbulkan bakteri pakai akriplafin. Mierin blue. Biasa dengan kawan komunitas KOI di jakarta buka showroom ikan dan perlengkapan kolam dan obatan," paparnya.

Penggunaan obat seperlunya jika ada ikan yg sakit langsung dikarantina supaya tidak menular ke ikan yang lain. Karantina biasanya ditaruh di pet, kolam terpal.

Menurutnya Komunitas Crystal Koi Farm yang diketuainya merupakan wadah untuk berkumpul, sharing, keeping contest.

Ketua Komunitas Crystal Koi Farm, Alex Wijaya Bangun bersama pengurus dan anggotanya.
Ketua Komunitas Crystal Koi Farm, Alex Wijaya Bangun bersama pengurus dan anggotanya. (SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ)

"Kita mengadakan anakan ikan usia 3 bulan piara sendiri masing-masing. Percepatan pertumbuhan, tampilan fisik ikan seperti apa. Dinilai semua bodi, skin, warna. Setiap tahun sekali keeping contest malah 2 kali. Kita pelihara ini kan kembangbiakkan untuk kita jual. Ikan sebanyak ini dijual. Usia 3 bulan mulai dari 15 cm dipatok mulai Rp 500 ribu hingga Rp 2 juta. Dengan komunitas sekarang ini agar tidak mengacu mesti Jepang. Tapi pembudidaya lokal pun sudah mampu menghasilkan ikan berkualitas Jepang," kata Alex Wijaya Bangun yang hobi olahraga tenis meja.

Penulis: Abdul Hafiz
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved