Budaya

Awal Mula Hantu Banyu

Namun Raden Ayu ternyata tidak rela rebang berkorban sendirian, ia sendiri mengorbankan dirinya menjadi TERATAI SUNGAI MUSI dan menghiasi setiap sisin

Penulis: Siti Olisa | Editor: Budi Darmawan
SRIPOKU.COM/SITI OLISA

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - UNTUK mengingatkan berbagai kisah yang melegenda di Sumatera Selatan, mahasiswa semester IV Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas PGRI Palembang melakukan pementasan drama untuk penilaian mata kuliah seni drama dengan dosen pengampu Dra Liza Murniviyanti,M.Pd.

Salah satu cerita yang ditampilkan adalah cerita Teratai Sungai Musi yang ditulis oleh Aninda Raran Dimura, kelas VI. Cerita ini mengisahkan tentang Sungai Musi membelah Kota Palembang menjadi dua bagian kawasan Seberang Ilir di bagian utara dan Seberang Ulu di bagian selatan. Sungai Musi, bersama dengan sungai lainnya, membentuk sebuah delta di dekat Kota Sungsang.

Mata airnya bersumber di daerah Kepahiang, Bengkulu. Sungai Musi disebut juga Batanghari Sembilan yang berarti sembilan sungai besar, pengertian sembilan sungai besar adalah Sungai Musi beserta delapan sungai besar yang bermuara di sungai Musi. Adapun delapan sungai tersebut adalah

1. Sungai Komering
2. Sungai Rawas
3. Sungai Leko
4. Sungai Lakitan
5. Sungai Kelingi
6. Sungai Lematang
7. Sungai Semangus
8. Sungai Ogan

Cerita ini dimulai dari kepercayaan masyarakat awam tentang adanya keberadaan HANTU BANYU sebagai penjaga sungai Musi yang bernama LIEH DURGA alias hantu banyu, dahulu seorang pemuda yang bernama Rebang Ringkih, meminta bantuan kepada lieh durga untuk membantunya membunuh para penjajah yang telah menguasai sepenuh desa lembang, ia melakukan itu untuk menyelamatkan warga dari segala tindak kejahatan serta untuk menyelamatkan Gadis yang dicintainya, Yaitu raden ayu pinang pindih yang merupakan anak tetuah adat di desa lembang.

Lieh durga menyanggupi permintaan Rebang Ringkih dengan syarat, setelah dendamnya terbalaskan rebang harus ikut bersamanya menjaga sungai musi, rebang menyanggupi syarat tersebut, hingga terbunuhlah para penjajah itu dan rebang pergi meninggalkan desa bersama lieh durga.

Namun Raden Ayu ternyata tidak rela rebang berkorban sendirian, ia sendiri mengorbankan dirinya menjadi TERATAI SUNGAI MUSI dan menghiasi setiap sisinya. (olisa)

Baca Beritanya di edisi Minggu Sriwijaya Post 21 mei 2017

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved