Nilai Tukar Petani Sumsel Alami Penurunan
Angka yang diperoleh hasil pemantauan harga-harga pedesaan di 83 kecamatan yang tersebar pada 11 kabupaten di Sumsel. Selain NTP, untuk Nilai Tukar Us
Penulis: Rahmaliyah | Editor: Candra Okta Della
SRIPOKU.COM, PALEMBANG-- Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan mencatat, Nilai Tukar Petani (NTP) Sumsel pada Maret 2017 sebesar 94,94 persen, angka ini menunjukkan bahwa secara umum daya beli petani Maret 2017 masih alami penurunan jika dibandingkan dengan bulan sebelumnya yakni 0,94 persen.
Hal ini disebabkan adanya penurunan indeks harga yang diterima petani sebesar 0,80 persen dan terjadi kenaikan indeks harga yang di bayar petani sebesar 0,15 persen.
Dijelaskan, Kepala BPS Sumsel, Yos Rudiansyah, NTP sendiri berasal dari perbandingan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) terhadap Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib).
Angka yang diperoleh hasil pemantauan harga-harga pedesaan di 83 kecamatan yang tersebar pada 11 kabupaten di Sumsel. Selain NTP, untuk Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) Gabungan Sumatera Selatan pada bulan Maret
2017 juga turun sebesar 0,97 Persen jika dibandingkan bulan sebelumnya.
NTUP diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks yang dibayar petani (Ib), dimana kelompok Ib hanya terdiri dari biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM).
"Namun NTUP Sumatera Selatan pada bulan Maret 2017 sebesar 102,85 persen, menunjukkan bahwa secara umum daya beli petani pada bulan Maret 2017 lebih baik dibandingkan tahun dasar 2012," ujarnya
Sementara itu, Yos mengatakan, Indeks Harga Konsumen (IHK) pedesaan dapat ditunjukkan oleh Indeks Harga Konsumsi
Rumah Tangga Petani yang merupakan kelompok dalam Indeks Harga yang Dibayar Petani.
Sub kelompok IHK pedesaan terdiri dari 7 (tujuh) kelompok pengeluaran, yaitu kelompok bahan makanan, kelompok makanan jadi, kelompok perumahan, kelompok sandang, kelompok kesehatan, kelompok pendidikan, rekreasi dan olah raga, serta kelompok transportasi dan komunikasi.
Inflasi/Deflasi pedesaan diperoleh dari persentase perubahan IHK bulan tertentu terhadap IHK bulan sebelumnya. Perkembangan IHK pedesaan selama beberapa bulan terakhir ini cenderung mengalami kenaikan.
Pada bulan Maret 2017 IHK naik dari 129,49 persen pada bulan Februari 2017 menjadi 129,65 persen pada bulan Maret 2017, yang berarti terjadi Inflasi sebesar 0,12 persen.
Inflasi terjadi pada lima sub kelompok pengeluaran, yaitu sub kelompok perumahan sebesar 2,05 persen, makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau 0,45 persen, sandang 0,33 persen, kesehatan 0,12 persen dan pendidikan, rekreasi dan olahraga 0,01 persen.
Sedangkan sub kelompok lain mengalami Deflasi yaitu sub kelompok bahan makanan sebesar 0,38 persen dan transportasi dan komunikasi sebesar 0,35 persen