Pemkot Palembang Siap Bikin Insinerator, Sampah Hasilkan Energi Listrik

Selain itu juga berupaya mempercepat pembangunan insinerator yang menggandeng investor dari luar negeri

Pemkot Palembang Siap Bikin Insinerator, Sampah Hasilkan Energi Listrik
SRIPOKU.COM/WELLY HADINATA
Walikota Palembang H Harnojoyo yang melihat miniatur Jembatan Ampera berbahan limbah sampah pada pameran Rakornas Pengelolaan Sampah di Hotel Aryaduta Palembang, Rabu (15/3/2017). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - "Kalau tidak ikut bersih-bersih, tidak mengotori jadilah. Karena untuk menciptakan lingkungan yang bersih, semuanya dari perbuatan kita," ujar Walikota Palembang H Harnojoyo, pada Rakornas Pengelolaan Sampah di Ballroom Hotel Aryaduta Palembang, Rabu (15/3/2017).

Dihadapan peserta rakornas yang berasal dari perwakilan seluruh daerah Indonesia, Harnojoyo mengatakan, dalam kurun dua tahun terakhir ini Kota Palembang sudah menggalakkan gotong royong. Bahkan dalam pengelolaan sampah, Pemkot Palembang kini memaksimalkan bank sampah yang sudah ada. Kedepannya juga bank sampah di Palembang akan ditambah lagi. Saat ini sudah ada 58 bank sampah yang dibentuk masyarakat dan pihak swasta.

“Bank sampah sebagai bentuk upaya menangani permasalahan sampah. Selain itu juga berupaya mempercepat pembangunan insinerator yang menggandeng investor dari luar negeri. Dan saat ini masih dalam tahap rencana dan persiapan," ujarnya.

Harno mengatakan, insinerator dapat menunjang menghasilkan tegangan listrik. Adapun sumber sampahnya berasal dari TPS (Tempat Pembuangan Sampah). "Kita upayakan untuk mendirikan insinerator sesuai apa yang diimpikan pemerintah pusat," ujar Harno.

Rakornas pengelolaan dibuka langsung Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Berbahaya Racun Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Tuti Hendrawati Minarsih yang Wakil Gubernur Sumsel H Ishak Mekki.

Seusai pembukaan rakornas, Tuti Hendrawati Minarsih mengatakan, insinerator kini sudah dipakai di negara-negara maju. Insinerator sangat dibutuhkan untuk kota-kota besar. “Indonesia belum ada satu pun kota dan kabupaten yang menggunakan insinerator. Padahal kota-kota besar di Indonesia cukup banyak yang bermasalah dengan sampah," ujarnya.

Tuti mengatakan, insinerator merupakan cara yang sangat tepat dalam pengelolaan sampah. Penggunaan insinerator ini belum diterapkan karena memang kendala yang cukup besar. Diantaranya investasi yang dibutuhkan cukup besar karena menggunakan teknologi yang canggih, persiapan yang membutuhkan waktu, dan serapan teknologi yang akan dipakai untuk insinerator di Indonesia. “Investasinya cukup besar. Ada beberapa kota yang ingin menggunakan insinerator, tapi masih dalam proses,” ujarnya.

Mengenai produksi sampah, Tuti mengatakan, secara nasional di Indonesia menghasilkan sekitar 65 juta ton perhari. Pertumbuhan sampah ini sesuai dan sejalan dengan pertumbuhan jumlah penduduk.

Untuk pembangunan insinerator, pemerintah daerah tidak bisa mengerjakan sendiri, melainkan harus menggandeng pihak lain. Sebab, untuk investasi pembangunan dan kesiapan insinerator ini cukup memakan banyak anggaran.

“Peluang ini harus dimanfaatkan. Sampah bisa dimanfaatkan menjadi sumber energi listrik. Tinggal bagaimana cara mendatangkan investor itu, bagaimana caranya mengelola sampah, jangan sampai sampah menjadi tidak berguna," ujarnya. (Editor: Welly Hadinata)

Penulis: Welly Hadinata
Editor: wartawansripo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved