Disperindag OKI Periksa Mesin akaran BBM SPBD

Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jalan Letnan Muchtar Saleh Kayuagung Dinas Perdagangan OKI memeriksa SPBU tersebut, Kamis .

Penulis: Mat Bodok | Editor: Tarso
SRIPOKU.COM/MAT BODOK
Dinas Perdagangan OKI memeriksa SPBU 24.306.30 Kayuagung milik H Ismail, didampingi pihak kepolisian untuk melakukan uji tera ulang disemua pompa BBM pada SPBU tersebut. 

SRIPOKU.COM, KAYUAGUNG -- Merespon banyaknya keluhan konsumen atas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jalan Letnan Muchtar Saleh Kayuagung  Dinas Perdagangan OKI memeriksa SPBU tersebut, Kamis (9/3/2017).

Pemeriksaan yang didampingi pihak kepolisian, untuk melakukan uji tera ulang di semua pompa BBM pada SPBU tersebut. Hasilnya, memang ada takaran yang kurang namun dinilai masih dalam tingkat kewajaran.

Sesuai hasil uji tera yang dilakukan Dinas Perdagangan OKI, untuk pompa pertamax dengan bejana 20.000 Ml pompa ukur 20.000 tingkat kesalahan 0 persen.

Pompa pertalite bejana 19.990 Ml, pompa ukur 20.000 tingkat kesalahan 10,05 persen. Pompa solar dengan bejana 19.980 Ml, pompa ukur 20.000, kesalahan 0,010 persen dan pompa pertalite dengan bejana 19.980, pompa ukur 20.000, kesalahan 0,020 persen.

"Jika diihat dari hasil uji tera yang kami lakukan, ada kekurangan sedikit sekali, tetapi itu masih dalam wajar," kata Kasin Perdagangan S Sudiyanto Djakfar SSos melalui Sekretaris Sunadi.

Menurut Sunadi, jika sesuai keputusan Jendral Perdagangan Dalam Negeri Nomor 37/PDN/KEP/3/2010 tanggal 3 Maret 2010 tentang syarat teknis meter arus volumetrik, bahwa Batas Kesalahan Diizinkan (BKD) kesalahan penunjukkan pompa ukur BBM adalah ± 0,05 persen.

Sementara itu, pemilik SPBU 24.306.30 Kayuagung H Ismail didampingi pengawas Iswanto selaku Pengawas mengatakan, pengisian BBM di SPBU tersebut normal, tidak ada pengurangan yang tidak wajar seperti yang diisukan oknum warga.

"Sudah diuji oleh petugas dari Dinas Perdagangan OKI, hasilnya tidak ada pengurangan takaran seperti yang diisukan beberapa hari ini, isu itu muncul karena ada persaingan usaha sesama pemilik SPBU," ujarnya.

Menurutnya, SPBU ini ketat diawasi oleh petugas kepolisian dan juga dipantau oleh pertamina. "Kita tidak bisa berbuat apa-apa karena ada tim pengawas SPBU," tandasnya yang juga takut untuk mengurangi hitungannya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved