SFC Update
Slamet Budiono Bukan Sekedar Anak Kampung. Ini Mimpinya
Kerja kerasnya untuk membuktikan jika ia bisa sukses di sepakbola ternyata berasal dari keluarganya, khususnya sang ibu, Suyatami.
Penulis: Candra Okta Della | Editor: Ahmad Sadam Husen
SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Slamet Budiono, salah seorang bintang muda Laskar Wong Kito, rupanya punya kehidupan keras dan layak menjadi inspirasi. Kerja kerasnya untuk membuktikan jika ia bisa sukses di sepakbola ternyata berasal dari keluarganya, khususnya sang ibu, Suyatami.
Bahkan sang ibu yang merupakan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia sampai menangis melihat putra semata wayangnya berhasil membuka jalan menuju impiannya. Budi pun berjanji jika ia akan membawa ibunya pulang dan tak perlu lagi bekerja sebagai TKI.
"Dari umur 5 tahun ibu jadi TKI. Baru saat saya kelas 2 SMA, saya bertemu ibu. Karena itu, saya bertekad membawa ibu pulang ke Palembang. Saya ingin memberangkatkan haji keduanya. Saya sadar saya anak kampung, karena itu saya harus lebih kerja keras. Saya gak mau cuma jadi pelengkap regulasi, saya harus tambah latihan demi itu semua. Demi bapak demi ibu, demi nenek yang dari kecil saya diasuhnya," ucap pencetak gol terindah SFC ini di Piala Presiden, Senin (6/3/2017).
Diungkapkan Budi, jalanya meraih posisinya saat ini bukan tanpa air mata. Ia hampir saja tidak memiliki ijazah SMA ketika ia diberhentikan karena nekad mengikuti seleksi sepakbola di Palembang.
"Tidak ada yang percaya saya akan seleksi. Saat itu kelas dua dan saya hampir putus sekolah. Alhamdulillah semua yang saya jalani menjadi pelajaran beharga. Membuat saya makin kuat. Dibawah pak Romli yang membawa saya ke Persimura, lalu opa Rudy Keltjes yang selalu memarahi dan mengajari saya, juga coach Widodo yang bisa memberikan saya kesempatan dan memotivasi saya. Ini sebenarnya jadi beban, tapi saya akan kerja keras," ungkap pemuda kelahiran 15 Mei 1995 ini.
Seperti diketahui, sosok Budi mencuri perhatian SFC saat bertemu dengan Barito Putera dengan skor 2-1, Senin (13/2/) sore di stadion I Wayan Dipta Gianyar Bali. Sempat diragukan dan disebut hanya dimainkan untuk memenuhi regulasi kewajiban memainkan pemain U22, alumnus PON Sumsel ini membuktikan kelasnya dengan mencetak gol pertama untuk tim di laga ini.
"Memang awalnya saya takut bermain di SFC. Mau pindah kemana saja karena disini pemainnya hebat-hebat. Tapi ditarik lagi oleh coach Widodo. Katanya saya bisa asal saya mau," ucap Budi semangat.
Menurut alumnus Tim PON Sumsel ini, sekarang tekadnya sudah bulat dan dukungan para senior di SFC sudah didapatkan. Dia pun terkejut karena sambutan para senior yang membuatnya juga sempat ragu bisa gemilang bersama tim akhirnya kandas.
"Saat gol kemarin senior yang yakin. Kata bang Airlangga Budi kami cetak gol pasti hari ini. Ternyata saya bisa cetak gol," tuturnya.
Bersama Laskar Wong Kito, Budi optimis bisa membawa tim kebanggaan Sumsel itu mendapatkan trofi di Liga 1. Ia sangat yakin bisa meraih target manajemen musim ini.
"Sekarang dukungan dan motivasi sudah saya dapatkan. Saya tidak grogi lagi dan telah memilih sepakbola adalah hidup saya. Makanya target kompetisi harus kami wujudkan," pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/slamet-budiono_20170307_092209.jpg)