Waspadai Gagal Ginjal “The Silent Killer”

Penyakit ginjal kronis kerap disebut sebagai the silent killer. Sering kali penderita tidak merasakan gejala tertentu hingga penyakit sudah memasuki s

Waspadai Gagal Ginjal “The Silent Killer”
Alodokter
Ilustrasi. 

“Jumlah pasien (ginjal kronis) yang menjalani cuci darah akibat hipertensi dan diabetes mencapai 60 persen,” ucap Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), Dhameizar, seperti dikutip Kompas.com, Jumat (13/3/2015).

Fakta serupa juga dikatakan oleh Kepala Tenaga Medis National Kidney Foundation, Joseph Vassalotti. Dia menyebutkan, dua pertiga dari kasus ginjal kronis disebabkan oleh diabetes melitus dan hipertensi.

“Kondisi kedua penyakit tersebut dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal. Akibatnya, kemampuan organ untuk menyaring ‘limbah’ metabolisme dari darah berkurang,” kata Vassalotti, seperti dikutip livescience.com, Senin (9/3/2015).

Deteksi dini
Dengan paparan di atas, pengobatan yang tepat untuk diabetes melitus dan hipertensi akan meminimalkan risiko gagal ginjal. Selain itu, deteksi dini juga tak ada salahnya dilakukan, sekalipun belum ada gejala gangguan ginjal sama sekali.

Di antara gejala yang perlu diwaspadai sebagai penanda awal gangguan ginjal adalah cepat lelah, nafsu makan menurun, sulit tidur, sering ingin buang air kecil pada malam hari, dan pembengkakan kaki.

Pemeriksaan dini yang bisa ditempuh adalah melalui tes Cystatin C darah di laboratorium. Nilai laju filtrasi glomerulus (FLG) akan diukur di tes ini, dengan menghitung jumlah darah yang disaring glomerulus—bagian ginjal yang berfungsi sebagai penyaring.

Deteksi dini penyakit ginjal kronis juga bisa dilakukan di laboratorium dengan pemeriksaan albumine urine kuantitatif. Tahap paling awal untuk risiko nefropati diabeti—istilah medis untuk penyakit ginjal serius, termasuk dari komplikasi diabetes dan hipertensi—ditandai dengan mikroalbuminuria, yaitu ditemukannya sejumlah kecil protein albumin di dalam urine.

Bila mikroalbuminuria terjadi, artinya ada gangguan stadium dini pada glomerulus ginjal, yang ini masih bisa diobati. Tes ini dilakukan dengan sampel air seni yang telah ditampung selama 24 jam atau rentang waktu tertentu—bila memang tidak memungkinkan pengambilan sampel urine tertampun 24 jam.

Urine yang diambil sewaktu juga bisa menjadi alternatif, tetapi hasil pemeriksaan harus dibandingkan dengan nilai kreatinin— “limbah” kimia dalam darah yang disaring oleh ginjal dan dibuang ke dalam urine.

Hasil pemeriksaan albumine urine kuantitatif dikatakan normal apabila urin yang ditampung selama 24 jam (mg/24 jam) kurang dari 30, urin ditampung dalam waktu tertentu (mg/menit) < 20, dan urin diambil sewaktu (mg/mg kreatinin) kurang dari 30.

Halaman
123
Editor: Bedjo
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved