Jenazah Suparman Korban Jukung Tenggelam Diambil Pihak Keluarga

"Rencananya, sore ini jenazah akan kami bawa dengan menggunakan jasa cargo penerbangan lalu dikuburkan di sana," terangnya.

Editor: Tarso
SRIPOKU.COM/SUGIH MULYONO
Kadus Jati Makmur Lombok Timur, Mahfudin (69) bersama seorang keponakan korban Suparman, Dedi Nopandi (30) saat mendatangi Instalasi Forensik RS Bhayangkara Polda Sumsel untuk mengambil jenazah Suparman, Selasa (21/2/2017). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG --- Jenazah Suparman (31) warga Dusun Jati Makmur Lombok Timur Nusa Tenggara Barat (NTB) yang sempat dititipkan di kamar jenazah RS Bhayangkara Polda Sumsel sudah diambil keluarganya, Selasa (21/2/2017).

Suparman merupakan satu dari tiga korban meninggal akibat kecelakaan dan tenggelamnya kapal motor atau jukung pengangkut karyawan PT CLS setelah dihantam ombak di Muara Sungai Hantu Kecamatan Pulau Rimau Kabupaten Banyuasin yang terjadi pada Minggu (19/2/2017) sekitar pukul 18.00 lalu.

Kepala Dusun Jati Makmur Lombok Timur, Mahfudin (69), mengatakan, ia datang ke Palembang bersama seorang keponakan korban, Dedi Nopandi (30) untuk menjemput dan mengambil jenazah setelah mendapatkan kabar jika Suparman ikut menjadi korban dalam musibah kecelakaan jukung yang terjadi di Muara Sungai Hantu Kabupaten Banyuasin.

"Kemarin dapat informasi dari pacar kawannya yang juga ikut kerja bersama korban ini jika korban mengalami kecelakaan dan meninggal. Karena itulah, saya bersama keponakannya datang ke mari untuk mengambil jenazahnya," jelasnya saat ditemui di Instalasi Forensik RS Bhayangkara Polda Sumsel.

Nantinya, dikatakan Mahfudin, jenazah korban akan dimakamkan di kampung halaman di Lombok Timur NTB.

"Rencananya, sore ini jenazah akan kami bawa dengan menggunakan jasa cargo penerbangan lalu dikuburkan di sana," terangnya.

Dikatakan Mahfudin, korban berkerja di Sumatera kurang lebih sudah 1,5 bulan atau menjelang beberapa hari sebelum tahun baru.

"Dia itu ikut kerja bersama temannya, Anton. Di sini kerja di perusahaan kebun sawit," ungkapnya.

Sementara itu, Dedi, mengatakan, korban masih bujang, belum punya istri. Korban merupakan anak nomor tiga dari enam bersaudara.

"Dia orangnya baik dan pendiam, ini berkerja untuk membantu menafkahi keluarganya," jelasnya.

Terpisah, terkait peristiwa musibah tersebut, Direktur Direktorat Polisi Air (Ditpolair) Polda Sumsel, Kombes Pol Robinson DP Siregar, mengatakan, dari hasil pemeriksaan sementara terhadap serang  jukung, Yanto (37), diketahui jukung tersebut over kapasitas sehingga ketika dihantam ombak menjadi oleng dan terbalik.

"Bila ada kelalaian dan sengaja mengangkut penumpang melebihi kapasitas, maka serangnya bisa ditetapkan menjadi tersangka. Tetapi, untuk saat ini masih dilakukan penyelidikan dari Sat Polair Banyuasin yang juga berkoordinasi dengan Ditpolair Polda Sumsel," jelasnya.

Penyelidikan dan pemeriksaan saksi-saksi, dikatakan Robinson, hingga saat ini masih terus dilakukan sehingga penetapan tersangka dapat dilakukan. Akan tetapi, hingga kini masih terus dilakukan terhadap 14 penumpang yang selamat dalam kejadian ini.

"Nanti tunggu saja, karena masih proses penyelidikan. Pastinya akan ada tersangka terkait kecelakaan ini," terangnya. 

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved