Rumah Khusus MBR Naik Dari Rp 116 Juta Menjadi Rp 125 Juta
Harga rumah mengalami kenaikan khususnya untuk rumah Segmen berpenghasilan rendah (MBR) dari Rp 116 juta naik menjadi Rp 125 juta.
Penulis: Rahmaliyah | Editor: Tarso
SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) mengungkapkan kenaikan harga semua tipe rumah tahun ini dinilai wajar. Pasalnya, kenaikan tersebut seiring dengan naiknya harga jual tanah dan bahan bangunan.
"Faktor utama yang mendorong kenaikan harga rumah adalah harga tanah. Ketika harga tanah alami kenaikan maka harga jual rumah juga naik. Di sisi lain, barulah harga bahan bangunan seperti pasir, semen, dan lainnya juga ikut andil mendorong kenaikan harga jual," ujar Eddy Ganefo, Ketua Apersi, Selasa (14/2) saat dihubungi melalui telepon.
Contoh kenaikan harga ini terjadi pada segmen rumah masyarakat berpenghasilan rendah (MBR), dari Rp 116 juta kini menjadi Rp 125 Juta. Namun, Kata Eddy, kenaikan harga tersebut juga diiringi dengan mulai membaiknya kondisi perekonomian.
"meski harga rumah naik tidak terlalu mempengaruhi daya beli konsumen. Kenaikan harga selalu terjadi tiap tahun. Untuk rumah murah kenaikannya berkisar 6 persen sedangkan untuk komersil naiknya di average 2-3 persen. Selain itu, kita juga tertolong dengan inflasi yang terbilang rendah," tuturnya.
Namun, Eddy mengakui jika saat ini tren penjualan tertinggi ada pada segmen perumahan Rp 500 Juta ke bawah. Dimana Rumah MBR paling mendominasi penjualan pengembang perumahan.
Mengutip data resmi Bank Indonesia, Berdasarkan Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia triwulan IV-2016 mengindikasikan adanya peningkatan pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer.
Hal ini tercermin dari Indeks Harga Properti Residensial pada triwulan IV-2016 yang tumbuh sebesar 0,37 persen Quarter to Quarter (qtq).
Angka ini sedikit lebih tinggi jika dibandingkan pertumbuhan triwulan III-2016 yang tercatat sebesar 0,36 persen (qtq). Menurut BI, Kenaikan harga rumah terjadi pada semua tipe rumah, terutama tipe kecil (0,57 persen, qtq), dengan kenaikan harga tertinggi terindikasi di Surabaya (1,64 persen, qtq).
Meningkatnya pertumbuhan harga rumah masih dipengaruhi oleh faktor kenaikan harga bahan bangunan dan upah pekerja.
Selain itu, volume penjualan properti residensial juga menunjukkan peningkatan. Pada SHPR triwulan IV-2016 volume penjualan properti residensial terindikasi tumbuh sebesar 5,06 persen (qtq), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 4,65 persen (qtq).
Peningkatan penjualan tersebut sejalan dengan peningkatan realisasi penyaluran kredit properti oleh perbankan.
Hasil survei juga menunjukkan bahwa pembiayaan pembangunan properti residensial masih bersumber dari dana internal pengembang. Sebagian besar pengembang (50,80 persen) menggunakan dana sendiri sebagai sumber pembiayaan usahanya.
Sementara itu, sumber pembiayaan konsumen untuk membeli properti masih didominasi oleh KPR (77,22 persen), khususnya pada rumah tipe kecil dan menengah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/ketua-umum-kadin-indonesia-h-eddy-ganefo_20160131_181907.jpg)