Breaking News:

Festival Imlek Indonesia

Saya Ingin FII di Palembang Jadi Agenda Even Nasional

"Saya siap sharing. Di keluarga saya beragam. Ibu saya asli Jawa beragama muslim. Bapak saya keturunan Tionghoa, nasrani.

Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Darwin Sepriansyah
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Sang maestro tari Didik Nini Thowok 

 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG --- Sang maestro tari Didik Nini Thowok berharap sekali agar ajang Festival Imlek Indonesia yang digelar 11-12 Februari 2017 di Palembang Sport Convention Centre menjadi agenda even nasional.

"Saya di Yogya kebetulan terlibat Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta. Tahun ini dihadiri 2 Menteri. Sultan sebagai gubernur hadir. Even nasional agenda tahun ke 12. Dianggarkan di APBD. Saya pingin komunitas paguyuban di Palembang semua bisa berpartisipasi. Memang itu proses," ungkap Alumni ASTI Yogyakarta yang bernama lengkap Didik Hadiprayitno SST yang telah berpengalaman 51 tahun jadi penari yang hadir memberikan sharing dengan insan dan pencinta dunia tari Sumsel pada rangkaian Festival Imlek Indonesia di PSCC, Minggu (12/2/2017).

Penari yang punya nama lahir Kwee Tjoen Lian atau Kwee Tjoen An sangat mendukung sekali dengan gelaran seni budaya ini dan ia pun siap sharing berbagi ilmu.

"Saya siap sharing. Di keluarga saya beragam. Ibu saya asli Jawa beragama muslim. Bapak saya keturunan Tionghoa, nasrani. Itulah keindahan akulturasi. Kenapa dibeda-bedakan," kata pria kelahiran Temanggung, Jawa Tengah, 13 November 1954 (umur 63) ini.

Didik selain pekerjaan sebagai penari, koreografer, juga sering tampil di televisi sebagai komedian, pemain pantomim, penyanyi, serta pengajar berharap di setiap daerah harus menggairahkan semangat menumbuhkembangkan seni budaya tari daerahnya.

"Secara khusus belum untuk di Palembang. Harus ditumbuhkan. Seni itu bagian budi daya. Harus terus disemangati biar tidak mandeg. Harus lebih kreatif di Palembang. Punya tradisi yang kuat. Kalau ada sekolah tarian di daerah itu akan ada penerusnya. Kalau tidak akan luntur. Sayang sekali Indonesia itu kan kaya, yang bisa dibanggakan itu seni budayanya," kata Alumni ASTI Yogyakarta.

Lelaki bertubuh langsing ini mengaku setiap kali berkeliling kerap mencari tahu dan mengamati budaya di tempat yang dikunjunginya.

"Saya keliling suka mengamati. Bukan cuma shopping aja. Oh budaya ini begini. Buat kita hidup belajar. Membuat agar tidak besar kepala. Dunia ini luas. Kalau sayanya cuma di Yogya saja merasa paling pintar. Saya belum lihat di Palembang (penari crossdresser). Tapi kemarin saya lihat wayang di sini cukup bagus," ujarnya. (*)

Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved