Kaligrafi Karya Santri Ini Dihargai Hingga Rp 3 Juta

Selain dibekali pendidikan formal, para santri pondok pesantren (Ponpes) Al-Ittifaqiah Inderalaya Kabupaten Ogan Ilir (OI), juga dibekali kemampuan in

Kaligrafi Karya Santri Ini Dihargai Hingga Rp 3 Juta
sripoku.com/Beri Supriyadi
Santri Lemkafi Ponpes Al-Ittifaqiah Inderalaya Ogan Ilir sedang melakukan pembuatan kaligrafi berbahan baku kanvas. 

SRIPOKU.COM,INDERALAYA -- Selain dibekali pendidikan formal, para santri pondok pesantren (Ponpes) Al-Ittifaqiah Inderalaya Kabupaten Ogan Ilir (OI), juga dibekali kemampuan informal di bidang seni, khususnya bidang seni kaligrafi. Kamis (24/11/2016).

Menurut Alhadi Arka selaku kepala Lemkafi menerangkan, umumnya mereka para santri membuat kaligrafi bertuliskan bahasa Arab. Kemudian, untuk pembuatan kaligrafi, berbagai macam jenis bahan digunakan antara lain bahan kanvas, kayu, bambu, triplek, dan pipa bekas. Sedangkan untuk pewarnaan, seperti biasa menggunakan bahan cat. Selanjutnya, proses pembuatan kaligrafi memakan waktu tiga sampai sepekan tergantung tingkat kerumitan desain kaligrafi yang akan dibuat.

"Lemkafi ini, sudah ada sejak 12 tahun yang lalu sampai sekarang, untuk anggotanya berjumlah 200 santri. Tujuan Lemkafi kita adalah mencetak santri yang terampil dan handal dalam hal pembuatan kaligrafi," terang Alhadi.

Ia menyatakan, Lemkafi ini, selain diperuntukkan bagi para santri. Lanjutnya, juga dibuka kursus umum bagi para siswa sekolah ysng tertarik untuk mempelajari kemampuan dalam membuat kaligrafi. Sementara, untuk pemasaran kaligrafi sendiri, rata-rata dijual keluar Kabupaten kota, umumnya di Palembang dari harga terendah senilai Rp 50 ribu sampai Rp 3 juta perkaligrafi, tergantung jenis dan bentuknya.

"Selain itu, melalui kegiatan-kegiatan event dalam bentuk bazaar. Kemudian, ada juga pihak sekolah yang sengaja datang ke galeri Lemkafi, sambil melihat-lihat, mereka tertarik untuk membeli," kata ketua Lemkafi Ponpes Al-Ittifaqiah.

Sementara itu, menurut Wahyu Pratama (15), santri Lemkafi yang juga siswa kelas XI MAN Al-Ittifaqiah mengatakan, bergabung dengan Lemkafi sejak dua tahun terakhir. Awalnya, sama sekali tidak bisa membuat kaligrafi. Lanjut Wahyu, setelah belajar dengan sungguh-sungguh ternyata membuat kaligrafi merupakan hobi yang sangat mengasyikkan. "Baru-baru belajar memang agak gerogi, apalagi pada proses pengerjaan bagian lekuk kaligrafi. Akan tetapi, kalau kita belajar dengan sungguh-sungguh, membuat kaligrafi tidak begitu sulit," kata Wahyu. Ia menyatakan, kemampuan membuat kaligrafi diperoleh dari para ustadz-ustadz pengajar yang ada di Ponpes Al-Ittifaqiah.

Penulis: Beri Supriyadi
Editor: wartawansripo
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved