Ungkapkan Gundah Hati Lewat Puisi
Sebagai pencinta puisi, sejumlah sastrawan di Palembang tak ingin melewatkan hari bersejarah tersebut tanpa melakukan kegiatan.
Penulis: Refli Permana | Editor: Ahmad Sadam Husen
SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Beberapa hari yang lalu, tepatnya 12 Oktober 2016, merupakan hari bersejarah bagi pencinta puisi. Pasalnya, tanggal tersebut ditetapkan sebagai Hari Puisi Indonesia yang peresmiannya sudah disepekati oleh sejumlah sastrawan Indonesia empat tahun silam.
Sebagai pencinta puisi, sejumlah sastrawan di Palembang tak ingin melewatkan hari bersejarah tersebut tanpa melakukan kegiatan. Sebab itu, sejumlah pencinta seni tutur ini membacakan sejumlah karya puisi, baik karya mereka sendiri hingga karya sastrawan-sastrawan ternama negeri ini. Mereka melakukannya di luar ruangan dengan mengangkat tema Bebas.
Dikatakan salah satu dari mereka sekaligus penggagas ide membacakan puisi di Hari Puisi Indonesia, Edwin Frast, kegiatan ini murni untuk menyalurkan hobi mereka pada puisi. Meski sebagian besar puisi yang dibacakan bertemakan kegundahan hati akan pemerintah, sama sekali tidak ada nuansa politis yang mendasari berlangsungnya kegiatan tersebut.
"Ini murni keinginan kita sendiri sebagai seniman yang mencintai puisi. Tujuannya supaya puisi bisa semakin hidup di Bumi Sriwijaya," kata Edwin, Sabtu (22/10).
Seperti tema yang diambil, Edwin mengatakan, kegiatan membaca puisi yang diikuti oleh sejumlah sastrawan lokal ini digelar di alam bebas. Adapun lokasi yang dipilih adalah kawasan DPRD Sumsel. Mengingat lokasi tersebut yang ramai, tak heran apa yang dilakukan Edwin dan teman-temannya mengundang perhatian mereka yang melintas.
Tak sedikit dari pengguna kendaraan ataupun mereka yang sekedar lewat berjalan kaki singgah sebentar untuk melihat. Ada juga yang mengabadikan pemandangan langka ini dengan kamera yang ada pada gadget milik mereka.
Meski menjadi pusat perhatian, Edwin dan teman-temannya tetap cuek. Mereka tampak tetap fokus membacakan syair-syair puisi yang sudah mereka pegang. Layaknya deklamator puisi, suara mereka begitu lantang. Intonasinya disesuaikan dengan bait yang sedang dibacakan. Karena bukan pelaku baru, tentu saja, deklamasi Edwin dan teman-temannya ini amatlah enak untuk didengar.
Dikatakan Edwin, dirinya mencetuskan ide ini dengan mengajak para penggiat seni di Palembang untuk ikut serta. Rupanya, ajakan pria yang sering terlibat dalam aksi kesenian teater ini direspon positif. Banyak yang merasa terpanggil untuk memeriahkan hari puisi di kota Palembang sehingga mau dilibatkan ikut membacakan puisi bertepatan dengan Hari Puisi Indonesia.
"Puisi-puisi yang kita bacakan sudah dipersiapkan jauh-jauh hari. Kita juga sudah berlatih," kata Edwin.
Mereka yang ikut diketahui bernama Ari Putra yang berstatuskan mahasiswa UIN Raden Fatah. Ia tampil dengan membacakan sajak Kucing karya Sutarji Calsum Bachri. Lalu Opan dari Universitas Tridinanti Palembang membaca sajak Doa Chairil. Disusul Rere dari mahasiswa Fakultas Hukum Unsri Indralaya, tampak berapi-api membacakan sajak Joki Tobing untuk Widuri.
"Terpanggil kita untuk meramaikan hari pusisi. Karena kemurnian panggilan itulah ikut berpasrtisipasi, dengan membaca puisi di jalanan, tidak seperti digedung yang dilombakan, ini tidak ada kamuflase," serunya.
Momentum ini, Edwin mengatakan, bukanlah sekedar ingin mencari sensasi ataupun unjuk gigi semata. Lebih dari itu, momen ini dipandangnya sebagai pintu masuk kebudayaan. Apa yang disampaikan melalui sajak-sajak puisi merupakan kegelisahan yang sudah menggila. Bagi seorang seniman, hanyalah suatu karya seni yang bisa dijadikan media untuk mengutarakan semua kegundahan tersebut. Entah mau didengar atau tidak, selagi kegundahan bisa diutarakan, mereka sudah merasa cukup puas.
Hari puisi, bagi Edwin, menurutnya mesti menjadi agenda besar dan tonggak penting khususnya di Sumsel. Dengan diadakan merupakan pemberian penghargaan penulis muda yang berbakat dan punya kreativitas. Untuk pemerintah juga supaya lebih diperbayak ruang budaya.
"Ada ruang satra, teater, gelanggang budaya kalau di Jakarta. Kita cuma baru ada graha budaya di Jakabaring" kata Edwin.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/seniman-puisi-palembang_20161022_125835.jpg)