Ini Cara Menyikapi Anak yang Aktif Bertanya

PR kita sebagai orangtua adalah 'meladeni' akan banyaknya pertanyaan dan akan berulangnya kembali pertanyaan serupa

Penulis: Abdul Hafiz | Editor: Sudarwan
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Psikolog, Renny Permataria Sari Psi, 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG - Terkadang ada yang salah membedakan anak yang hiperaktif dengan anak yang aktif bertanya dan bingung menyikapinya.

"Beda mas, antara anak yang aktif bertanya dengan perilaku hiperaktif. Kalo hiperaktif anak yang mengalami gangguan pemusatan perhatian. Berarti kita pembahasannya gak ke perilaku hiperaktif ya," ungkap Psikolog Renny Permataria Sari Psi, Rabu (19/10/2016).

Menurut Renny, anak yang aktif dalam bertanya menunjukkan bahwa kemampuan berbahasanya sedang berkembang.

Anak di usia 2 tahun sudah mulai banyak bertanya karena keingintahuannya. Usia antara 18 bulan-2 tahun, tahap berkembang kemampuan bahasanya.

"PR kita sebagai orangtua adalah 'meladeni' akan banyaknya pertanyaan dan akan berulangnya kembali pertanyaan serupa," kata Renny.

Apabila anak mulai menanyakan sesuatu, misalkan itu suatu barang ataupun mengenai warna, sebaiknya orangtua menjawabnya tidak hanya menerangkan dengan 1 kata saja. Misal anak bertanya tentang warna warna yang ia lihat.

"Kita selain menjawab warna tersebut, bisa kita beri contoh terkait warna tersebut dan juga kegunaan serta menunjukkannya (misalkan: warna merah lampu lalu lintas, buah strawberry, cabe, pena merah, dll) Sehingga kota kata dan pengetahuan anak semakin bertambah," terang Renny yang alumni Fakultas Psikologi-UNIKA Soegijapranata Semarang.

Apabila anak masih bertanya hal yang sama, sebaiknya orangtua tidak langsung menjawab.

Tetapi pertanyaan dikembalikan ke anak agar anak dapat menerangkannya sendiri sehingga orangtua dapat mengetahui kemampuan mereka serta beri anak pengertian mengenai etika atau sopan santun dalam berbicara.

Kapan anak harus menunda dulu keinginannya untuk berbicara pada saat orangtuanya sedang berbicara dengan orang lain.

"Tetapi beri pengertian dalam bahasa anak agar mudah dimengerti, tidak dengan bentakan atau nada keras, dikarenakan akan menimbulkan trauma sehingga anak dapat menjadi kurang percaya diri," ujar Renny yang juga anggota HIMPSI (himpunan Psikologi Indonesia) wilayah Sumsel.

Sumber: Sriwijaya Post
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved