Gubuk Syarif Beratap Terpal, Berlantai Bambu

Bermodal gubuk ukuran 4x2 meter berlantai bambu dan berdinding serta beratap terpal, dilokasi inilah kakek 60 tahun ini menyambung hidup.

Penulis: Yandi Triansyah | Editor: Ahmad Sadam Husen
SRIPOKU.COM/YANDI TRIANSYAH
Syarif penunggu gubuk di kawasan Jakabaring Palembang, Kamis (6/10/2016). 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Gubernur Sumsel, Ir. H. Alex Noerdin, meminta kepada Pemerintah Kota Palembang untuk mulai mensterilkan kawasan Jakabaring dari kesan kumuh. Mengingat ,Palembang pada 2018 mendatang akan menghelat pesta olahraga Asian Games 2018.

Alex, seusai menghadiri acara dua hari lalu di Jakabaring Sport City, sudah menyampaikan hal tersebut kepada Walikota Palembang, Harnojoyo dan Kasatpol PP Kota Palembang, Alex Fernandus. Ketiganya nampak akrab berbincang mengenai penertiban kawasan kumuh yang ada di sepanjang Jalan Gubernur H Bastari. Mengingat lokasi itu merupakan akses utama para tamu undangan menuju ke JSC.

Ditemui disela sela kesibukan, Kamis (6/10/2016), salah seornag pemilik gubuk di kawasan Jakabaring, Syarif, tengah sibuk melayani pesanan kopi dari pelanggan. Sejak beberapa tahun terakhir, Syarif berjualan di pinggir Jalan Gubernur H Bastari, Jakabaring. Bermodal gubuk ukuran 4x2 meter berlantai bambu dan berdinding serta beratap terpal, dilokasi inilah kakek 60 tahun ini menyambung hidup.

Hanya berjarak ratusan meter dari gubuknya tersebut, disanalah kompleks JSC berada. Berbagai event Nasional dan Internasional pernah dihelat di lokasi tersebut.

Tepat di depannya, mega proyek kereta ringan Light Rail Transit (LRT) berada. Beberapa tiang pun terlihat sudah berdiri tegak di antara barisan gubuk-gubuk tersebut.

Ironis memang, tapi keberadaan pekerja yang banyak datang ke Palembang menjadi berkah bagi para pemilik gubuk. Karena banyak pekerja LRT sering memesan minuman dan makanan ringan di lokasi tersebut.

"Baru beberapa tahun saya jualan, sejak ada pembangunan LRT," ujar Syarif mengawali cerita.

Syarif mengatakan, banyak pembeli yang datang ke gubuknya merupakan pekerja LRT. Mulai dari memesan kopi, makan pempek dan membeli minuman ringan lainnya, atau hanya sekedar mengobrol sambil berteduh.

"Mayoritas pekerja LRT, mereka sering pesan kopi," katanya.

Gubuk Syarif diketahui sudah beberapa kali didatangi petugas dari Satpol PP Palembang. Pada kedatangan pertama, petugas meminta gubuk dipindahkan ke bagian belakang. Jangan sampai gubuk berada berdampingan langsung dengan trotoar. Permintaan itu pun dikabulkan Syarif, ia memilih untuk memundurkan gubuknya ke belakang.

"Sudah pernah saya diminta mundurkan gubuk," katanya.

Menurut Syarif ,lahan tersebut bukan merupakan miliknya, melainkan hanya menumpang. Ia ikhlas jika nantinya diminta bongkar gubuknya. "Ya mau apalagi kalau memang dibongkar," katanya.

Syarif bukan satu-satunya pemilik gubuk di Sepenjang Jalan Gubernur H Bastari Palembang. Warga lainnya bernama Ani juga melakukan hal yang sama. Ia mendirikan gubuk bukan di lahan miliknya. Di gubuk itu ia berjualan sama seperti Syarif. Bahkan, Ani menginap di gubuk tersebut.

"Jualan sekalian menginap disini. Sudah setahunan," katanya.

Ani mengatakan, ia hanya menumpang untuk bisa menyambung hidup. Lagi pula banyak yang datang untuk sekedar ngopi-ngopi. "Sudah sering diperingatkan tapi mau gimana lagi, dengan cara beginilah kita mencari nafkah," katanya.

Sumber: Sriwijaya Post
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved