Heboh Beras Berkristal

Butiran Kristal Dalam Nasi Tak Meleleh Saat Dibakar

Untuk membuktikan butiran tersebut bukan beras, Sripo membakar satu sampel kristal selama satu menit. Hasilnya.....

SRIPOKU.COM/SYAHRUL HIDAYAT
Salah satu butiran kristal saat dibakar tidak meleleh. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG -- Untuk membuktikan butiran tersebut bukan beras, Sripo membakar satu sampel kristal selama satu menit. Hasilnya, butiran-butiran kristal itu tidak meleleh atau menimbulkan bau terbakar.

Sripo juga coba menelusuri hingga ke warung kelontong berukuran 5x2 meter tempat beras tersebut dibeli. Setelah ditelisik, beras seperti yang didapati sebelumnya itu diketahui sudah tidak ada lagi. Pedagang menjual beras umumnya dari talang atau desa dengan harga Rp 10 ribu per kilogram.

"Beras ini dari talang. Harganya Rp 10 ribu sekilonya," ujar pedagang itu singkat.

Menanggapi adanya beras bercampur butiran kristal, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumsel, Permana menerima dengan baik adanya laporan warga mengenai beras diduga oplosan tersebut. Ia menegaskan, selama ini pihaknya tidak pernah mendapati adanya laporan beras oplosan di Sumsel seperti Pulau Jawa.

"Laporan kita terima dengan baik, terima kasih. Kasus beras baru sekali ini. Selama ini tidak pernah ada beras-beras diduga oplosan tersebut," kata Permana saat mengecek langsung beras di Kantor Disperindag Sumsel.

Beras yang diduga oplosan itu pun kemudian diambil oleh pihak Disperindag Sumsel untuk nantinya diteliti di laboratorium. Terkait peredaran beras itu, Permana akan segera mengutus tim pengawas barang beredar. Pihaknya ingin menelusuri siapa dalang atau distributor yang sengaja menjual beras tersebut.

"Kita belum bisa menyimpulkan oplosan atau bukan. Akan kita teliti dulu ke lab, nanti baru tau hasilnya apa. Tim kita akan terjun untuk menyelidikinya," ujar Permana.
Permana mengatakan, pihaknya akan mengecek langsung ke lapangan.
Sementara terkait urusan izin masuknya beras ke berbagai daerah semuanya kembali ke pusat. Disperindag hanya bertugas melakukan pengecekan ke agen-agen dan distributor saja.

"Izinnya itu dari pusat. Kita tidak bisa bilang bagaimana prosedurnya. Kita hanya mengecek dan mengawasi saja. Intinya, laporan ini akan tindaklanjuti. Apabila kedapatan distributornya akan kita tindak tegas," ujar Permana.

Penulis: Odi Aria Saputra
Editor: Ahmad Sadam Husen
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved