Warga OKU Timur Keluhkan Sertifikat Prona Salah Ukur, BPN Bilang Hal Itu Wajar

Itu murni kesalahan kami, dan kami bersedia untuk memperbaikinya tanpa biaya.

Warga OKU Timur Keluhkan Sertifikat Prona Salah Ukur, BPN Bilang Hal Itu Wajar
ISTIMEWA
Ilustrasi 

SRIPOKU.COM, MARTAPURA - Sejumlah masyarakat yang sudah menerima sertifikat tanah terutama yang memanfaatkan prona mengeluhkan karena adanya kesalahan pengukuran denah lokasi yang diduga disebabkan oleh kesalahan pengukuran petugas.

Kesalahan denah dan peta tanah tersebut bisa memicu adanya konflik antara pemilik tanah karena bisa jadi dimanfaatkan oleh oknum untuk membuat sertifikat ganda.

"Contohnya seperti lokasi rumah saya yang seharusnya berada di titik A, namun dalam sertifikat berada di titik B atau C. Bisa saja nanti ada yang memanfaatkan dengan membuat sertifikat baru di titik A dan mengakui bahwa tanah yang ada di sertifikat titik B tadi merupakan miliknya. Tentu saja ini akan menjadi konflik antara kedua belah pihak bahkan bisa memicu pertikaian," ungkap salah satu warga yang kebingungan karena kesalahan pengukuran oleh petugas BPN tersebut.

Menurutnya, untuk memperbaiki kesalahan sertifikat tersebut masyarakat terkadang khawatir karena tentunya akan mengeluarkan biaya tambahan.

Saat pembuatan sertifikat awal mereka harus mengeluarkan uang sekitar Rp 1 Juta hingga Rp 1,5 Juta.

Sementara Kepala BPN Edison melalui Kassubag TU Muhammad Dini Asmadi ketika dikonfirmasi Jumat (9/9/016) mengatakan, kesalahan seperti itu merupakan hal yang wajar mengingat banyaknya sertifikat prona yang dikerjakan petugas dan tenggat waktu yang ditentukan dalam penyelesaian sertifikat prona tersebut.

Namun, kata dia, masyarakat tidak perlu khawatir karena pihaknya bersedia untuk memperbaiki kesalahan tersebut dan tidak dipungut biaya satu rupiah pun.

"Itu murni kesalahan kami, dan kami bersedia untuk memperbaikinya tanpa biaya. Masyarakat yang merasa ada kesalahan denah agar bisa menemui juru ukur agar diperbaiki. Itu kesalahan karena banyaknya yang harus dikerjakan petugas bahkan terkadang mereka sampai lembur untuk mengerjakannya," kata Dini.

Penulis: Evan Hendra
Editor: Sudarwan
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved