Modifikasi Udara Cegah Karhutla

Upaya tabur garam juga tidak terlepas berkat adanya dukungan sejak sepekan terakhir adanya awan Cumulonimbus yang membuat potensi hujan lebih cepat.

Modifikasi Udara Cegah Karhutla
SRIPOKU.COM/ABDUL HAFIZ
Plt Kepala BPBD Provinsi Sumsel, H Iriansyah. 

SRIPOKU.COM,PALEMBANG -- Beragam upaya dilakukan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumsel guna menekan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) pada tahun ini. Teranyar,‎ pemerintah akan melakukan modifikasi udara dengan menabur garam ke awan.

Plt Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel, Iriansyah mengatakan, saat ini Sumsel memang telah melewati masa kritis bencana kabut asap, akan tetapi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) masih tetap dilakukan agar bencana yang menghebohkan pada tahun kemarin ini tak lagi terulang.

Upaya tabur garam juga tidak terlepas berkat adanya dukungan sejak sepekan terakhir adanya awan Cumulonimbus yang membuat potensi hujan lebih cepat lagi.

"Cuaca sejak seminggu belakangan juga sangat mendukung. Berbeda saat awal Agustus kita kesulitan untuk memancing hujan turun," jelas Iriansyah, Senin (29/8/2016).

Untuk membantu pemerintah dalam melakukan TMC, BPPD sumsel menggunakan satu unit pesawat jenis Cassa 212. ‎ Upaya yang dilakukan nampaknya membuah hasil dimana hal itu terbukti dengan seringnya hujan turun hampir di seluruh wilayah Sumsel. Dengan demikian, titik api atau hot spot di kabupaten/kota Sumsel cenderung menurun.

‎"Kalau untuk hot spot masih fluktuatif di beberapa daerah. Tapi sejak beberapa hari terakhir sepertinya tidak terpantau karena hujan terus mengguyur di daerah kita," jelas dia.

Meski demikian, Sumsel tidak mengendurkan kewaspadaan untuk mencegah karhutla. Mengingat, di Bumi Sriwijaya terdapat 1,4 juta hektare lahan gambut yang mudah terbakar.

"Selain faktor cuaca ada juga peranan antar lembaga seperti TNI, Polri, BPPD, Manggala Agni dan lain-lain yang berperan aktif memadamkan api," jelas Iriansyah.

Sebelumnya BMKG Sumsel merilis bahwa puncak musim kemarau terjadi di Bulan Agustus dengan ditandai hujan di beberapa lokasi.

Sumsel sendiri sempat masuk ke dalam kategori zona merah atau rawan terbakar pada awal Agutus lalu. Namun status tersebut beralih ke zona biru atau aman sejak beberapa hari terakhir berkat tidak terpantaunya titik api berdasarkan analisis parameter yang dikeluarkan oleh BMKG Sumsel.

Penulis: Odi Aria Saputra
Editor: Ahmad Sadam Husen
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved