Mie Ramen jadi 'Komoditas Paling Berharga' di Penjara AS

Mie ramen telah mengambil alih posisi tembakau sebagai komoditas yang paling berharga di penjara Amerika Serikat, menurut studi terbaru.

Editor: Budi Darmawan
Mie Ramen jadi 'Komoditas Paling Berharga' di Penjara AS
getty
Mie ramen menjadi favorit karena murah, lezat dan kaya nutrisi, kata studi terbaru.

SRIPOKU.COM - Mie ramen telah mengambil alih posisi tembakau sebagai komoditas yang paling berharga di penjara Amerika Serikat, menurut studi terbaru.

Hasil penelitian itu menunjukkan reaksi para tahanan atas kebijakan pengurangan kuantitas dan kualitas makanan yang disediakan di penjara.

"Karena makanan itu murah, lezat, dan kaya kalori, ramen menjadi sangat bernilai jika digunakan sebagai alat penukar makanan lainnya," kata salah seorang peneliti Michael Gibson-Light.

Data di penjara AS menunjukkan anggaran pengeluaran tidak sesuai dengan jumlah tahanan.

Gibson-Light mengatakan staf dan tahanan di penjara yang dia kunjungi menyebutkan jumlah makanan yang disediakan terus berkurang selama beberapa dekade. Dia memperingatkan peralihan makanan itu akan menimbulkan implikasi yang serius.

Indonesia konsumen mie instan terbesar kedua di dunia
Kuliner Mie Aceh, antara isu ganja, hikmah tsunami dan GAM

"Para tahanan tidak begitu senang dengan kualitas dan kuantitas makanan di penjara dan mereka mulai tergantung pada mie ramen - yang harganya murah, produk makanan yang tahan lama - dapat digunakan sebagai alat tukar dalam kegiatan ekonomi bawah tanah," kata dia.

"Perubahan bentuk alat tukar ini tidaklah mudah dan jarang terjadi, meski itu dalam kegiatan ekonomi bawah tanah di penjara; dibutuhkan sebuah isu atau kejutan untuk memunculkan inisiatif perubahan seperti itu," jelas dia.
Sistem barter

Menurut Gibson-Light, mie digunakan sebagai alat tukar barang-barang kebutuhan para tahanan lainnya, seperti pakaian, peralatan mandi dan bahkan jasa pencucian atau membersihkan ranjang.

Para tahanan juga menggunakan mie sebagai alat taruhan ketika mereka bermain judi dengan menggunakan kartu atau pertandingan sepakbola.

Studi terbaru juga menemukan para tahanan juga mengganti bentuk-bentuk alat tukar tradisional lainnya di penjara, seperti perangko dan amplop.

Peralihan alat tukar ini terjadi dalam kelompok-kelompok yang berbeda di penjara dan bukan merupakan reaksi untuk melarang peredaran produk tembakau di dalam sistem penjara, kata Gibson-Light.

Dia meminta agar ada penelitian lanjutan mengenai dampak dari pengurangan makanan di penjara terhadap para tahanan.

AS menghabiskan anggaran sebesar $48,5 milliar atau sekitar Rp641 trilliun untuk para tahanan pada 2010, turun 5,6% dibandingkan 2009, menurut Biro Penjara AS. (BBC Indonesia)

Sumber: Tribunnews
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved