Murid SD Hilang Tenggelam di Sungai Lematang Muaraenim
Dapasha Agung Pratama alias Pasha (7) warga Desa Ulak Bandung, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Muaraenim, tenggelam di Sungai Lematang.
Penulis: Ardani Zuhri | Editor: Tarso
SRIPOKU.COM, MUARAENIM--- Diduga tidak bisa berenang, Dapasha Agung Pratama alias Pasha (7) warga Desa Ulak Bandung, Kecamatan Ujan Mas, Kabupaten Muaraenim, tenggelam di Sungai Lematang, Senin (22/8/2016).
Dari informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, bahwa kejadian tersebut Minggu (21/8) sekitar pukul 17.30. Pada saat itu, korban almarhum Dapasha Agung Pratama (7) bersama warga lainnya baru selesai menonton lomba bidar di Sungai Lematang di Desa Ulak Bandung.
Usai kegiatan, kemudian korban bersama ketiga temannya yakni Gandi (6), Rizki (6) dan Wadi (6) bermain-main di atas perahu ketek milik warga yang ditambatkan di pinggir Sungai Lematang.
Kemudian korban bersama ketiga temannya mandi dengan terjun dari atas perahu ketek. Namun setelah keempatnya terjun, tiga orang langsung timbul karena bisa berenang, sedangkan korban langsung tenggelam dan tidak timbul-timbul.
Melihat hal tersebut, ketiga temannya langsung pulang dan melaporkannya ke kakek korban. Kemudian kakek korban bersama warga lain bergegas melakukan pencarian namun hingga larut malam belum juga ditemukan.
Kemudian warga meminta bantuan tim SAR Basarnas Sumsel, BPBD Muaraenim, Pagaralam, PTBA dan PT PAMA untuk melakukan pencarian, tetapi sampai saat ini, korban belum berhasil ditemukan.
"Keponakan saya itu memang tidak bisa berenang. Bahkan ia sangat takut dengan air sungai. Makanya saya heran mengapa ia berani mandi di Sungai," ujar Satra Yuniarman (32) yang merupakan paman korban di lokasi pencarian.
Sastra, adik kandung ayah korban menambahkan, bahwa korban adalah anak pasangan Noviansyah SPd (35) dan Eva Anita SPd (31) anak pertama dari dua bersaudara. Korban, selama ini memang tidak pernah mandi di Sungai dan selalu mandi di rumah.
Korban memang tidak bisa berenang, dan rencananya baru akan diajak ayahnya belajar berenang di kolam renang.
Sedangkan menurut ketiga teman korban yang merupakan saksi sebelum korban tenggelam yakni Wadi (6), Rizki (6), Gandi (6) bahwa mereka tidak tahu kalau korban tidak bisa berenang.
Awalnya mereka bertiga dahulu terjun ke Sungai, sedangkan korban terakhir. Mereka bingung, ketika korban terjun tidak timbul-timbul. Lalu mereka laporkan ke kakek dirumahnya.
Sementara itu Danki tim Basarnas Sumsel Kemas Ismail didampingi Taufan, mereka mengerahkan 26 personil dan tujuh speedboat yakni tujuh personil dari Basarnas Sumsel, 10 personil dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Muaraenim, lima dari Pos SAR Pagar Alam, empat dari SAR PT PAMA dan delapan dari SAR PTBA.
"Mudah-mudahan hari ini, korban sudah bisa ditemukan," tambah Abu Bakar Ketua tim SAR Muaraenim
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/tunjuk-lokasi_20160822_230732.jpg)