Waspadalah Serangan FA Bisa Menyebabkan Stroke
33 persen Kejadian FA meningkat seiring usia 4 persen di usia 65 tahun dan 11 persen di usia 80 tahun.
Penulis: Andi Wijaya | Editor: Tarso
FIBRILASI ATRIUM dapat mengakibatkan Stroke. Fibrilasi Atrial (FA) merupakan gangguan irama jantung yang paling sering terjadi. 33 persen Kejadian FA meningkat seiring usia 4 persen di usia 65 tahun dan 11
persen di usia 80 tahun. Stroke akibat fibrilasi atrial merupakan masalah global yang dapat dicegah. Satu dari 6 kejadian stroke disebabkan oleh gangguan irama jantung .
Dr Mangiring P.L Toruan SpJP (K)-FIHA dari RSUP Dr Mohamad Hosein (RSMH), Palembang, mengatakan, apa itu Fibrilasi Atrial?, yakni Irama jantung normal bersifat teratur, diatur oleh impuls listrik pacu jantung yang harmonis, dimulai dari serambi jantung menuju ke bilik jantung.
"Fibrilasi atrial adalah munculnya fokus pemicu bergetarnya serambi jantung (atrium) secara acak, sehingga hantaran ke bilik jantung menjadi tidak teratur. Fibrilasi atrium dapat berupa sementara (paroksismal, hilang spontan dalam < 2 hari) atupun menetap/permanent," katanya.
Lanjutnya, mengapa fibrilasi atrial dapat menyebabkan stroke. Bergetarnya serambi jantung menyebabkan pemompaan darah menjadi tidak efektif sehingga sebagian darah hanya berputar-putar bebarapa kali di
serambi sebelum mencapai bilik jantung kiri mengakibatkan kecenderungan untuk membentuk bekuan darah.
"Bekuan ini terutama berkumpul di “kuping” serambi jantung kiri (left atrial appendage) ,
sewaktu-waktu dapat lepas ke bilik kiri kemudian masuk ke dalam sirkulasi otak dan menyumbat sirkulasi otak (stroke)," ungkapnya.
Beberapa kondisi yang menyebababkan resiko FA meningkat seperti usia> 60 tahun, sambungnya, yakni penyakit hipertensi, penyakit jantung koroner, gagal jantung kronis, penyakit katup jantung, gangguan tidur
(sleep apnea)," selain itu penyakit gondok, diabetes , penyakit paru kronis, alkoholik , merokok dan infeksi berat," bebernya.
Menurutnya, terkadang pasien FA tidak merasakan keluhan apapun. Namun yang paling sering adalah denyut jantung terasa tidak teratur atau berebar-debar, pusing, melayang, nyeri dada ataupun nafas terasa pendek saat aktivitas. Bagaiamana mendeteksi adanya FA ? Cara yang paling mudah adalah dengan meraba nadi sendiri. Alat yang standard adalah EKG (Elektrokardiogram).
"Namun apabila FA hilang timbul perlu dilakukan perekaman yang lebih lama yaitu dengan holter monitor (rekam jantung 1-7 hari) ataupun Implantable Loop Recorder (perekaman hingga 6 bulan )," katanya.
Pencegahan terbentuknya bekuan darah dapat berupa pemberian pengencer darah dapat berupa antiplatelet (aspilet atau klopidogrel) atau antikoagulan oral ( warfarin, dabigatran, apixaban dan rivaroxaban)
dengan target INR 2-3 atau penutupan kuping serambi kiri pada pasien yang mengalami perdarahan.
Lebih jauh ia mengatakan bagaimana penangan FA. Terdapat 3 hal yang harus diperhatikan dalam penanganan FA, yaitu obat atau tindakan untuk, pertama mengontrol laju (agar irama tidak terlalu cepat), lalu mengontrol irama (mengembalikan irama kembali normal) dan terakhir pencegahan terbentuknya bekuan darah.
"Sedangkan tindakan yang dapat dilakukan adalah kejut listrik (kardioversi) pada kasus darurat , dan ablasi radiofrekuensi (energy panas dengan kateteter)," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/palembang/foto/bank/originals/pasien-fa_20160816_234238.jpg)