Teknologi dan Gagdet

Menkominfo: "Pokemon Go" Tidak Berbahaya

Pria yang akrab disapa Chief RA ini menolak jika orang menyebut Pokemon Go tidak aman.

Menkominfo:
SRIPOKU.COM/IGUN BAGUS SAPUTRA
Sejumlah gamer Pokemon Go yang tergabung dalam komunitas Pokemon Go Palembang berkumpul di Kambang Iwak Park, Sabtu (16/7/2016). 

SRIPOKU.COM, JAKARTA -- Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Rudiantara mengatakan Pokemon Go bukan permainan berbahaya. Namun sebagai antisipasi, dirinya sudah dua kali menemui Google Indonesia untuk bicara mengenai pembatasan permainan tersebut.

Maksud pembatasan ini bukanlah soal pemblokiran. Rudiantara hanya meminta Google, yang petanya digunakan sebagai bahan dasar permainan tersebut, supaya tidak memasukkan peta berisi objek-objek vital nasional, yaitu istana negara, kantor polisi, perusahaan listrik negara dan sejenisnya.

“Saya sudah ketemu dengan Google di Jakarta, kemarin. Ini kan permainan milik perusahaan yang jadi bagian mereka (Niantic) dan memakai data pemetaan dari Google Maps. Karena itu saya minta untuk tidak memakai peta objek vital nasional di dalamnya,” terangnya ditemui KompasTekno usai acara Penandatanganan Pembiayaan Bank Mandiri untuk Palapa Ring Paket Barat di Jakarta, Senin (25/7/2016).

"Pokoknya kita menyarankan agar Google menyebar Pokemon ke tempat yang produktif. Seperti museum, lokasi wisata dan banyak lagi lainnya," imbuhnya.

Pria yang akrab disapa Chief RA ini menolak jika orang menyebut Pokemon Go tidak aman; dalam arti bisa dimanfaatkan untuk memata-matai objek tertentu. Menurutnya Pokemon Go sama saja dengan permainan biasa, bedanya ini menjadi sangat populer.

Masyarakat yang memainkan Pokemon Go hanya harus berhati-hati saat memainkan permainan tersebut. Jangan sampai ada orang yang celaka karena mengemudi sambil berusaha menangkap monster.

Selain itu, mesti dipikirkan juga bagaimana caranya agar orang-orang memainkannya pada situasi yang tepat dan tidak mengganggu produktivitas. Misalnya, jangan sampai orang memainkan Pokemon Go saat sedang bekerja atau sedang sekolah.

“Pokemon Go kan sama saja dengan permainan biasa. Kalau soal orang berkendara lalu menabrak karena mencari Pokemon, yang salah itu pemainnya. Kan sejak sebelum ada permainan itu juga sudah ada larangan berkendara sambil main handphone,” ujarnya.

“Saya sempat bicara dengan Profesor Sarlito Wirawan (seorang psikolog), dia juga mengatakan bahwa Pokemon Go ini sedang hype saja tapi pada titik tertentu nanti akan mereda,” pungkas Chief RA.

Editor: Soegeng Haryadi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved