Festival Sriwijaya XXV

Warung Terapung Mengingatkan Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Festival Sriwijaya XXV di Benteng Kuto Besak Palembang menggelar Floating Market di Sungai Musi yang menyediakan kuliner khas Sumsel.

Warung Terapung Mengingatkan Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya
SRIPOKU.COM/ANDI WIJAYA
Salah satu stand warung terapung dari Kabupaten Lahat yang ikut memeriahkan Festival Sriwijaya XXV di BKB Palembang. 

SRIPOKU.COM, PALEMBANG--Hingga dibukanya event Festival Sriwijaya XXV, kemarin. ada yang menarik  saat berkunjung ke Festival Sriwijaya yang digelar di Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang. Untuk mengenang Kejayaan Sriwijaya, panitia pun mengelar floating market dengan konsep berjualan di sungai Musi dengan perahu hias.

Diketahui, floating market ini sendiri diisi oleh dinas-dinas pariwisata dari kabupaten dan kota di Sumsel. Seperti dari Kabupaten Lahat, Muara Enim, Empatlawang, Muaratara, Kota Palembang, OKI (Ogan Komering
Ilir, OKU Selatan dan Muba.

"Selain 30 stan kuliner ini, ada lagi stan-stan dengan menggunakan kapal hias, yakni floating market yang diisi oleh dinas-dinas pariwisata Kabupaten kota," ungkap Tiurma, sebagai Koordinator Festival Kuliner,
ketika ditemui di BKB, Selasa (19/7).

Kepala Seksi Usaha, Jasa dan Sarana Pariwisata, Pemprov ini, menuturkan, festival Sriwijaya tahun ini beda dengan tahun kemarin.

"Kalau tahun kemarin kita utamanya tentang kebudayaan-kebudayaan kabupaten kota, tahun ini fesfival Sriwijaya tentang kuliner tradisional Sumatera Selatan," ungkapnya.

Tentang kapal terapung, lanjut Tiurma, pihaknya kemarin sudah menyedikan 17 tempat untuk berjualan terampung. Namun yang mengisi dan terdaftar ada 11 Kabupaten Kota (Kapal Terapung).

"Disana kita juga berbelanja menggunakan kupon. Jadi kita mengingat mundur kembali, dengan konsep berjualan di sungai Musi, seperti itulah kita mengenal kembali," katanya.

Mengutip kata Gubenur,  Tiurma menyebutkan, masyarakat Sumsel harus mencintai Sumatra Selatan. "Bagaimana kita membangun Sumsel ini, Kalau kita tidak mencintainya, bagaimana kita membangunnya. Untuk menumbuh rasa cinta itu, kita harus mengetahui sejarah-sejarah yang ada. Serta kejayaan Sriwijaya dan bagaimana masakannya," bebernya.

Kembali Tiurma mencontokan seperti makanan pindang, segala makanan pindang ada disini festival Sriwijaya kali ini. Mulai dari pindang telur ikan gabus, ikan, tulang, banyak jenisnya," Semua ini harus kita ketahui, berbagai kuliner ada di Sumatera Selatan. Jika ingin mencicipi makanan tersebut, untuk 1 porsi pindang telur ikan gabus, diharga Rp 25 ribu dan untuk 1 Porsi mie celor diharga Rp 15 ribu, kedua makan ini sangat farovit,"katanya.

Kedepan diharapkan generasi penerus bisa tahu sejarah Sriwijaya, ini dikarenakan banyak anak-anak sekarang tidak mengetahui sejarah Sriwijaya.

" Seperti tarian kolosal saat pembukan kemarin, sejarah bagaimana. Lalu seperti permainan ular tangga. Permainan tradisonal, mungkin anak-anak sekarang tidak kenal lagi permainan ini, jadi kita adakan permaianan ini di festival sekarang. Siapa yang mau bermain tidak dipunggut biaya," katanya.

Penulis: Andi Wijaya
Editor: Tarso
Sumber: Sriwijaya Post
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved